1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
BencanaIndonesia

ASEAN Darurat Kabut Asap, Singapura Catat Polusi Ekstrem

Rahka Susanto sumber: AFP, Reuters
14 Oktober 2026

Karhutla di Indonesia memicu krisis kabut asap di Asia Tenggara. Polusi PM2.5 di Singapura mencapai 288 mikrogram per meter kubik, sementara Timor-Leste menutup sekolah dan ASEAN bersiap membahas respons regional.

Formula 1 2026 | Grand Prix Singapura | Kabut asap menyelimuti Sirkuit Jalan Raya Marina Bay
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia menyelimuti Singapura, termasuk kawasan Sirkuit Jalan Raya Marina Bay, dan memperburuk kualitas udara di negara tersebut.Foto: Edgar Su/REUTERS

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia memicu krisis polusi udara di Asia Tenggara. Pada hari Rabu (14/10), kualitas udara di wilayah barat Singapura mencapai kategori tertinggi dalam klasifikasi nasional. Sementara itu, Timor Leste memutuskan menutup sekolah selama tiga hari untuk melindungi kesehatan siswa dan tenaga pengajar.

Badan Lingkungan Nasional Singapura mencatat konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 288 mikrogram per meter kubik di wilayah barat negara tersebut. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat menembus paru-paru dan masuk ke aliran darah. Angka tersebut jauh melampaui rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk paparan rata-rata tahunan, yakni lima mikrogram per meter kubik.

Kebakaran yang melanda kawasan hutan dan perkebunan di Sumatra dan Kalimantan telah menghanguskan ratusan ribu hektare lahan. Asapnya menyebar ke negara-negara tetangga, termasuk Singapura, Malaysia, dan Timor-Leste, bahkan mencapai Filipina.

Kebakaran gambut hanguskan ratusan rumah

Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sumatra, kebakaran menghanguskan hampir 300 rumah dan memaksa sekitar 1.000 warga mengungsi. Warga awalnya berusaha memadamkan api menggunakan pompa air portabel, tetapi api masih membara di bawah permukaan lahan gambut. Ketika arah angin berubah, kobaran api kembali menyebar ke permukiman.

“Mereka mengira api sudah berhasil dipadamkan. Namun, ini lahan gambut dan masih ada api yang membara di bawah permukaan,” kata Wali Kota Riza Herdavid kepada AFP.

Kapal-kapal melintasi Sungai Kapuas di Pontianak, Kalimantan Barat, saat kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan menyelimuti kawasan tersebut, 27 Agustus 2026. Kebakaran di Indonesia telah berlangsung selama lebih dari tiga bulan hingga Oktober 2026Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Bagi warga, kebakaran itu menghancurkan rumah dan harta benda mereka. “Rumah saya sudah tidak ada,” kata Leni, 55 tahun, yang kini tinggal di tempat penampungan bersama keluarganya.

“Tidak ada yang tersisa. Saya hanya bisa menyelamatkan diri dan membawa anak-anak saya. Saya panik dan tidak punya waktu untuk mengambil apa pun,” ujarnya.

Penyintas lainnya, Haryanti, 50 tahun, mengatakan angin kencang mempercepat penyebaran api yang melalap rumah-rumah yang sebagian besar terbuat dari kayu. “Tidak satu pun barang saya yang selamat. Hanya pakaian yang melekat di tubuh saya,” katanya.

Menurut Riza, desa tersebut berdiri di atas lahan gambut yang sebelumnya merupakan kawasan lindung. Lahan itu dialihfungsikan menjadi kompleks perumahan pada tahun lalu.

Pembukaan lahan memperparah kebakaran

Indonesia secara rutin menghadapi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau. Tahun ini, kekeringan akibat fenomena El Niño turut memperparah kondisi kebakaran.

Para ahli juga menyoroti praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Praktik tersebut dinilai telah mengubah bentang alam Sumatra dan Kalimantan yang secara alami lebih tahan terhadap kebakaran.

Kebakaran yang berlangsung selama berbulan-bulan itu telah memicu kabut asap tebal dan puluhan ribu kasus gangguan pernapasan di Indonesia. Menurut laporan Reuters, kebakaran hutan dan lahan tahun ini merupakan yang paling intens di Indonesia dalam 11 tahun terakhir.

Di sejumlah wilayah Kalimantan, asap bahkan menghambat upaya pemadaman. Badan penanggulangan bencana melaporkan bahwa pesawat yang digunakan untuk pengeboman air tidak dapat beroperasi akibat buruknya jarak pandang.

Foto udara memperlihatkan kebakaran hutan dan lahan di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, kawasan yang juga memiliki perkebunan kelapa sawitFoto: Bay Ismoyo/AFP

Presiden Prabowo Subianto pada Senin (12/10) memerintahkan pemerintah mengerahkan upaya maksimal untuk menangani kebakaran. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan lebih dari 60.000 personel telah dikerahkan untuk memadamkan api di lapangan.

Meski demikian, upaya pemadaman, termasuk rekayasa cuaca dan pengeboman air, sejauh ini belum memberikan hasil yang memadai di sejumlah lokasi.

Kabut asap ganggu penerbangan dan picu respons ASEAN

Dampak kabut asap meluas ke sektor transportasi dan pendidikan. Maskapai Malaysia, Firefly, memperpanjang pembatalan penerbangan Kuala Lumpur–Singapura hingga Rabu (14/10) sebagai langkah pencegahan demi keselamatan penerbangan.

Di Singapura, pemerintah mengaktifkan subsidi perawatan medis bagi warga terdampak kabut asap dan mulai membagikan masker N95 kepada warga yang memenuhi syarat. Namun, sejumlah pekerja lapangan mengaku kesulitan menggunakan masker saat bekerja. “Dengan masker, saya harus bernapas lebih berat,” kata Daniel, pengemudi layanan pengantaran berusia 27 tahun, kepada AFP.

Karhutla Picu Kabut Asap hingga ke Negara Tetangga

02:12

This browser does not support the video element.

Sementara itu, Timor-Leste menutup sekolah di seluruh negeri selama tiga hari mulai Kamis (15/10) untuk melindungi kesehatan siswa dan tenaga pengajar.

Krisis ini juga mendorong Malaysia meminta pembahasan di tingkat regional. Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan mengatakan para menteri luar negeri ASEAN akan membahas kabut asap menjelang KTT ASEAN ke-49 di Manila bulan depan.

Mohamad mengatakan ASEAN telah memiliki mekanisme untuk menangani bencana seperti banjir dan letusan gunung berapi, tetapi kabut asap belum tercakup di dalamnya. Malaysia sebelumnya juga menawarkan bantuan kepada Indonesia untuk memadamkan kebakaran, meski upaya di sejumlah wilayah terkendala jarak pandang buruk, akses yang sulit, dan kondisi yang tidak mendukung rekayasa cuaca.

Kabut asap lintas batas kembali menjadi tantangan regional karena dampaknya meluas pada kesehatan masyarakat, pendidikan, dan transportasi di Asia Tenggara.

 

Editor: Ayu Purwaningsih