Trump memulai proses penarikan AS dari WHO. Ahli kesehatan khawatir kemampuan global menanggulangi pandemi akan melemah.
WHO bertanggung jawab mengoordinasikan pemantauan penyakit serta menangani keadaan darurat kesehatan globalFoto: Denis Balibouse/REUTERS
Iklan
Amerika Serikat (AS) resmi keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), setahun setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana penghentian keikutsertaan negaranya dalam lembaga kesehatan global tersebut.
Penarikan diri ini mengakhiri keterlibatan Amerika Serikat selama 78 tahun di WHO. Trump telah menyampaikan pemberitahuan resmi kepada badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu pada hari pertama masa jabatannya di tahun 2025, setelah menandatangani perintah eksekutif.
Sesuai aturan, terdapat masa tunggu selama satu tahun sebelum keputusan tersebut berlaku penuh.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut alasan penarikan antara lain, "penanganan pandemi COVID-19 yang buruk" dan "krisis kesehatan global lain." Dia juga menyatakan bahwa keanggotaan AS menimbulkan "pembayaran yang tidak adil dan memberatkan."
"Hari ini, Amerika Serikat telah menarik diri dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan membebaskan diri dari berbagai pembatasan yang ada," bunyi pernyataan bersama Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. yang dipublikasikan pada Kamis (22/01).
Kembali Berkuasa, Trump Bikin Kebijakan Baru yang Kontroversial
Setelah dilantik kembali pada 20 Januari 2025, Donald Trump memperkenalkan kebijakan kontroversial seperti tarif tinggi, pembekuan dana internasional, hingga perubahan kebijakan luar negeri yang memicu ketegangan global.
Foto: Evan Vucci/AP Photo/picture alliance
Deportasi migran ilegal
Dalam pidato pelantikannya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan niat mendeportasi 'jutaan dan jutaan' migran ilegal. Pada minggu pertama Trump menjabat, hampir 2.400 migran ditangkap ICE, terutama yang pernah terjerat kasus hukum. Kongres AS juga telah meloloskan Lakes Riley Act, yang memungkinkan penahanan migran tanpa status sah untuk kejahatan berat dan pelanggaran ringan.
Foto: Isaac Guzman/AFP
AS mundur dari Perjanjian Paris
Pada hari pertama menjabat, Trump mengeluarkan perintah eksekutif untuk menarik AS dari Perjanjian Paris, yang kedua kalinya ia lakukan. Tindakan ini menuai kontroversi. "Emisi AS berperan besar dalam menentukan apakah kita bisa tetap di bawah batas 2 derajat dan 1,5 derajat," kata Laura Schäfer dari LSM lingkungan dan HAM, Germanwatch.
Foto: JIM WATSON/AFP
Hengkang dari WHO
Trump menarik Amerika Serikat keluar dari WHO. Para ahli memperingatkan langkah ini akan menghambat penanganan wabah penyakit dan masalah kesehatan global. Namun, resolusi kongres mengharuskan pemberitahuan satu tahun dan pelunasan kewajiban sehingga perintah ini baru berlaku penuh Januari 2026. Trump juga menghentikan transfer dana AS ke WHO, yang berdampak pada pendanaan organisasi tersebut.
Foto: Maksym Yemelyanov/Zoonar/picture alliance
Ganti nama Teluk Amerika
Presiden Trump menandatangani dekret untuk mengganti nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika dan mengembalikan nama Gunung Denali di Alaska menjadi McKinley. Dalam posting di X pada 27 Januari 2025, Google menyatakan akan mengikuti praktik lama untuk menerapkan perubahan nama lokasi sesuai pembaruan resmi pemerintah yang merujuk pada Geographic Names Information System (GNIS).
Foto: Roberto Schmidt/AFP/Getty Images
Rencana setop hibah dan pinjaman federal
Pada Senin (27/01), Trump menginstruksikan badan-badan federal untuk menghentikan sementara pencairan hibah dan pinjaman federal di seluruh AS. Kebijakan ini dianggap mengancam program vital seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, dan bantuan bencana. Namun, seorang hakim federal memblokir sementara rencana tersebut beberapa menit sebelum kebijakan dijadwalkan berlaku pada Selasa (28/01) malam.
Foto: Jim Watson/AFP/Getty Images
Larang atlet transgender di olahraga perempuan
Trump menandatangani perintah eksekutif yang melarang atlet transgender berkompetisi dalam olahraga perempuan dan anak perempuan, Rabu (05/02). Langkah ini merupakan bagian dari serangkaian tindakan untuk membatasi hak LGBTQ+. Perintah ini juga menyatakan bahwa negara hanya akan mengakui dua jenis kelamin, pria dan perempuan. Sekolah yang melanggar aturan ini berisiko kehilangan dana federal.
