Pemerintahan Trump mendukung warga kulit putih Afrika Selatan pindah ke AS dengan alasan mereka dipersekusi. Afrika Selatan membantahnya dan menyebut klaim itu sebagai narasi kelompok sayap kanan ekstrem:
Pejabat AS menyambut 'pengungsi' kulit putih Afrika Selatan dengan mengatakan 'selamat datang di tanah kebebasan'Foto: Julia Demaree Nikhinson/AP/picture alliance
Iklan
Sebanyak 59 warga kulit putih Afrika Selatan disambut sebagai “pengungsi” di Amerika Serikat oleh pemerintahan Trump. Kedatangan mereka terjadi di tengah kritik terhadap kebijakan Gedung Putih yang tengah gencar menangkap dan mendeportasi imigran.
“Selamat datang di negeri kebebasan,” kata Wakil Menteri Luar Negeri AS, Christoph Landau, saat menyambut rombongan tersebut.
“Saya ingin kalian tahu bahwa kalian benar-benar diterima di sini dan kami menghormati apa yang telah kalian alami dalam beberapa tahun terakhir,” kata Landau kepada kelompok Afrikaner tersebut, yang banyak di antaranya membawa bendera AS.
Para warga kulit putih Afrika Selatan itu tiba di Washington menggunakan pesawat carteran pribadi yang kabarnya dibiayai oleh Departemen Luar Negeri AS.
Dari sana, mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke berbagai tujuan di AS.
Kembali Berkuasa, Trump Bikin Kebijakan Baru yang Kontroversial
Setelah dilantik kembali pada 20 Januari 2025, Donald Trump memperkenalkan kebijakan kontroversial seperti tarif tinggi, pembekuan dana internasional, hingga perubahan kebijakan luar negeri yang memicu ketegangan global.
Foto: Evan Vucci/AP Photo/picture alliance
Deportasi migran ilegal
Dalam pidato pelantikannya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan niat mendeportasi 'jutaan dan jutaan' migran ilegal. Pada minggu pertama Trump menjabat, hampir 2.400 migran ditangkap ICE, terutama yang pernah terjerat kasus hukum. Kongres AS juga telah meloloskan Lakes Riley Act, yang memungkinkan penahanan migran tanpa status sah untuk kejahatan berat dan pelanggaran ringan.
Foto: Isaac Guzman/AFP
AS mundur dari Perjanjian Paris
Pada hari pertama menjabat, Trump mengeluarkan perintah eksekutif untuk menarik AS dari Perjanjian Paris, yang kedua kalinya ia lakukan. Tindakan ini menuai kontroversi. "Emisi AS berperan besar dalam menentukan apakah kita bisa tetap di bawah batas 2 derajat dan 1,5 derajat," kata Laura Schäfer dari LSM lingkungan dan HAM, Germanwatch.
Foto: JIM WATSON/AFP
Hengkang dari WHO
Trump menarik Amerika Serikat keluar dari WHO. Para ahli memperingatkan langkah ini akan menghambat penanganan wabah penyakit dan masalah kesehatan global. Namun, resolusi kongres mengharuskan pemberitahuan satu tahun dan pelunasan kewajiban sehingga perintah ini baru berlaku penuh Januari 2026. Trump juga menghentikan transfer dana AS ke WHO, yang berdampak pada pendanaan organisasi tersebut.
Foto: Maksym Yemelyanov/Zoonar/picture alliance
Ganti nama Teluk Amerika
Presiden Trump menandatangani dekret untuk mengganti nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika dan mengembalikan nama Gunung Denali di Alaska menjadi McKinley. Dalam posting di X pada 27 Januari 2025, Google menyatakan akan mengikuti praktik lama untuk menerapkan perubahan nama lokasi sesuai pembaruan resmi pemerintah yang merujuk pada Geographic Names Information System (GNIS).
Foto: Roberto Schmidt/AFP/Getty Images
Rencana setop hibah dan pinjaman federal
Pada Senin (27/01), Trump menginstruksikan badan-badan federal untuk menghentikan sementara pencairan hibah dan pinjaman federal di seluruh AS. Kebijakan ini dianggap mengancam program vital seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, dan bantuan bencana. Namun, seorang hakim federal memblokir sementara rencana tersebut beberapa menit sebelum kebijakan dijadwalkan berlaku pada Selasa (28/01) malam.
Foto: Jim Watson/AFP/Getty Images
Larang atlet transgender di olahraga perempuan
Trump menandatangani perintah eksekutif yang melarang atlet transgender berkompetisi dalam olahraga perempuan dan anak perempuan, Rabu (05/02). Langkah ini merupakan bagian dari serangkaian tindakan untuk membatasi hak LGBTQ+. Perintah ini juga menyatakan bahwa negara hanya akan mengakui dua jenis kelamin, pria dan perempuan. Sekolah yang melanggar aturan ini berisiko kehilangan dana federal.
Foto: Andres Caballero-Reynolds/AFP
Pembekuan dana USAID ke 130 negara
Keputusan Presiden Trump untuk menangguhkan dana bantuan USAID telah menghentikan proyek-proyek di sekitar 130 negara, termasuk Indonesia, berdampak dramatis pada jutaan orang dan pekerja bantuan. Trump menuduh USAID melakukan pemborosan, dengan menulis di Truth Social, "Sepertinya miliaran dolar telah dicuri di USAID.” Namun, ia tidak memberikan bukti apa pun.
Foto: Sofia Toscano/colprensa/dpa/picture alliance
Satgas DOGE untuk efisiensi
Satuan Tugas Department of Government Efficiency (DOGE) dibentuk Presiden AS Donald Trump untuk merombak sistem birokrasi federal. DOGE, yang dipimpin oleh Elon Musk, bertujuan mengurangi peraturan, pengeluaran, dan staf pemerintah. Banyak pihak mengkritik minimnya transparansi dalam perekrutan tim DOGE dan mempertanyakan jika tim tersebut telah melalui pemeriksaan terkait kesesuaian dan keamanan.
Foto: Andrew Harnik/Getty Images via AFP
Keinginan AS ambil alih Gaza
Presiden Trump mengusulkan agar AS mengambil alih Jalur Gaza. Usulan ini disampaikan saat kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke AS, Selasa (04/02). "AS akan mengambil alih Jalur Gaza dan kami juga akan melakukan sebuah pekerjaan. Kami akan memilikinya. Dan bertanggung jawab untuk membongkar semua bom berbahaya yang belum meledak dan senjata lainnya di tempat tersebut," kata Trump.
Foto: Khalil Ramzi/REUTERS
Kenaikan tarif impor baja dan alumunium
Trump mengumumkan tarif 25% untuk impor baja dan aluminium, berlaku Maret 2025. Kebijakan ini bertujuan "membuat Amerika kaya kembali," kata dia. Namun, banyak ekonom menolak asumsi ini, dan menyatakan justru merugikan semua pihak. Tarif dimaksudkan melindungi produsen dalam negeri, tetapi industri AS masih bergantung pada impor logam, yang dapat meningkatkan biaya produksi dan memicu inflasi.
Foto: IMAGO/Newscom / AdMedia
10 foto1 | 10
Alasan Trump terima "pengungsi" warga kulit putih Afrika Selatan
Afrikaner merujuk pada kelompok etnis kulit putih yang sebagian besar merupakan keturunan pemukim Belanda, Jerman, dan Prancis.
Iklan
Para pemimpin Afrikaner pernah memimpin Afrika Selatan selama rezim apartheid, yang dikenal dengan kebijakan pemisahan ras yang brutal dan represi terhadap warga kulit hitam.
Pada hari Senin (12/05), Presiden AS Donald Trump mengulang kembali klaim kontroversial dan populer di kalangan sayap kanan bahwa para petani kulit putih di Afrika Selatan sedang “dibunuh” dan bahkan menghadapi “genosida.”
Afrika Selatan memang memiliki tingkat kejahatan kekerasan yang tinggi. Meski warga kulit putih juga menjadi korban kekerasan dan pembunuhan, berdasarkan data statistik kriminal negara tersebut tidak menunjukkan bahwa kelompok Afrikaner menjadi sasaran utama.
Pemerintah Afrika Selatan dengan tegas menolak klaim tersebut.
“Petani kulit putih terdampak kejahatan sama seperti warga Afrika Selatan lainnya yang juga terkena dampak kejahatan,” kata Menteri Luar Negeri Ronald Lamola, Senin.
Pemerintahan Trump juga dituduh keliru telah menuding pemerintah Afrika Selatan menyita tanah milik petani kulit putih.
Tuduhan itu merujuk pada undang-undang baru mengenai pengambilalihan tanah, yang mirip dengan kebijakan di negara lain, dan bertujuan memudahkan negara untuk mengambil tanah tanpa kompensasi jika dianggap untuk kepentingan publik. Meski hingga kini, belum ada tanah yang disita tanpa kompensasi dengan aturan tersebut.
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Trump, yang telah menghentikan bantuan luar negeri untuk Afrika Selatan, mengatakan ia berencana membahas isu ini dengan para pemimpin negara tersebut pekan depan.
Keputusan menyambut warga kulit putih Afrika Selatan, sementara di saat yang sama mendeportasi banyak warga non-kulit putih dari AS, membuat banyak orang meragukan niat sebenarnya dari kebijakan ini.
Trump menandatangani perintah eksekutif pada Februari lalu, yang memungkinkan Afrikaner mengajukan status pengungsi. Keputusan ini datang hanya sebulan setelah ia menangguhkan penerimaan pengungsi dari negara-negara lain.
Trump membantah bahwa ia mendukung warga Afrika Selatan karena warna kulit mereka, dengan menyatakan bahwa “ras mereka tidak membuat perbedaan bagi saya.”
Nelson Mandela
Ia mengabdikan hidupnya untuk menentang apartheid. Nelson Mandela menjadi presiden kulit hitam Afrika Selatan pertama.
Foto: AP
Selamat Jalan Mandela!
Selalu tersenyum, begitulah dunia mengenal dan mengenang Nelson Mandela. Pejuang anti Apartheid ini wafat dalam usia 95 dahun di Johannesburg. Nelson Mandela dilahirkan pada 18 Juli 1918 di Mvezo, dengan nama "Rolihlahla". Mandela merupakan yang pertama dalam keluarganya yang belajar menulis dan membaca.
Foto: Reuters
Masa Muda
Nelson Mandela dalam foto yang diambil tahun 1937 ketika ia menjalani pendidikan di sekolah misionaris di Healdtown. Mandela lahir pada tanggal 18 Juli 1918 di Eastern Cape. Nama Inggris Nelson ia dapatkan di sekolah. Mandela pernah menikah sebanyak tiga kali. Dari dua pernikahannya ia dikaruniai enam anak.
Foto: DW
Apartheid
Papan pengumuman seperti tampak dalam foto merupakan pemandangan yang biasa ketika Mandela tumbuh dewasa. Pemisahan rasial diterapkan di semua bidang kehidupan: tempat berbeda bagi orang kulit hitam dan putih di kereta api atau bis, pintu masuk terpisah di rumah sakit, balai kota dan bank. Demikian pula, wilayah tempat tinggal dipisah.
Foto: AP
Aktivis Muda
Ketika ia dipaksa untuk menikah, Mandela melarikan diri ke Johannesburg dan kemudian kuliah hukum. Setelah lulus, ia mendirikan firma hukum kulit hitam pertama di negara itu. Ketika menjadi mahasiswa ia telah aktif dalam politik membela hak kaum hitam. Pada tahun 1942 ia bergabung dengan gerakan pembebasan, Kongres Nasional Afrika (ANC), dan kemudian mendirikan organisasi pemuda ANC.
Foto: AP
ANC Dilarang
Pada tahun 1956, Mandela (ketiga dari kiri) bersama dengan 155 aktivis lainnya dituduh melakukan penghianatan kepada negara, karena aktivitasnya dalam memimpin kampanye anti apartheid. Sidang pengadilan terhadapnya, yang berlangsung selama empat setengah tahun, akhirnya memvonis Mandela bebas. Pada tahun 1960 pemerintah melarang ANC dan kelompok anti apartheid lainnya.
