1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Awal Baru Hubungan AS-Rusia

3 Juli 2009

Presiden AS Obama dalam lawatannya ke Moskow awal pekan depan akan membicarakan pengurangan jumlah senjata atom strategis. Selain Presiden Dmitry Medvedev, Obama untuk pertama kalinya akan bertemu dengan PM Putin.

Obama dan Medvedev.
Medvedev (kiri) dan Obama dalam pertemuan di LondonFoto: picture-alliance/ dpa

Pekan depan Presiden Rusia Dmitry Medvedev dan Presiden AS Barack Obama direncanakan menandatangani deklarasi kerangka pengganti traktat pengurangan misil zaman perang dingin. Hal itu diungkapkan penasihat urusan kebijakan luar negeri Medvedev, Sergei Prikhodko, Jumat (03/07).

Setelahnya, kedua pemimpin negara akan menugaskan juru rundingnya masing-masing untuk menyusun traktat terperinci hingga Desember tahun ini. Traktat pengurangan senjata strategis START – 1, yang mengatur jumlah senjata nuklir jarak jauh, akan habis masa berlakunya akhir tahun ini atau awal tahun 2010.

Sejumlah sumber mengatakan, Moskow masih belum mengindikasikan tepatnya berapa jumlah hulu ledak nuklir yang dikurangi, karena pembicaraan para juru runding masih berlangsung.

Jumat (03/07), harian Rusia Kommersant melaporkan bahwa Amerika Serikat mengusulkan jumlah maksimum 1500 hingga 1600 hulu ledak operasional bagi kedua pihak dan 1100 roket peluncurnya. Sebelumnya, Medvedev dan panglima pasukan nuklir Rusia mengumumkan, Rusia bersedia mengurangi hulu ledaknya menjadi 1500 dan mengurangi drastis jumlah roket peluncurnya. Lebih lanjut, laporan harian Kommersant menyebutkan, kini Rusia hanya bersedia menerima batas maksimum pemilikan 1700 hulu ledak.

Berdasarkan data yang dilansir Buletin Ilmuwan Atom, di awal 2009 AS memiliki 2200 hulu ledak nuklir operasional dan Rusia punya sekitar 2790 hulu ledak nuklir. Di tahun 2002, kedua negara menandatangani perjanjian yang dikenal sebagai Traktat Moskow. Di dalam perjanjian itu, kedua negara sepakat membatasi pemilikan jumlah hulu ledaknya menjadi 1700 hingga 2200, sampai tahun 2012.

Selain itu, Sergei Prikhodko juga menyatakan bahwa Rusia mengizinkan Amerika Serikat melewati wilayahnya dalam mengirim senjata ke Afghanistan. Medvedev dan Obama dijadwalkan untuk menandatangani perjanjian mengenainya pekan depan. Selama ini, Rusia mengizinkan Amerika Serikat mengirimkan bahan-bahan logistik non senjata ke Afghanistan, melewati wilayah Rusia. Prikhodko menambahkan, perjanjian yang akan ditandatangani pekan depan akan memungkinkan Amerika Serikat mengirimkan senjata ke Afghanistan melalui wilayah udara dan darat Rusia. Ini merupakan isyarat baik dari Kremlin dalam membuka lembaran baru hubungan bilateral Rusia-Amerika Serikat.

Sementara itu, Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin akan menggunakan pertemuan pekan depan sebagai kesempatan untuk meluruskan kesan pribadi, demikian dinyatakan juru bicara Putin, Dmitry Peskov, di Moskow. Sebelum keberangkatannya ke Rusia, Presiden AS Barack Obama mengungkapkan, "Perdana Menteri Putin masih punya pengaruh besar di Rusia. Saya pikir, sangat penting, dengan kami dan Presiden Medvedev melangkah ke depan, Putin diharapkan mengerti bahwa pendekatan gaya perang dingin Rusia ke Amerika Serikat sudah ketinggalan zaman."

Juru bicara Putin, Dmitry Peskov, mengatakan, kemungkinan Obama tidak mendapatkan cukup informasi mengenai Rusia dan Putin. Peskov menambahkan, dengan mengunjungi Moskow, diharapkan Obama memahami realitas di lapangan. Peskov menggarisbawahi pernyataan Obama mengenai “perang dingin telah usai“. Kata Peskov, Putin sudah mengetahuinya sejak lama.

Meski, dalam video blognya, Presiden Rusia Dmitry Medvedev membenarkan, hubungan Amerika Serikat dan Rusia beberapa tahun ini memburuk.

"Sayangnya hubungan kedua negara kami memburuk dalam beberapa tahun terakhir. Krisis kepercayaan, sikap pasif dan keengganan untuk bertindak, banyak sebutannya. Tapi kenyataannya, meski adanya hubungan pribadi yang baik presiden AS sebelumnya, hubungan Rusia dan AS praktis berada di tingkat seperti pada zaman perang dingin," ungkap Medvedev.

LS/ZER/rtr/ap/afp