Komando Pusat Militer AS mengeklaim telah melancarkan serangan “bela diri" di selatan Iran. Pada saat yang sama, PM Israel memerintahkan militer untuk meningkatkan gempuran terhadap Hizbullah di selatan Lebanon.
Aksi serangan itu dilakukan "untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran," kata Komando Pusat ASFoto: U.S. Navy/Planet Pix/ZUMA/picture alliance
Iklan
Militer Amerika Serikat (AS) mengumumkan serangan "bela diri" di Iran bagian selatan. Tindakan militer itu meliputi peluncuran rudal dan pemasangan ranjau yang dilakukan kapal AS.
Serangan dilakukan "untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran," tetapi pihak militer "menggunakan pengendalian diri selama gencatan senjata yang sedang berlangsung," kata Juru Bicara Komando Pusat Amerika Serikat Tim Hawkins dalam sebuah pernyataan.
Hanya saja, teknis pelaksanaan rencana tersebut masih belum tersedia. Juga, masih belum jelas bagaimana serangan ini akan berdampak pada pembicaraan yang sedang berlangsung antara kedua belah pihak.
Konflik AS, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 berkembang cepat. Serangan militer, krisis kepemimpinan di Teheran, hingga ancaman terhadap energi dan pangan global menunjukkan dampaknya yang meluas.
Foto: US Centcom via X/REUTERS
Serangan yang memicu perang
Eskalasi dimulai pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke target strategis di Iran. Serangan ini menandai perubahan dari ketegangan menjadi konflik terbuka, dengan risiko meluas ke kawasan Timur Tengah.
Foto: Atta Kenare/AFP/Getty Images
Balasan Iran dan ancaman regional
Iran merespons dengan meningkatkan kesiapan militer dan melancarkan serangan balasan. Ketegangan cepat meluas, terutama di kawasan Teluk yang menjadi jalur vital perdagangan dan energi global.
Foto: Atta Kenare/AFP/Getty Images
Kematian Ali Khamenei
Situasi semakin genting setelah media pemerintah Iran melaporkan kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Peristiwa ini memicu ketidakpastian besar terhadap stabilitas politik Iran di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Foto: Office of the Iranian Supreme Leader/AP Photo/picture alliance
Diperdebatkan secara hukum
Serangan AS dan Israel ke Iran menuai kritik dari pakar hukum internasional. Sekjen PBB Antonio Guterres menyebutnya sebagai “ancaman serius” terhadap perdamaian global, merujuk pada Piagam PBB yang melarang serangan terhadap negara lain. Di sisi lain, respons Iran juga dipersoalkan, terutama ketika serangan menyasar wilayah sipil atau negara lain.
Foto: Hamad I Mohammed/REUTERS
Suksesi kekuasaan di tengah perang
Mojtaba Khamenei, putra dari Ali Khamenei, ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Penunjukan ini dinilai sebagai tanda rezim Iran memilih jalur konfrontatif.
Foto: Morteza Nikoubazl/NurPhoto/picture alliance
Dampak ke energi global
Konflik ini mengguncang pasar energi global. Negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk menghadapi tekanan, sementara dunia mengantisipasi gangguan pasokan dan lonjakan harga energi.
Foto: Fatemeh Bahrami/Anadolu Agency/IMAGO
Blokade Selat Hormuz
Iran memblokade Selat Hormuz, jalur strategis bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Langkah ini memperparah krisis energi global dan meningkatkan tensi militer di kawasan.
Foto: REUTERS
Ancaman krisis pangan global
Dampak konflik tidak hanya terasa di sektor energi. Gangguan rantai pasok dan kenaikan harga energi berisiko memicu krisis pangan global, terutama di negara-negara berkembang.
Foto: DW
Indonesia tawarkan mediasi, Iran menolak
Presiden Prabowo Subianto menawarkan Indonesia sebagai mediator konflik AS-Iran. Namun Dubes Iran, Mohammad Boroujerdi, menegaskan Teheran tidak akan bernegosiasi dengan AS, meski mengapresiasi niat baik Indonesia. Menurutnya, pengalaman sebelumnya menunjukkan tidak ada jaminan AS akan mematuhi kesepakatan, sehingga mediasi dinilai bukan solusi dalam situasi saat ini.
Foto: BPMI Setpres/Kris
Bagaimana sikap Uni Eropa?
Jerman menegaskan tidak akan terlibat langsung dalam perang karena tidak ada mandat dari PBB, Uni Eropa, atau NATO. Di sisi lain, negara-negara Eropa belum memiliki sikap bersama. Sebagian mendukung secara terbatas, sementara lainnya memilih menjaga jarak dan fokus pada dampak konflik.
Foto: Michael Kappeler/Pool/dts Nachrichtenagentur/IMAGO
10 foto1 | 10
Menlu AS: Perjanjian dengan Iran memungkinkan di tengah serangan baru
"Ada beberapa pembicaraan yang berlangsung di Qatar hari ini, jadi kita lihat apakah kita bisa membuat kemajuan," kata Marco Rubio kepada jurnalis ketika kunjungan resmi ke India.
"Saya pikir ada banyak pembicaraan berulang tentang bahasa spesifik dalam dokumen awal, jadi akan memakan waktu beberapa hari," sambungnya. "Presiden telah menyatakan keinginannya untuk menyelesaikan itu. Dia akan membuat kesepakatan yang bagus atau tidak ada kesepakatan sama sekali."
Pernyataan Rubio muncul tak lama setelah Komando Pusat militer AS mengumumkan telah melancarkan serangan "pertahanan diri" terhadap Iran, yang menargetkan lokasi peluncuran rudal dan pemasangan ranjau oleh sejumlah kapal.
Jual beli serangan Israel dan Hizbullah
Di sisi lain, meskipun ada gencatan senjata resmi, baik tentara Israel maupun milisi Hizbullah yang berbasis di Lebanon terus saling menyerang.
Hizbullah melancarkan serangan drone ke utara Israel, mengenai sebuah rumah dan halte bus. Sementara itu, tentara Israel menyerang lokasi yang mereka sebut sebagai target infrastruktur kelompok yang didukung Iran di area Tyre. Serangan terjadi setelah Israel memperingatkan penduduk di sepuluh desa untuk mengevakuasi diri.
Pihak berwenang Lebanon mengatakan lebih dari 3.100 orang tewas sejak Israel memperbarui serangannya di bagian selatan negara itu pada 3 Maret 2026. Dari pihak Israel, sedikitnya 23 tentara dan satu tentara bayaran tewas.
Di tengah negosiasi antara AS dan Iran soal penghentian perang antara keduanya, dilaporkan ada rencana penghentian permusuhan di Lebanon bagian selatan, menteri-menteri sayap kanan Israel secara terbuka mendesak Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu untuk kembali pada kebijakan "pertempuran tegas melawan Hizbullah di wilayah tersebut."
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris