Atom Iran Sulut Reaksi Keras
14 April 2006
Harian berhaluan konservatif Prancis, Le Figaro, menurunkan komentar, "Ancaman dan sangsi tidak akan cukup untuk menghentikan Ahmadinedjad."
"Teheran telah memiliki kemampuan untuk memproduksi bahan uranium sebagai bahan bakar reaktor nuklir. Memaksa Iran untuk melunakkan sikapnya dengan berbagai sangsi, juga tidak kunjung membuahkan hasil. Dan kini dunia internasional mencoba strategi baru, yakni mengancam Iran dengan sebuah intervensi militer. Namun untuk keluar dari jalan buntu, semua pihak membutuhkan cara lain yang lebih baik dari sekedar sangsi ataupun ancaman serangan militer. Menguji kembali panduan pelaksanaan aturan non-proliferasi senjata atom akan menjadi langkah awal yang bijaksana. Akan masih dipertanyakan, apakah Amerika yang kian melemah dan Eropa yang lumpuh akan mampu untuk melaksanakan hal tersebut."
Pendapat bernada konservatif juga disuarakan oleh harian Inggris, The Times. Harian yang terbit di London ini secara ironis memuji keberhasilan Presiden Ahmadinejad dalam memanfaatkan ancaman dunia internasional.
"Reaksi keras yang datang dari dunia Barat ternyata hanya mampu menjadi sebuah musik yang mendayu-dayu di telinga Presiden Mahmud Ahmadinedjad. Tujuannya sudah jelas, Ahmadinedjad adalah seorang populis tanpa pengalaman politik yang cukup. Ia mencapai puncak kekuasaannya di tengah gelombang protes menentang hasil pemilu, di mana ia melontarkan janji-janji yang tidak lazim kepada kaum miskin di Iran. Namun Ahmadinedjad tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyadari, bahwa strateginya tersebut tidak akan selalu berhasil. Jadi ia kembali kepada taktik kuno, yakni mengundang ancaman dari luar, agar pemerintahannya dapat terhindar dari kejatuhan yang memalukan dan dari sorotan tajam pihak oposisi. Semakin besar tekanan yang datang dari luar, semakin mudah pula bagi Ahmadinedjad untuk membungkam musuh-musuh yang ingin menyingkirkannya. Sampai saat ini, taktiknya terbukti sangat berhasil."
Sedangkan harian Belgia, De Morgen, turut pula mengomentari permainan kekuasaan antara Presiden Amerika Geroge W. Bush dan penguasa Teheran, Mahmud Ahmadinedjad. Harian ini menulis, Bush ingin mengajari cara bertata krama kepada Hitler baru di Iran .
"Kita semua mengetahui, bahwa Presiden George W. Bush tidak menutup kemungkinan penggunaan opsi militer, walaupun terdapat pengalaman buruk di Afghanistan dan terutama di Irak. Justru kedua alasan ini telah mendorong para jendral di gedung putih untuk memperingatkan Bush agar berhati-hati dan menjaganya agar tidak kembali melakukan petualangan militer ketiga di Iran. Namun Bush tetap bersikeras, bahwa tata krama harus diajarkan kepada sang Hitler baru, Ahmadinedjad, dengan menggunakan teknologi terbaru militer, atau jika mungkin dengan senjata atom."
Sementara harian Perancis lainnya, Denieres Nouvelles d’Alsace, berkomentar:
"Kini ekonomi dunia harus mempertaruhkan segalanya pada sebuah permainan poker untuk memperebutkan minyak bumi. Sebuah permainan yang telah menjadi ajang bagi setiap pemain untuk saling mengalahkan dan memprovokasi satu sama lain. Ketika sebuah harian Amerika menyingkap rencana Washington untuk menghancurkan fasilitas nuklir Iran dengan serangan udara, harga minyak dunia melonjak drastis. Pun ketika presiden Ahmadinedjad mengumumkan bahwa negaranya telah berhasil menggunakan teknologi pengayaan uranium, harga minyak dunia kembali merangkak ke atas. Namun kenyataan yang harus kita hadapi tampak sedikit berbeda. Jika Amerika menguji-coba penggunaan opsi serangan militer, maka hal itu tidak serta merta berarti, bahwa Amerika telah siap atau mampu untuk memulai intervensi militer kepada Iran. Sebuah negara Amerika yang terkubur hidup-hidup di padang Irak rupanya terlalu lemah, untuk kembali tergelincir ke dalam petualangan militer baru. Dan bantuan Uni Eropa, bagaimanapun juga tidak dapat diharapkan."