Foto: AP
Vonis Seumur Hidup
1964: Massa berkumpul di depan gedung pengadilan, tempat berlangsungnya proses hukum terhadap Nelson Mandala dan aktivis anti Apartheid lainnya. Dalam peristiwa yang disebut proses Rivonia itu Nelson Mandela divonis bersalah dengan dakwaan makar dan mendapat hukuman penjara sumur hidup
Foto: Bailey's Archives
Penjara
Dalam sel sempit penjara di Pulau Robben inilah Mandela mendekam selama 18 tahun. Setelah pelarangan ANC di tahun 1960, Mandela mendirikan organisasi sayap militan ANC "Spear of The Nation“. Pada bulan Agustus 1962 ia ditangkap dan kemudian dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dengan tuduhan sabotase dan perencanaan perjuangan bersenjata.
Foto: cc-by-sa- Paul Mannix
Perjuangan terus berlangsung
Selama Nelson Mandela dipenjara, aktivis-aktivis lain mengobarkan perang terhadap rejim Apartheid - antara lain bekas isterinya, Winnie Mandela (tengah). Ia tumbuh menjadi pemimpin oposisi melawan pemerintahan minoritas putih.
Foto: AP
Mandela, Sang Petinju
Semasa remaja Nelson Mandela menggemari tinju. "Di atas ring, usia, pangkat, warna kulit dan harta tidak berperan," katanya menggambarkan kecintaannya kepada olahraga ini. Selama di penjara ia juga aktif menjaga kebugaran: antara lain mengangkat beban, push up dan berbagai jenis olahraga lainnya.
Foto: Getty Images
Hari Pembebasan
11 Februari 1990: Nelson Mandela bersama Winnie bergandengan tangan menyambut masa yang menantinya. Setelah mendekam selama 27 tahun di penjara, atas tekanan masyarakat internasional akhirnya Mandela dibebaskan. Pada hari kebebasannya, di depan 120 ribu pendukungnya ia berpidato menyampaikan politik rekonsilasi.
Foto: picture-alliance/ dpa
Nobel Perdamaian
Mandela dibebasakan setelah mendekam di penjara selama 27 tahun. Presiden Afrika Selatan kala itu, F.W. de Klerk (kanan) memerintahkan pencabutan larangan bagi ANC. Di hari pembebasannya, Mandela menyampaikan pidato rekonsiliiasi. Atas jasanya dalam menghapus politiik apartheid di Afrika Selatan, de Klerk dan Mandela dianugrahi penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun 1993.
Foto: AP
Presiden
Pada tanggal 9 Mei 1994, ANC memenangkan pemilu demokratis pertama di Afrika Selatan. Nelson Mandela ditunjuk parlemen menjadi presiden kulit hitam pertama di negara itu. Sebagai kepala negara dan pemimpin ANC, ia memimpin transformasi negara dan masyarakat Afrika Selatan. Ia mendapat penghormatan internasional atas upayanya bagi perdamaian di seluruh dunia
Foto: AP
Perang Irak
Antara tahun 2002-2003, Mandela menyampaikan beberapa pidato yang mengundang kontroversi, seputar Perang Irak yang dijalankan Bush dan Blair. Ia mengatakan, Bush merupakan seorang yang sombong dan rasis. Ia juga mengecam kurangnya keterlibatan PBB dalam mengambil keputusan mengenai Perang Irak. Pada musim gugur 2002, Mandela menyambut mantan wakil perdana menteri Irak, Tariq Aziz, di Johannesburg.
Foto: AP
Kawan Seperjuangan
Mandela menjalin persahabatan erat dengan Fidel Castro, yang ia sebut "kawan seperjuangan". Mantan pemimpin Kuba ini telah mendukung perjuangan gerakan pembebasan di Angola dan Namibia, yang pada akhirnya melemahkan rezim apartheid di Afrika Selatan. Musim panas 1991, Mandela mengunjungi Castro dalam perayaan Hari Nasional Kuba di Matanzas.
Foto: AP
Kampanye 46664
46664 merupakan nomor tahanan Mandela di penjara Pulau Robben. Selama menjadi tahanan ia hanya dikenal berdasarkan nomornya ini, diceritakan Mandela. Sekarang, nomor tahanan ini dipakai yayasan milik Mandela untuk kampanye mendukung jutaan penderita HIV.
Foto: AP
15 foto1 | 15
Afrika Selatan bantahtuduhan Trump
PemerintahAfrika Selatan yang dipimpin Presiden Cyril Ramaphosa menyatakan tuduhan persekusi terhadap warga kulit putih atau “Afrikaner” adalah “sepenuhnya tidak benar,” dan menegaskan bahwa mereka termasuk kelompok yang paling kaya dan “paling diuntungkan secara ekonomi” di negara tersebut.
Ramaphosa menyatakan bahwa kebanyakan warga Afrikaner meninggalkan Afrika Selatan karena mereka menolak kebijakan yang bertujuan mengatasi ketimpangan rasial yang masih terjadi hingga saat ini.
Sejak 1994, saat Nelson Mandela memenangkan pemilu demokratis pertama Afrika Selatan, minoritas kulit putih yang dulu pernah berkuasa masih mempertahankan sebagian besar kekayaan yang mereka kumpulkan sejak masa kolonial.
Menurut jurnal akademik The Review of Political Economy, warga kulit putih Afrika Selatan masih menguasai tiga perempat tanah milik pribadi di negara itu dan kekayaan mereka sekitar 20 kali lipat dibanding mayoritas warga kulit hitam.
“Kami rasa pemerintah AS salah paham,” kata Ramaphosa pada hari Senin (12/05), “tetapi kami akan terus berdialog dengan mereka.”
Ramaphosa mengatakan bahwa ia telah berbicara langsung dengan Trump dan menyapaikan bahwa Trump mendapat informasi keliru dari kelompok-kelompok yang menggambarkan warga kulit putih sebagai korban.
Ramaphosa menambahkan , saat itu ia merasa Trump “mengerti” apa yang ia sampaikan.
Kelompok konservatif dan sayap kanan ekstrem telah lama menyuarakan narasi bahwa warga kulit putih menjadi korban di Afrika Selatan.
Elon Musk, sekutu Trump yang lahir dan besar di Afrika Selatan, juga mendukung pandangan semacam itu secara terbuka.
Sejumlah Kota di AS Geler Protes anti-Musk
01:03
This browser does not support the video element.
AS berencana terima lebihbanyakwargakulitputih Afrika Selatan
Menurut panduan yang diterbitkan oleh kedutaan AS, pelamar program pemukiman kembali di AS harus berasal dari etnis Afrikaner atau termasuk kelompok minoritas rasial di Afrika Selatan.
Setibanya di AS, jaringan lembaga sosial akan membantu mereka untuk menetap. Mereka juga akan menerima bantuan federal selama 90 hari untuk kebutuhan seperti biaya sewa rumah.
Juru bicara Departemen Luar Negeri, Tammy Bruce, mengatakan langkah ini “mengirim pesan yang jelas, sejalan dengan kebijakan luar negeri America First, bahwa Amerika akan bertindak untuk melindungi korban diskriminasi rasial.”
Bruce menambahkan bahwa akan ada lebih banyak warga Afrikaner diterima di AS dalam beberapa bulan mendatang.
Program pengungsi warga kulit putih Afrika Selatan oleh Trump telah menuai kritik tajam.
Senator AS Jeanne Shaheen, Demokrat senior di Komite Hubungan Luar Negeri Senat, menyebut keputusan ini membingungkan.
“Keputusan pemerintahan ini untuk mengutamakan satu kelompok jelas bermotif politik dan upaya menulis ulang sejarah,” katanya dalam pernyataan pada Senin (12/05).
Layanan migrasi Gereja Episkopal AS menyatakan akan menolak perintah pemerintah federal untuk membantu pemukiman kembali warga Afrika Selatan berkulit putih yang diberi status pengungsi.
Mereka menyatakan bahwa alasan penolakan ini adalah komitmen jangka panjang gereja terhadap “keadilan rasial dan rekonsiliasi.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris