Tepat 84 tahun lalu, rejim Nazi mewajibkan seluruh warga Yahudi di Jerman mengenakan bintang kuning. Ia tidak hanya menandai pengucilan dari masyarakat, tetapi juga melapangkan jalan bagi Holocaust.
Bintang Yahudi di era NaziFoto: Wolfram Steinberg/dpa/picture alliance
Iklan
Di era Nazi Jerman, Bintang Daud, yang dalam sejarah tak pernah eksklusif diklaim milik Bangsa Yahudi, tiba-tiba menjadi simbol Holocaust, salah satu kasus pembersihan etnis paling brutal dalam sejarah modern.
Legislasi ini menetapkan secara rinci siapa yang tergolong Yahudi penuh, setengah Yahudi, campuran tingkat pertama atau kedua, atau "Yahudi sah" — sebagian besar kemudian diwajibkan mengenakan bintang.
"Menerangi musuh di dalam"
Sebelum perang berkobar, Reinhard Heydrich, kepala kantor pusat keamanan Nazi, sudah mengkaji bagaimana membuat "musuh di dalam” Jerman "bisa terlihat oleh dunia.”
Cuplikan Buku Harian Korban Yang Selamat dari Kamp Auschwitz
Sheindi Miller-Ehrenwald berumur 14 tahun saat dideportasi ke Auschwitz. Tulisan tentang deportasi dan kehidupannya di kamp, kini dipajang di museum sejarah Jerman di Berlin.
Foto: Yad Vashem, Jerusalem
Deportasi Auschwitz-Birkenau
Saat Nazi menduduki Hongaria bulan Maret 1944, populasi Yahudi dilucuti hak-hak sipilnya, dipersekusi, dideportasi dan pada akhirnya dibunuh. Sheindi Ehrenwald berusia 14 tahun saat itu, mencatat semuanya. Termasuk deportasi dan kehidupan di kamp konsentrasi Auschwitz-Birkenau. Hampir seluruh anggota keluarganya dibunuh oleh Nazi.
Foto: Holokauszt Emlékközpont, Budapest
Foto masa lalu
Foto ini kemungkinan berasal dari tahun 1935, saat semua masih normal di kehidupan keluarga Ehrenwald. Mereka pedagang dan bagian dari komunitas besar yang tinggal di kota Galanta dekat perbatasan ke Austria. Pria di barisan depan adalah ayah Sheindi, Lipot (Leopold) Ehrenwald, yang meninggal di Auschwitz.
Setelah tiba di Auschwitz-Birkenau, pendatang baru yang tidak langsung dieksekusi dipaksa untuk bekerja. Sheindi dibawa ke pabrik senjata di Niederschlesien.
Foto: Yad Vashem, Jerusalem
Menulis di kartu indeks
Sheindi diam-diam menulis kisahnya di kartu indeks yang dibuang oleh pabrik senjata. Ia berhasil menyembunyikan dan menyimpannya selama 14 bulan sebelum hari pembebasan. Buku hariannya adalah testimoni langka dari masa tersebut. (vlz/yp)
Tak lama setelah Reichspogromnacht pada November 1938, ketika sinagoga dibakar dan toko-toko Yahudi dihancurkan, Heydrich menulis, "setiap Yahudi menurut Undang-Undang Nuremberg harus mengenakan tanda tertentu. Ini salah satu cara yang mempermudah banyak hal.”
Bagi rejim Nazi, Bintang Daud memudahkan aparat mengidentifikasi orang Yahudi dan mendeportasi mereka ke kamp konsentrasi. Kewajiban ini tidak hanya berlaku di Jerman, tapi juga wilayah yang diduduki.
Pada awal perang, September 1939, warga Yahudi di Polandia yang diduduki Nazi diwajibkan memakai gelang putih dengan bintang biru. Seiring pendudukan di negara lain, kewajiban mengenakan tanda pengenal bagi warga Yahudi diperluas.
Keraguan Hitler
Sebelum perang, Adolf Hitler awalnya sempat ragu. Pada tahun 1937, dia mengatakan kepada pejabat NSDAP, betapa "masalah penandaan ini telah dipertimbangkan selama dua, tiga tahun dan suatu hari nanti pasti akan dilakukan. Hidung kita harus bisa menicum: apa yang bisa kita lakukan, apa yang tidak bisa kita lakukan?”
Keraguan itu menghilang seiring dimulainya perang. Pada tahun 1941, Menteri Propaganda Joseph Goebbels menyarankan sekali lagi agar Hitler menyetujui penandaan orang Yahudi, dan pada pertengahan Agustus, Hitler memberikan persetujuan. Peraturan polisi mulai berlaku pada 1 September 1941.
Peraturan itu menetapkan secara rinci, "Bintang enam berukuran sebesar telapak tangan, dengan pinggiran hitam, dari kain kuning, bertuliskan ‘Jude' dengan tinta hitam, harus dijahit terlihat di sisi kiri dada pakaian.”
Peraturan ini berlaku bagi semua warga Yahudi berusia enam tahun ke atas, menurut Undang-Undang Nuremberg. Mulai saat itu, mereka "dilarang muncul di muka umum tanpa bintang Yahudi.” Siapa pun yang mencoba menyembunyikannya dengan tas, mantel, atau syal akan menghadapi hukuman berat dari Gestapo, yang mengawasi kepatuhan dengan ketat.
Terkenal Karena Buku Harian, Siapakah Anne Frank?
Dua tahun lamanya Anne Frank dan keluarganya bersembunyi dari tentara SS di paviliun rahasia di Amsterdam. Lokasi mereka ditemukan 80 tahun lalu pada 4 Agustus dan dideportasi ke Auschwitz. Buku harian Anne terkenal.
Foto: Arno Burgi/ZB/picture alliance
Melarikan diri dari NAZI
Tahun 1934, Anne Frank dan keluarganya melarikan diri dari Jerman ke Belanda untuk menghindari persekusi NAZI. Selama Perang Dunia II mereka pun harus bersembunyi untuk menghindari Nazi. Mereka tinggal tersembunyi di sebuah bangunan rahasia di Amsterdam selama dua tahun, hingga seseorang berkhianat. Pada 4 Agustus 1944, Anne Frank dan keluarganya ditemukan, ditangkap, dan dideportasi ke Auschwitz.
Foto: Cinema Publishers Collection/IMAGO
Mengungsi sejak usia 4 tahun
Anne Frank (kiri depan) punya seorang saudara perempuan bernama Margot (kanan belakang), yang tiga setengah tahun lebih tua darinya. Ayahnya Otto Frank mengambil foto ini pada ulang tahun Margot yang kedelapan, Februari 1934. Anne berusia empat tahun saat itu dan keluarganya sudah berada di pengasingan di Belanda.
Foto: Otto Frank/AP Photo/picture alliance
Tempat persembunyian di Amsterdam
Otto Frank, ayah Anne, memimpin sebuah cabang perusahaan Jerman di Amsterdam. Ketika persekusi terhadap Yahudi dimulai, sang ayah mendirikan tempat persembunyian di belakang kantornya. Keluarga beranggotakan empat orang ini tinggal di sana dari tahun 1942 hingga 1944, bersama dengan empat orang lainnya. Di sini, Anne Frank menulis buku hariannya yang terkenal di dunia.
Foto: Daniel Kalker/picture alliance
Tempat persembunyian Anne
Di Museum Anne Frank House di Amsterdam, pengunjung dapat melihat paviliun rahasia tempat persembunyian Anne dan keluarganya. Selama berbulan-bulan, gadis muda itu harus berbagi kamar sempitnya dengan dokter gigi Yahudi Fritz Pfeffer, yang dia tulis dengan nama Albert Dussel dalam buku hariannya. Di sebelah kanan adalah mejanya, tempat Anne menulis hampir setiap hari.
Foto: H.Mund/DW
Buku harian jadi sahabatnya
Sejak awal Anne menulis di diarinya hampir setiap hari. Buku harian ini menjadi semacam sahabat yang dia beri nama Kitty. Kehidupan yang Anne jalani dalam persembunyian benar-benar berbeda dari masa-masa gembira sebelumnya. "Yang paling saya sukai adalah setidaknya saya bisa menuliskan apa yang saya pikirkan dan rasakan, kalau tidak saya bisa mati lemas," tulis Anne.
Foto: Ade Johnson/picture alliance/dpa
Maut di Bergen-Belsen
Anne Frank dan saudara perempuannya Margot dibawa dari Auschwitz ke Bergen-Belsen pada 30 Oktober 1944. Lebih dari 70.000 orang tewas di kamp konsentrasi ini. Setelah kamp konsentrasi dibebaskan, para korban dibawa dengan truk ke kuburan massal di bawah pengawasan tentara Inggris. Anne dan Margot Frank juga meninggal di sini. Anne baru berusia 15 tahun.
Foto: dpa/picture alliance
Kuburan Anne dan Margot
Nisan Anne juga ada di Bergen-Belsen. Gadis Yahudi asal Frankfurt am Main ini membayangkan hidupnya secara berbeda: "Saya tidak ingin hidup sia-sia seperti kebanyakan orang. Saya ingin membawa kegembiraan dan manfaat bagi orang-orang yang tinggal di sekitar saya tapi belum kenal saya. Saya ingin terus hidup, bahkan setelah saya mati." Ini adalah catatan buku hariannya tertanggal 5 April 1944.
Foto: Julian Stratenschulte/picture alliance/dpa
Terkenal karena buku hariannya
Impian besar Anne adalah menjadi jurnalis atau penulis. Berkat ayahnya, buku hariannya diterbitkan pada 25 Juni 1947, berjudul The Secret Annex. Masih banyak lagi edisi dan terjemahan yang kemudian terbit. Anne Frank jadi sosok simbolis para korban kediktatoran Nazi. “Kita semua hidup dengan tujuan untuk menjadi bahagia, kita semua hidup berbeda namun tetap sama.” (Anne Frank, 6 Juli 1944).
Foto: Arno Burgi/ZB/picture alliance
8 foto1 | 8
Isolasi, diskriminasi, kontrol
Victor Klemperer, seorang romanis berdarah Yahudi, sejatinya telah berpindah ke agama Protestan sebelum Perang Dunia I. Tapi hal itu tidak mengubah penilaian Nazi, bagi mereka, dia tetap seorang Yahudi. Klemperer kehilangan jabatan guru besar di Dresden pada 1935 dan ikut dipaksa mengenakan bintang pengenal.
Dalam buku hariannya dia menulis: "Kemarin, ketika Eva menjahit bintang Yahudi, saya mengalami ledakan putus asa. Saraf Eva juga tegang. Saya sendiri merasa hancur, tak menemukan ketenangan.”
Penyintas Holocaust Inge Deutschkron mengingat pada 2013, betapa "mayoritas orang Jerman yang saya temui di jalanan Berlin menoleh jika melihat bintang ini pada saya, atau seakan tidak melihat saya, atau memalingkan muka." Bintang itu, katanya, menciptakan isolasi, diskriminasi, kontrol.
Iklan
Persiapan Holocaust
Kewajiban mengenakan bintang cuma langkah awal persiapan Nazi untuk menjalankan "Solusi Akhir bagi Masalah Yahudi," yakni pembasmian total. Bersamaan dengan itu, orang Yahudi dilarang meninggalkan lingkungan tempat tinggal tanpa izin polisi.
Segalanya tersusun rapi untuk Holocaust. Tidak mengherankan, deportasi ke kamp pembantaian dimulai hanya sebulan kemudian, Oktober 1941. Victor Klemperer dan Inge Deutschkron selamat, jutaan lainnya tidak.
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid dan