1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PendidikanJerman

Jerman: Bagaimana Sekolah Hapus Ketimpangan Pendidikan?

23 Juni 2026

Diskriminasi pendidikan beradasarkan latar belakang sosial dan ekonomi masih jamak di Jerman, begitu menurut riset teranyar. Korban terbesar biasanya kaum migran. Sebuah sekolah di Bonn menjajal cara yang lebih inklusif.

Seorang murid perempuan memgang sebuah buku. Di latar belakang satu rak buku
Seorang murid perempuan di Bonn, JermanFoto: Benjamin Westhoff/dpa/picture alliance

Bagaimana sebuah sekolah dasar, yang dua dekade lalu dibenci para guru, bisa bertransformasi menjadi lembaga teladan hingga meraih Penghargaan Sekolah Jerman?

Kisah kebangkitan ini diukir oleh Sekolah Ketteler di Bonn. Jika pada 2007 hanya 0,5% siswanya yang menembus tingkat Gymnasium dan mengamankan tiket menuju perguruan tinggi, kini jumlahnya mencapai 30%.

Rahasianya adalah bahwa tidak ada lagi murid yang dibiarkan tertinggal. Setiap anak mendapatkan pendampingan sesuai kebutuhan dan dipersiapkan secepat mungkin agar mampu mengikuti pelajaran.

Di balik perubahan besar ini tertanam jasa Christina Lang-Winter. Dia datang ke Sekolah Ketteler pada 2004 sebagai guru muda, lalu tidak lama kemudian menjadi kepala sekolah. Sejak saat itu, Christina mulai "membongkar total" cara kerja sekolah.

Christiane Lang-Winter, kepala Sekolah Ketteler di Bonn, JermanFoto: Oliver Pieper/DW

"Saya segera menyadari bahwa pilihannya hanya dua: saya pergi atau sekolah ini harus berubah. Saya ingin anak-anak di sini memiliki kesempatan yang sama seperti anak-anak dari keluarga yang sejak awal mampu memberikan banyak dukungan dan peluang," kata dia.

Sekolah Ketteler berada di kawasan utara Bonn yang secara sosial tergolong kurang beruntung. Hampir seluruh dari 250 muridnya memiliki latar belakang migrasi, sementara sepertiga siswa merupakan anak berkebutuhan khusus yang memerlukan pendampingan tambahan.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, Sekolah Ketteler mencatat hasil di atas rata-rata dalam berbagai tes prestasi di negara bagian Nordrhein-Westfalen.

Salah satu kunci keberhasilannya adalah keputusan awal Christina untuk menerapkan sistem "keluarga belajar", yaitu model pembelajaran lintas usia. Anak berusia enam tahun belajar bersama anak berusia sembilan tahun dan saling membantu satu sama lain.

Namun, yang paling utama adalah fokus luar biasa terhadap kemampuan membaca dan bahasa. Christina membawahi guru, pekerja sosial, dan pendidik khusus yang memastikan setiap murid selalu memegang buku. Terutama bagi siswa kelas satu, membaca menjadi prioritas utama.

"Kita harus memastikan semua anak yang hidup di negara ini memperoleh dukungan bahasa yang sangat baik sehingga mereka bisa berbicara dengan lancar. Tanpa bahasa, pendidikan tidak mungkin berjalan. Jika saya tidak memiliki bahasa, saya juga tidak bisa mendapatkan pendidikan," ujar Christina.

Ketidaksetaraan bayangi pendidikan Jerman

Apa yang disampaikan Christina Lang-Winter sebenarnya sudah lama menjadi persoalan di Jerman dan kembali ditegaskan dalam Laporan Pendidikan Nasional: keberhasilan pendidikan masih sangat dipengaruhi oleh latar belakang sosial, pendapatan, dan tingkat pendidikan orang tua.

Menurut studi UNICEF, kemampuan akademik siswa Jerman berusia 15 tahun dalam matematika dan membaca berada di peringkat ke-20 dari 43 negara. Anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki kemungkinan lima kali lebih besar gagal mencapai standar minimum kemampuan membaca dibandingkan siswa dari keluarga yang lebih beruntung.

Dampaknya cukup serius. Jumlah remaja di Jerman yang meninggalkan sekolah tanpa ijazah kini meningkat menjadi delapan persen.

Cuma di Jerman: Umur 10 Tahun Sudah Harus Pilih Jalan Hidup?

01:33

This browser does not support the video element.

Pemerintah ingin dorong perubahan sejak dini

Menteri Pendidikan Federal Jerman dari Partai CDU, Karin Prien, memperingatkan bahwa ketimpangan pendidikan sebenarnya mulai muncul jauh sebelum anak memasuki sekolah dasar.

"Yang kita lihat sekarang adalah kesenjangan pendidikan mulai terbentuk sejak kelahiran, terus melebar hingga usia enam tahun, dan setelah itu hampir tidak lagi mengecil. Anak-anak harus belajar bahasa Jerman di taman kanak-kanak dan mendapatkan dukungan lebih baik dalam aspek perkembangan lainnya," kata Prien.

Sebelum masa reses musim panas, dia berencana mengajukan Undang-Undang Pengembangan Kualitas Taman Kanak-Kanak ke parlemen. Rancangan aturan ini bertujuan menetapkan standar kualitas pendidikan anak usia dini yang berlaku secara nasional.

Sekolah Ketteler karena itu berhubungan erat dengan taman kanak-kanak di sekitar bahkan sebelum anak-anak resmi menjadi murid. Setiap Senin dan Rabu, anak-anak prasekolah datang ke sekolah selama 90 menit. Sebaliknya, murid yang sudah mahir membaca mengunjungi taman kanak-kanak untuk membacakan cerita kepada anak-anak yang lebih kecil.

"Dulu ada pandangan bahwa sekolah tidak boleh memiliki kontak dengan anak-anak di taman kanak-kanak agar mereka tidak diberi label tertentu. Saya membalik cara berpikir itu. Saya ingin mengetahui segala sesuatu tentang anak-anak tersebut lebih awal agar bisa membantu mereka secepat mungkin," kata Christina.

Siswa tuntut tambahan dukungan

Kurangnya kesetaraan kesempatan dalam sistem pendidikan Jerman juga sudah lama dikritik oleh para siswa sendiri.

Koordinator pers Konferensi Siswa Federal Jerman, Isabelle Seltenreich, mengatakan pendidikan seharusnya tidak bergantung pada asal-usul sosial, kondisi ekonomi keluarga, ataupun tempat tinggal. 

Kecerdasan Buatan Ringankan Beban Guru

04:06

This browser does not support the video element.

Dia menuntut penguatan jangka panjang bagi sekolah-sekolah yang kurang beruntung, penambahan tenaga pengajar dan fasilitas, kelas dengan jumlah siswa lebih kecil, serta perluasan tim multidisiplin yang terdiri dari pekerja sosial dan psikolog sekolah.

Selain itu, menurutnya, dukungan individual bagi setiap anak harus diperluas.

"Sekolah harus mampu mengakomodasi perbedaan kemampuan belajar dan memberikan dukungan terbaik bagi setiap siswa, bukan justru memperkuat kesenjangan yang sudah ada. Tidak boleh ada satu pun siswa yang hilang dalam sistem," ujarnya.

Seruan untuk merombak sistem sekolah

Pandangan serupa disampaikan oleh pakar pendidikan Silke Müller. Dalam buku terbarunya berjudul Sekolah Melawan Anak: Bagaimana Sistem Pendidikan yang Rusak Mengancam Masa Depan Generasi Berikutnya, mantan guru sekolah menengah di Niedersachsen selama 16 tahun itu mengkritik keras sistem pendidikan Jerman.

Menurut Müller, sistem saat ini belum mampu memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh anak. Keberhasilan siswa terlalu bergantung pada siapa guru atau pendidik yang kebetulan mereka temui selama perjalanan pendidikan.

Baginya, sekolah ideal harus dibangun dari perspektif anak.

"Sekolah tidak lagi seharusnya terkotak-kotak dalam mata pelajaran, karena dunia nyata juga tidak terbagi ke dalam mata pelajaran, melainkan dalam berbagai fenomena dan keterampilan yang harus dikuasai," ujarnya.

Dia membayangkan ruang kelas dengan dua guru yang dapat mendampingi siswa dengan cara berbeda. Sekolah juga harus lebih banyak menghadirkan kehidupan nyata melalui kerja sama dengan orang-orang dari luar sekolah yang memiliki pengalaman dan keahlian praktis.

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Rizki Nugraha

Editor: Yuniman Farid

Oliver Pieper Reporter meliput isu sosial dan politik Jerman dan Amerika Selatan.
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait