1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PanoramaGlobal

Dari Palestina ke Jerman, Kisah Juara Dunia Karate Mariam Bsharat

6 November 2026

Wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel bukan tempat yang mudah bagi atlet untuk mengembangkan karier. Namun, Mariam Bsharat berhasil mengatasi berbagai keterbatasan hingga menjadi juara dunia karate dua kali.

Mariam Bsharat berteriak merayakan kemenangannya setelah meraih gelar juara dunia karate
Mariam Bsharat telah memenangkan gelar juara dunia karate secara berturut-turutFoto: Fabienne Abu Wahib/Karate Insights/PS Images/IMAGO

"Ketika wasit mengangkat tangan saya sebagai tanda bahwa saya kini menjadi juara dunia untuk kedua kalinya, rasanya sangat luar biasa," kata Mariam Bsharat.

"Menorehkan sejarah sekali saja sudah istimewa, apalagi dua kali. Saya sangat bahagia sekaligus lega. Hanya saya yang tahu berapa banyak pengorbanan dan kesulitan yang harus saya lalui," ujarnya.

Perasaan lega, bahagia, dan pengorbanan kerap muncul dalam cerita atlet setelah meraih kemenangan besar. Namun, bagi Mariam Bsharat, perjuangannya bukan sekadar soal disiplin berlatih dan menjaga kondisi fisik.

Atlet berusia 17 tahun itu kembali meraih medali emas Kejuaraan Dunia Karate U-21 saat mewakili tim nasional Palestina di Polandia pada Oktober lalu.

"Sehari-hari, saya melihat orang-orang terbunuh di sekitar saya dan rumah-rumah dibom," kata Bsharat kepada DW, mengenang masa kecilnya di wilayah Tepi Barat yang didudukiIsrael.

Ia juga menghadapi berbagai kendala untuk berlatih dan mengikuti kompetisi.

"Saya menghadapi kesulitan dalam hal transportasi. Saya tidak bisa pergi dari satu kota ke kota lain untuk berlatih bersama atlet lain dan mempersiapkan diri menghadapi kompetisi. Saya harus bepergian ke negara lain seperti Yordania atau Mesir. Itu sangat sulit bagi saya. Dari segi finansial, dukungan yang saya terima juga belum memadai untuk kebutuhan seorang atlet elite," ujarnya.

Awalnya tak tertarik dengan karate

Tumbuh besar di Nablus, Bsharat menghadapi banyak keterbatasan untuk mencapai level tertinggi dalam olahraga karate. Namun, pada awalnya, justru ketidaktertarikannya sendiri yang hampir menghambat perjalanan kariernya.

"Ketika masih kecil, saya sebenarnya tidak terlalu menyukai karate," kata Bsharat, yang bertanding di kelas kumite untuk atlet dengan berat badan di bawah 66 kilogram.

"Saya mulai berlatih karena keluarga saya memang berkecimpung dalam olahraga ini. Ayah saya memiliki dojo, ibu saya juga berlatih karate. Saudara kandung, bibi, paman, semuanya terlibat. Ini memang olahraga keluarga. Awalnya saya ikut karena mereka semua melakukannya. Lama-kelamaan, saya mulai menyukainya," ujarnya.

Keluarga menjadi sumber dukungan dan inspirasi bagi Bsharat. Ayah dan pamannya masing-masing berperan sebagai manajer dan pelatih.

Tahun lalu, ibu dan saudara-saudaranya pindah bersama Mariam ke Hamburg, Jerman. Sementara itu, ayahnya tetap tinggal di Palestina untuk mengurus dojo miliknya. Meski demikian, sang ayah tetap berusaha mengunjungi dan mendampingi putrinya saat mengikuti kompetisi.

Uni Eropa akan Terapkan Kebijakan Suaka yang Lebih Ketat

02:07

This browser does not support the video element.

Kemampuan berbahasa Jerman juga membantunya beradaptasi. Bahasa tersebut diajarkan oleh ibunya yang berasal dari Jerman.

Bsharat mengaku memiliki perasaan campur aduk setelah meninggalkan tanah kelahirannya.

"Saya bersyukur bisa berada di sini karena Jerman membuka banyak peluang bagi saya. Saya merasa memiliki masa depan yang lebih cerah di sini. Namun, kehidupan di Palestina adalah keseharian saya dan saya sangat menyukainya. Keluarga dan teman-teman ada di sekitar saya. Saya merasa nyaman di sana. Karena itu, pindah ke Jerman merupakan perubahan besar bagi saya. Menurut saya, setiap perubahan selalu disertai kesulitan," katanya.

Beban mewakili Palestina di panggung internasional

Selain berbagai kesulitan hidup di wilayah yang diduduki Israel, atlet di Tepi Barat dan JalurGaza juga menghadapi tantangan tersendiri. Akses terhadap fasilitas olahraga, pembatasan perjalanan, hingga kekhawatiran akan situasi keamanan menjadi sejumlah kendala yang harus mereka hadapi.

Akibatnya, hanya sedikit atlet dari wilayah Palestina yang berhasil berkompetisi dan meraih prestasi di tingkat internasional.

Menurut Bsharat, kondisi tersebut membuatnya memikul tanggung jawab besar, bahkan untuk seorang atlet seusianya.

"Menjadi atlet elite di Palestina adalah sesuatu yang istimewa karena tidak semua orang memiliki kesempatan itu. Tidak banyak atlet Palestina yang mencapai level elite dan memenangkan medali internasional," ujarnya.

"Karena itu, ada tekanan dari seluruh masyarakat, keluarga, dan pelatih karena saya mewakili mereka dan mengibarkan bendera Palestina. Terkadang, saya bahkan lupa bahwa saya juga harus berjuang untuk diri sendiri dan memikirkan kebutuhan saya sendiri," kata Bsharat.

Mimpi Olimpiade masih terbuka

Tekanan tersebut sejauh ini tidak menghentikan langkah Bsharat. Ia kini menempati peringkat pertama dunia di kelasnya menurut Federasi Karate Dunia (WKF).

Palestina sendiri telah diakui oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC). Dengan prestasinya, Bsharat berpeluang menjadi salah satu atlet yang mewakili Palestina di Olimpiade Los Angeles 2028. Namun, karate tidak lagi dipertandingkan dalam ajang tersebut setelah dicoret dari Olimpiade Paris 2024.

"Komunitas karate dunia tetap berpegang pada keyakinan bahwa tempat yang semestinya bagi karate adalah di Olimpiade. Kami berharap keputusan yang merugikan kami di Paris 2024 dan Los Angeles 2028 dapat diperbaiki untuk Brisbane 2032, jika tidak lebih cepat," tulis WKF dalam tanggapannya terhadap keputusan tersebut pada 2024.

Karate juga tidak dipertandingkan dalam Olimpiade Remaja yang baru-baru ini digelar di Senegal.

Jika karate kembali masuk dalam Olimpiade Brisbane 2032, Bsharat kemungkinan akan berada pada usia emasnya sebagai atlet. Sementara itu, ia tengah bersiap memasuki kategori senior ketika menginjak usia 18 tahun.

Bsharat mengaku memiliki target besar dalam kariernya.

"Target saya adalah menjadi juara dunia di kategori senior. Itu adalah pencapaian tersulit sekaligus tertinggi yang bisa diraih dalam olahraga karate," katanya.

"Namun, memenangkan medali Olimpiade, disebut sebagai juara Olimpiade, atau sekadar mewakili negara saya dengan bendera Palestina adalah sesuatu yang membuat saya sangat bahagia dan bangga," ujarnya.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Cinta Zanidya

Editor: Ayu Purwaningsih

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait