Australia khawatir warga Iran yang berkunjung ke Australia enggan pulang akibat situasi perang di kawasan Timur Tengah.
Departemen Dalam Negeri Australia mengatakan langkah itu bertujuan menjaga integritas sistem imigrasinya.Foto: Lukas Coch/AAP/AP Photo/picture alliance
Iklan
Mulai Kamis 26 Maret, Australia untuk sementara melarang kedatangan pengunjung dari Iran ke negara tersebut.
Pemerintah Australia menyatakan bahwa perang di Iran telah “telah meningkatkan risiko bahwa sejumlah pemegang visa sementara mungkin tidak bisa atau kecil kemungkinannya untuk meninggalkan Australia saat visa mereka habis.”
Para Rabu (25/03), Departemen Dalam Negeri Australia mengumumkan bahwa untuk enam bulan ke depan, pemegang jenis visa kunjungan tertentu yang berkaitan dengan paspor Iran dilarang masuk ke Australia.
Namun, tetap ada sejumlah pengecualian, seperti bagi mereka yang menikah dengan warga Australia atau bagi orang tua yang memiliki anak di bawah 18 tahun yang berada di Australia.
Iklan
Mengapa Australia mengambil keputusan ini?
Lewat keterangan resmi di situs Departemen Dalam Negeri, pemeritah Australia menyatakan bahwa visa Australia yang telah diterbitkan “untuk sementara tidak berlaku” mulai Kamis untuk:
Pemegang paspor Iran yang memiliki visa kunjungan ke Australia
Pemegang paspor Iran yang saat ini berada di luar Australia
“Ada banyak visa kunjungan yang diterbitkan sebelum perang di Iran yang kemungkinan tidak akan diberikan jika diajukan saat ini,” kata Tony Burke, Menteri Dalam Negeri Australia.
“Keputusan izin tinggal permanen di Australia seharusnya merupakan keputusan yang dibuat pemerintah, bukan konsekuensi acak dari siapa yang ingin berlibur di Australia,” kata Tony.
Reuters melaporkan bahwa Departemen Dalam Negeri Australia menyatakan langkah tersebut diambil untuk melindungi integritas sistem imigrasi Australia.
“Ini adalah pengkhianatan besar terhadap warga Iran. Justru ketika orang-orang paling membutuhkan perlindungan, pemerintahan Anthony Albanese menutup pintu,” demikian pernyataan ASRC Australia di platform X.
David Shoebridge, politisi Australia, mengatakan bahwa warga Iran tak punya banyak pilihan untuk mengajukan permohonan.
Keluarga tim sepak bola putri Iran yang menolak suaka diduga ada di bawah tekanan.Foto: Ali Ihsan Ozturk/REUTERS
Hubungan Australia-Iran jadi sorotan
Departemen Dalam Negeri Australia mencatat bahwa pada 2023, ada hampir 86.000 warga Iran yang tinggal di Australia. Selama bertahun-tahun, mereka membangun komunitas diaspora yang dinamis, dengan konsentrasi terbesar di Sydney dan Melbourne.
Hubungan diplomatik Australia dan Iran tengah diuji setelah Australia memberikan suaka kepada tujuh pemain dalam tim sepak bola putri Iran yang tengah berkunjung untuk ajang Piala Asia.
Para pemain tersebut menghadapi kecaman di Iran dan dicap “pengkhianat” karena menolak menyanyikan lagu kebangsaan sebelum pertandingan. Tindakan ini dipandang sebagai bentuk perlawanan senyap terhadap Republik Islam Iran.
Lima dari tujuh orang itu kemudian menarik kembali keputusan mereka untuk mencari perlindungan di Australia. Tindakan itu memicu kekhawatiran bahwa keluarga mereka berada di bawah tekanan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Joan Rumengan
Editor: Tezar Aditya
Perang AS-Israel dengan Iran: Dari Serangan ke Krisis Global
Konflik AS, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 berkembang cepat. Serangan militer, krisis kepemimpinan di Teheran, hingga ancaman terhadap energi dan pangan global menunjukkan dampaknya yang meluas.
Foto: US Centcom via X/REUTERS
Serangan yang memicu perang
Eskalasi dimulai pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke target strategis di Iran. Serangan ini menandai perubahan dari ketegangan menjadi konflik terbuka, dengan risiko meluas ke kawasan Timur Tengah.
Foto: Atta Kenare/AFP/Getty Images
Balasan Iran dan ancaman regional
Iran merespons dengan meningkatkan kesiapan militer dan melancarkan serangan balasan. Ketegangan cepat meluas, terutama di kawasan Teluk yang menjadi jalur vital perdagangan dan energi global.
Foto: Atta Kenare/AFP/Getty Images
Kematian Ali Khamenei
Situasi semakin genting setelah media pemerintah Iran melaporkan kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Peristiwa ini memicu ketidakpastian besar terhadap stabilitas politik Iran di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Foto: Office of the Iranian Supreme Leader/AP Photo/picture alliance
Diperdebatkan secara hukum
Serangan AS dan Israel ke Iran menuai kritik dari pakar hukum internasional. Sekjen PBB Antonio Guterres menyebutnya sebagai “ancaman serius” terhadap perdamaian global, merujuk pada Piagam PBB yang melarang serangan terhadap negara lain. Di sisi lain, respons Iran juga dipersoalkan, terutama ketika serangan menyasar wilayah sipil atau negara lain.
Foto: Hamad I Mohammed/REUTERS
Suksesi kekuasaan di tengah perang
Mojtaba Khamenei, putra dari Ali Khamenei, ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Penunjukan ini dinilai sebagai tanda rezim Iran memilih jalur konfrontatif.
Foto: Morteza Nikoubazl/NurPhoto/picture alliance
Dampak ke energi global
Konflik ini mengguncang pasar energi global. Negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk menghadapi tekanan, sementara dunia mengantisipasi gangguan pasokan dan lonjakan harga energi.
Foto: Fatemeh Bahrami/Anadolu Agency/IMAGO
Blokade Selat Hormuz
Iran memblokade Selat Hormuz, jalur strategis bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Langkah ini memperparah krisis energi global dan meningkatkan tensi militer di kawasan.
Foto: REUTERS
Ancaman krisis pangan global
Dampak konflik tidak hanya terasa di sektor energi. Gangguan rantai pasok dan kenaikan harga energi berisiko memicu krisis pangan global, terutama di negara-negara berkembang.
Foto: DW
Indonesia tawarkan mediasi, Iran menolak
Presiden Prabowo Subianto menawarkan Indonesia sebagai mediator konflik AS-Iran. Namun Dubes Iran, Mohammad Boroujerdi, menegaskan Teheran tidak akan bernegosiasi dengan AS, meski mengapresiasi niat baik Indonesia. Menurutnya, pengalaman sebelumnya menunjukkan tidak ada jaminan AS akan mematuhi kesepakatan, sehingga mediasi dinilai bukan solusi dalam situasi saat ini.
Foto: BPMI Setpres/Kris
Bagaimana sikap Uni Eropa?
Jerman menegaskan tidak akan terlibat langsung dalam perang karena tidak ada mandat dari PBB, Uni Eropa, atau NATO. Di sisi lain, negara-negara Eropa belum memiliki sikap bersama. Sebagian mendukung secara terbatas, sementara lainnya memilih menjaga jarak dan fokus pada dampak konflik.
Foto: Michael Kappeler/Pool/dts Nachrichtenagentur/IMAGO