Foto: Andres Caballero-Reynolds/AFP
Pembekuan dana USAID ke 130 negara
Keputusan Presiden Trump untuk menangguhkan dana bantuan USAID telah menghentikan proyek-proyek di sekitar 130 negara, termasuk Indonesia, berdampak dramatis pada jutaan orang dan pekerja bantuan. Trump menuduh USAID melakukan pemborosan, dengan menulis di Truth Social, "Sepertinya miliaran dolar telah dicuri di USAID.” Namun, ia tidak memberikan bukti apa pun.
Foto: Sofia Toscano/colprensa/dpa/picture alliance
Satgas DOGE untuk efisiensi
Satuan Tugas Department of Government Efficiency (DOGE) dibentuk Presiden AS Donald Trump untuk merombak sistem birokrasi federal. DOGE, yang dipimpin oleh Elon Musk, bertujuan mengurangi peraturan, pengeluaran, dan staf pemerintah. Banyak pihak mengkritik minimnya transparansi dalam perekrutan tim DOGE dan mempertanyakan jika tim tersebut telah melalui pemeriksaan terkait kesesuaian dan keamanan.
Foto: Andrew Harnik/Getty Images via AFP
Keinginan AS ambil alih Gaza
Presiden Trump mengusulkan agar AS mengambil alih Jalur Gaza. Usulan ini disampaikan saat kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke AS, Selasa (04/02). "AS akan mengambil alih Jalur Gaza dan kami juga akan melakukan sebuah pekerjaan. Kami akan memilikinya. Dan bertanggung jawab untuk membongkar semua bom berbahaya yang belum meledak dan senjata lainnya di tempat tersebut," kata Trump.
Foto: Khalil Ramzi/REUTERS
Kenaikan tarif impor baja dan alumunium
Trump mengumumkan tarif 25% untuk impor baja dan aluminium, berlaku Maret 2025. Kebijakan ini bertujuan "membuat Amerika kaya kembali," kata dia. Namun, banyak ekonom menolak asumsi ini, dan menyatakan justru merugikan semua pihak. Tarif dimaksudkan melindungi produsen dalam negeri, tetapi industri AS masih bergantung pada impor logam, yang dapat meningkatkan biaya produksi dan memicu inflasi.
Foto: IMAGO/Newscom / AdMedia
10 foto1 | 10
Sengketa iuran anggota
Penarikan diri AS dari WHO dinilai berlangsung tidak mulus. Pemerintah AS masih menghadapi sejumlah persoalan yang belum tuntas sejak keputusan keluar diumumkan.
Iklan
Menurut WHO, AS masih memiliki tunggakan iuran lebih dari 130 juta dolar (sekitar Rp1,95 triliun). Namun, besaran dan status pembayaran tersebut masih menjadi sumber ketidakpastian dan perbedaan pandangan antara kedua pihak.
Seorang juru bicara WHO mengatakan, negara-negara anggota dijadwalkan membahas kepergian Amerika Serikat serta mekanisme penanganannya dalam rapat dewan eksekutif WHO pada Februari mendatang.
Pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump mengakui masih ada sejumlah isu yang belum terselesaikan, termasuk potensi hilangnya akses Amerika Serikat terhadap data kesehatan dari negara lain yang selama ini berfungsi sebagai sistem peringatan dini terhadap munculnya pandemi baru.
Dalam setahun terakhir, banyak pakar kesehatan global mendesak agar keputusan tersebut ditinjau ulang. Seruan serupa juga disampaikan oleh Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, yang menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam menghadapi ancaman kesehatan global.
Pakar khawatir keamanan kesehatan global melemah
Sepanjang tahun 2025, sejumlah pakar kesehatan global memperingatkan bahwa penarikan diri Amerika Serikat dari WHO dapat melemahkan kemampuan AS dan WHO dalam menangani wabah penyakit dan ancaman kesehatan global.
Selama ini, perlu diketahui bahwa Amerika Serikat merupakan penyumbang dana terbesar bagi WHO. Lembaga kesehatan khusus PBB tersebut memiliki mandat untuk mengoordinasikan kesiapsiagaan menghadapi wabah penyakit, seperti mpox, Ebola, dan polio.
WHO juga memberikan bantuan teknis kepada negara-negara berpenghasilan rendah, membantu distribusi vaksin yang jumlahnya terbatas, serta menetapkan pedoman penanganan ratusan kondisi kesehatan, termasuk kesehatan mental dan kanker.
"Saya berharap Amerika Serikat akan mempertimbangkan kembali keputusannya dan bergabung lagi dengan WHO," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam konferensi pers awal bulan ini. "Penarikan diri dari WHO merupakan kerugian bagi Amerika Serikat dan juga kerugian bagi seluruh dunia."
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris.