1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

AS Tawarkan Dialog Kepada Iran

1 Juni 2006

Setelah melakukan tarik ulur cukup lama, akhirnya pemerintah AS menyatakan siap melakukan perundingan langsung dengan Iran. Akan tetapi, seperti biasanya AS tetap mengajukan berbagai persyaratan.

Kombo Iran USA Mahmoud Ahmadinedschad und George Bush
Foto: AP

Keputusan AS terhadap Iran, mirip dengan politik terhadap Korea Utara, demikian komentar harian Italia Corriere della Serra yang terbit di Milano. Lebih lanjut harian ini menulis:

"Satu-satunya hal yang cukup jelas adalah, Presiden Bush secara pribadi melaksanakan jalur diplomasinya. Bush langsung membicarakan langkahnya, dengan kepala negara dan kepala pemerintahan mitranya di luar negeri, dari Angela Merkel hingga Wladimir Putin. Dan, jika tawaran kerja sama dari Uni Eropa mengalami kegagalan, ia berpendapat, secara bertahap dapat dilakukan sanksi lebih kuat melalui Dewan Keamanan PBB. Mirip dengan politiknya terhadap Korea Utara, AS kini menanggalkan prinsip bertindak sendirian, dan menggantinya dengan sikap bertindak bersama mitra terpercayanya."

Sementara harian liberal Spanyol La Vanguardia yang terbit di Barcelona menulis : "Keputusan itu merupakan perubahan sikap politik AS. Setelah 26 tahun membekukan hubungan diplomatik dengan Iran, Presiden Bush bersedia mengubah politik AS tersebut. Diharapkan, dengan itu dapat tercipta pemecahan secara damai dalam sengketa atom Iran. Harus diakui, sikap ngotot Eropa, untuk memecahkan sengketa dengan cara diplomasi, serta terjadinya perubahan dari haluan radikal Teheran, memberikan kontribusi untuk perubahan politik Washington. Tapi, merosotnya popularitas Bush akibat perang Afghanistan dan perang Irak, merupakan faktor utama dari perubahan tersebut."

Harian Austria Salzburger Nachrichten yang terbit di Salzburg memuji keputusan AS itu, sebagai langkah pertama pemecahan masalah.

"Salah satu hambatan terbesar pemecahan konflik, adalah sikap penolakan AS untuk melakukan dialog langsung dengan Iran. Juga di kedua belah pihak tercipta suasana saling membenci. Mungkin kebencian ini akan tetap ada. Tetapi penolakan untuk melakukan dialog, diduga mulai luruh. Memang AS masih mengajukan sejumlah persyaratan bagi dialog langsung. Namun, tawaran Washington menunjukkan, betapa seriusnya situasi konflik dengan Teheran tersebut."

Terakhir harian Denmark Politiken yang terbit di Kopenhagen menulis:

"Iran dipaksa melakukan perubahan. Presiden Ahmadinejad terus berusaha menyenangkan hati kelompok relijius garis keras, yang merupakan pendukung ideologinya. Dampaknya adalah haluan konfrontasi terhadap barat. Tapi dengan komposisi rakyat yang mayoritasnya kaum muda, masalah AIDS dan kemiskinan, rezim di Teheran, mau tidak mau, dipaksa untuk melakukan perubahan. Namun Ahmadinejad tetap berharap dapat mengulur waktu, agar dapat membuat bom atom. Kini, tekanan dari dalam negeri Iran sendiri, diharapkan memaksa Teheran untuk bersedia melakukan dialog."