1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
MigrasiAustralia

Australia Larang Sementara Pengunjung Iran Selama Perang

Athina Bohner | Kate Hairsine sumber: AFP, Reuters
26 Maret 2026

Australia khawatir warga Iran yang berkunjung ke Australia enggan pulang akibat situasi perang di kawasan Timur Tengah.

Menteri Dalam Negeri Australia Tony Burke
Departemen Dalam Negeri Australia mengatakan langkah itu bertujuan menjaga integritas sistem imigrasinya.Foto: Lukas Coch/AAP/AP Photo/picture alliance

Mulai Kamis 26 Maret, Australia untuk sementara melarang kedatangan pengunjung dari Iran ke negara tersebut. 

Pemerintah Australia menyatakan bahwa perang di Iran telah “telah meningkatkan risiko bahwa sejumlah pemegang visa sementara mungkin tidak bisa atau kecil kemungkinannya untuk meninggalkan Australia saat visa mereka habis.”

Para Rabu (25/03), Departemen Dalam Negeri Australia mengumumkan bahwa untuk enam bulan ke depan, pemegang jenis visa kunjungan tertentu yang berkaitan dengan paspor Iran dilarang masuk ke Australia.

Namun, tetap ada sejumlah pengecualian, seperti bagi mereka yang menikah dengan warga Australia atau bagi orang tua yang memiliki anak di bawah 18 tahun yang berada di Australia.

Mengapa Australia mengambil keputusan ini?

Lewat keterangan resmi di situs Departemen Dalam Negeri, pemeritah Australia menyatakan bahwa visa Australia yang telah diterbitkan “untuk sementara tidak berlaku” mulai Kamis untuk:

  • Pemegang paspor Iran yang memiliki visa kunjungan ke Australia 
  • Pemegang paspor Iran yang saat ini berada di luar Australia

“Ada banyak visa kunjungan yang diterbitkan sebelum perang di Iran yang kemungkinan tidak akan diberikan jika diajukan saat ini,” kata Tony Burke, Menteri Dalam Negeri Australia.

“Keputusan izin tinggal permanen di Australia seharusnya merupakan keputusan yang dibuat pemerintah, bukan konsekuensi acak dari siapa yang ingin berlibur di Australia,” kata Tony. 

Reuters melaporkan bahwa Departemen Dalam Negeri Australia menyatakan langkah tersebut diambil untuk melindungi integritas sistem imigrasi Australia.

Sementara itu, Asylum Seeker Resource Center Australia (ASRC) mengecam kebijakan tersebut sebagai langkah “tidak berperikemanusiaan” dan menilai kebijakan itu menambah “trauma dan penderitaan yang tidak perlu” bagi warga Iran yang sudah menghadapi perang.

“Ini adalah pengkhianatan besar terhadap warga Iran. Justru ketika orang-orang paling membutuhkan perlindungan, pemerintahan Anthony Albanese menutup pintu,” demikian pernyataan ASRC Australia di platform X.

David Shoebridge, politisi Australia, mengatakan bahwa warga Iran tak punya banyak pilihan untuk mengajukan permohonan.

Keluarga tim sepak bola putri Iran yang menolak suaka diduga ada di bawah tekanan.Foto: Ali Ihsan Ozturk/REUTERS

Hubungan Australia-Iran jadi sorotan

Departemen Dalam Negeri Australia mencatat bahwa pada 2023, ada hampir 86.000 warga Iran yang tinggal di Australia. Selama bertahun-tahun, mereka membangun komunitas diaspora yang dinamis, dengan konsentrasi terbesar di Sydney dan Melbourne.

Hubungan diplomatik Australia dan Iran tengah diuji setelah Australia memberikan suaka kepada tujuh pemain dalam tim sepak bola putri Iran yang tengah berkunjung untuk ajang Piala Asia.

Para pemain tersebut menghadapi kecaman di Iran dan dicap “pengkhianat” karena menolak menyanyikan lagu kebangsaan sebelum pertandingan. Tindakan ini dipandang sebagai bentuk perlawanan senyap terhadap Republik Islam Iran.

Lima dari tujuh orang itu kemudian menarik kembali keputusan mereka untuk mencari perlindungan di Australia. Tindakan itu memicu kekhawatiran bahwa keluarga mereka berada di bawah tekanan.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Joan Rumengan 

Editor: Tezar Aditya

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait