Negara-negara di dunia mulai melihat keterkaitan antara keruntuhan ekosistem dan ketidakstabilan geopolitik. Konsep menukar utang luar negeri untuk mendanai konservasi alam kini kian menjadi pilihan serius.
Sebuah penilitian di Inggris memperingatkan bahwa perusakan ekosistem kritis seperti Hutan Hujan Amazon, yang terlihat pada gambar, akan berimplikasi pada keamanan negara global.Foto: Alan Chaves/AFP/Getty Images
Iklan
Hutan yang digunduli, ekosistem laut yang rusak atau kepunahan hewan penyerbuk jarang dianggap sebagai ancaman keamanan nasional. Namun, kesadaran mulai merebak di penjuru dunia, bahwa kerusakan ekosistem turut membidani konflik.
"Alam adalah pondasi keamanan nasional," tulis para penulis dari Departemen Lingkungan, Pangan dan Desa Inggris (DEFRA) dalam laporan terbarunya. Mereka menemukan besarnya peran ekosistem dalam menopang stabilitas suatu negara.
Hilangnya keanekaragaman hayati mengancam air, makanan, udara bersih, dan sumber daya penting yang menjadi dasar kehidupan manusia. Risiko ini tidak hanya datang dari degradasi alam di tingkat lokal. Laporan tersebut memperingatkan bahwa kondisi enam wilayah ekosistem kritis di Bumi, termasuk Hutan Hujan Amazon yang terancam ambruk pada pertengahan abad ini, secara langsung mempengaruhi keamanan nasional.
Hal ini dikarenakan keruntuhan ekosistem kritis, meskipun jauh, mengganggu keseimbangan yang dapat "menyebabkan perpindahan jutaan orang, mengubah pola cuaca global, meningkatkan kelangkaan pangan dan air secara global, serta memicu kompetisi geopolitik untuk sumber daya yang tersisa,” berdasarkan laporan tersebut.
Risiko yang terasa secara langsung adalah menipisnya stok pangan. Lebih dari sepertiga stok ikan di laut dunia sudah habis ditangkap secara berlebihan. Sementara lebih dari tiga perempat tanaman pangan global bergantung pada populasi serangga penyerbuk yang menghadapi kepunahan akibat pertanian intensif.
Bencana Sumatra: Krisis Kemanusiaan dan Kerusakan Lingkungan
Banjir dan longsor melanda Sumatra, menewaskan ratusan orang, dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi. Di balik tragedi ini, kerusakan ekosistem memperparah dampaknya. Bahkan, satwa liar turut menjadi korban.
Foto: Stringer/REUTERS
Melanda tiga provinsi
Banjir dan longsor melanda tiga provinsi di Pulau Sumatra: Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, lebih dari 780 orang meninggal dunia, sementara sekitar 560 orang masih hilang di 50 kabupaten/kota yang terdampak.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Ribuan rumah dan infrastruktur hancur
Menurut data BNPB, kerusakan di Aceh mencakup 204 jembatan, 75 sekolah, 99 kantor, 48 rumah ibadah, dan 5.200 rumah. Di Sumatra Utara, 27 jembatan, 19 rumah ibadah, 1 fasilitas kesehatan, serta 2.400 rumah rusak. Sementara di Sumatra Barat, kerusakan meliputi 64 jembatan, 65 rumah ibadah, 8 fasilitas kesehatan, 1 kantor, 84 sekolah, dan 2.800 rumah.
Foto: Levie Wardana/DW
Modifikasi cuaca di Aceh dan Sumatra Utara
BNPB bersama BMKG melakukan operasi modifikasi cuaca di Aceh dan Sumatra Utara untuk mempercepat penanganan dampak bencana. Langkah ini diharapkan mempercepat pembersihan jalur transportasi darat dan memastikan pengiriman logistik lewat udara tidak terhambat cuaca buruk.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Polemik status bencana nasional
Tingginya korban dan kerusakan membuat masyarakat menanti penetapan banjir Sumatra sebagai bencana nasional. Namun, Menko PMK Pratikno menegaskan status itu tidak diberikan karena penanganan sudah bertaraf nasional. "Dan kami telah mewaspadai dan mempersiapkan sedini mungkin untuk mengurangi risiko semaksimal mungkin," ujarnya.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Akibat kerusakan lingkungan
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan Satgas Penertiban Kawasan Hutan sedang menelusuri penyebab terjadinya bencana banjir dan longsor Sumatra. "Selain faktor cuaca ekstrem, ada faktor kerusakan lingkungan yang memperparah bencana," katanya, Rabu (03/12). Selain itu, pemerintah juga terus berkonsentrasi untuk mengevakuasi dan menangani warga yang terdampak bencana.
Foto: Levie Wardana/DW
Bukti kondisi lingkungan kritis
Gelondongan kayu yang terseret arus memicu sorotan terhadap kerusakan hutan di hulu, dari konversi lahan hingga dugaan illegal logging. Arie Rompas, Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace, menilai hampir semua Daerah Aliran Sungai (DAS) di Sumatra kritis dengan tutupan hutan alam kurang dari 25%, jauh di bawah batas ideal 30% sesuai UU Kehutanan sebelum dihapus Omnibus Law.
Foto: Levie Wardana/DW
Satwa liar turut jadi korban
Banjir dan longsor juga merusak habitat satwa liar. Jasad seekor gajah Sumatra ditemukan terseret arus di Pidie Jaya, Aceh, memicu kekhawatiran terhadap hilangnya keanekaragaman hayati. Ahli menilai bencana bukan hanya mengancam manusia, tetapi juga satwa yang kehilangan rumah dan sumber pakan.
Foto: Levie Wardana/DW
7 foto1 | 7
Saat krisis iklim merebak dan ekosistem melemah, masyarakat menghadapi risiko anjloknya kualitas hidup, yang pada akhirnya berpotensi menimbulkan gejolak politik.
Ancaman ini terasa besar bagi Inggris yang mengimpor 40% bahan makanan dan tidak memiliki lahan pertanian yang cukup untuk mengimbangi laju konsumsi nasional. Di Amerika Serikat, antara 75% hingga 90% makanan laut berasal dari impor. Di dunia yang semakin tidak stabil, gangguan di luar negeri dapat berujung pada lonjakan harga dan kelangkaan pasokan di dalam negeri.
"Melindungi dan memulihkan ekosistem meningkatkan ketahanan sistem pangan dan masyarakat terhadap kejutan," tulis DEFRA.
Iklan
Menukar saham dan obligasi dengan investasi untuk alam
Tantangan melindungi alam dan mengurangi risiko keamanan sama besarnya antara masalah finansial dan ekologis. Bagi negara yang rentan secara ekonomi dengan beban utang yang tinggi, maraup pendapatan jangka pendek dari penebangan dan eksploitasi sumber daya adalah jalan pintas yang menggiurkan.
Dunia menghabiskan €6,2 triliun (Rp 124 kuadriliun) untuk aktivitas yang merusak alam, 30 kali lebih banyak dibandingkan yang digunakan untuk perlindungan, menurut Program Lingkungan PBB (UNEP).
Dibutuhkan perubahan dramatis dalam pola pengeluaran, kata para advokat lingkungan. Di sinilah muncul gagasan Debt for Nature atau pertukaran utang luar negeri untuk dana konservasi lingkungan, alat finansial yang semakin populer untuk memberi modal baru yang digunakan untuk melindungi ekosistem vital.
Gagasan ini sudah ada sejak 1980-an, di mana kreditur mengabulkan restrukturisasi dan penghapusan utang dengan syarat dialihkan untuk mendanai konservasi lingkungan.
Pada awalnya, kesepakatan ini diratifikasi antara lembaga swadaya konservasi dan pemerintah, dengan nilai yang relatif kecil.
Pertukaran pertama terjadi pada 1987 antara Conservation International dan Bolivia. LSM tersebut membeli sebagian utang Bolivia, sehingga negara itu dapat mengalokasikan lebih banyak dana untuk melindungi Cagar Biosfer Beni di wilayah sungai Amazon.
Meski ada kekhawatiran domestik akan kedaulatan negara dan pelanggaran hak tanah adat, pertukaran ini membantu memperkuat perlindungan cadangan hutan dan memicu gelombang kesepakatan serupa di seluruh Amerika Latin.
Pertukaran terbaru terjadi pada 2021 di Beliza membantu negara pesisir Laut Karibia tersebut mengurangi beban utang yang membengkak, sambil menyalurkan jutaan dolar untuk pengelolaan perikanan dan konservasi laut.
"Jika kita melindungi area tertentu di laut, mereka berfungsi sebagai inkubator bagi stok ikan di tempat lain," kata Gaia Larsen, yang mengawasi pembiayaan iklim untuk negara berkembang di World Resources Institute.
Seiring populasi ikan menurun secara global, perlindungan seperti ini mungkin menjadi sangat penting untuk memastikan pasokan pangan. Lebih dari 3 miliar orang bergantung pada makanan laut sebagai sumber protein utama.
Perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati mendorong perpindahan penduduk lintas batas negara.Foto: Hassan Ali Elmi/AFP/Getty Images
Era baru: Pendanaan swasta untuk perlindungan alam
Bagi para investor swasta, pengembalian dengan hasil mirip obligasi menjadi daya tarik tersendiri. Legal & General, manajer aset terbesar di Inggris, baru-baru ini berjanji menyumbangkan USD 1 miliar (17 triliun) untuk pertukaran utang untuk alam yang baru, menurut pernyataan yang mereka kirimkan ke DW.
"Kami percaya transaksi ini menawarkan potensi risiko dan imbalan yang menarik sekaligus mendukung komunitas dan ekosistem yang fundamental bagi ketahanan ekonomi global," kata Senior Investment Manager Jake Harper.
Ketika institusi keuangan besar melakukan investasi signifikan, itu menjadi sinyal positif bagi pihak lain yang mempertimbangkan pertukaran serupa, kata Adam Tomasek, kepala Debt for Nature Coalition yang beranggotakan LSM konservasi dan filantropi.
"Komitmen mereka mempercepat kemampuan transaksi ini terealisasi dengan kepastian lebih awal dalam proses," kata Tomasek kepada DW.
Dan pertukaran utang untuk alam hanyalah salah satu alat finansial untuk mengatasi masalah aksi kolektif keanekaragaman hayati global.
Dampak Perubahan Iklim, Dunia Mengalami Krisis Air
Meningkatnya suhu dan gelombang panas yang ekstrem telah membuat negara-negara di seluruh dunia gersang. Bencana kekeringan melanda Cina, AS, Etiopia, hingga Inggris.
Foto: CFOTO/picture alliance
Krisis kelaparan di Tanduk Afrika
Etiopia, Kenya, dan Somalia saat ini mengalami kekeringan terburuk dalam lebih dari 40 tahun. Kondisi lahan kering menyebabkan masalah ketahanan pangan yang parah di wilayah tersebut, dengan 22 juta orang terancam kelaparan. Lebih dari 1 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka karena bencana kekeringan, yang diperkirakan akan berlanjut selama berbulan-bulan.
Foto: Eduardo Soteras/AFP/Getty Images
Sungai Yangtze mengering
Dasar sungai terpanjang ketiga di dunia, Sungai Yangtze, tersingkap karena krisis kekeringan melanda Cina. Permukaan air yang rendah berdampak pada distribusi dan pembangkit listrik tenaga air, dengan produksi listrik dari Bendungan Tiga Ngarai turun 40%. Sebagai upaya membatasi penggunaan listrik, beberapa pusat perbelanjaan mengurangi jam buka dan pabrik melakukan penjatahan listrik.
Foto: Chinatopix/AP/picture alliance
Hujan yang jarang terjadi di Irak
Irak yang sangat rentan terhadap perubahan iklim dan isu penggurunan terus berjuang mengatasi kekeringan yang terjadi selama tiga tahun berturut-turut. Sebuah situs Warisan Dunia UNESCO di selatan negara itu pun telah mengering. Bencana kekeringan berkontribusi pada kontraksi ekonomi sekitar 17% dari sektor pertaniannya selama setahun terakhir.
Foto: Ahmad Al-Rubaye/AFP
Pembatasan penggunaan air di Amerika Serikat
Pasokan air Sungai Colorado menyusut setelah curah hujan jauh di bawah rata-rata selama lebih dari dua dekade. Krisis ini diyakini sebagai yang terburuk dalam lebih dari 1.000 tahun. Sungai yang mengalir melalui barat daya Amerika Serikat dan Meksiko, memasok air bagi jutaan orang dan lahan pertanian. Sejumlah negara bagian diminta untuk mengurangi penggunaan air dari Sungai Colorado.
Foto: John Locher/AP Photo/picture alliance
47% wilayah Eropa terancam kekeringan
Eropa mengalami gelombang panas ekstrem, sedikit hujan, dan kebakaran hutan. Hampir setengah wilayah benua itu saat ini terancam kekeringan, yang menurut para ahli bisa menjadi yang terburuk dalam 500 tahun. Sungai-sungai besar termasuk Rhein, Po, dan Loire telah menyusut. Permukaan air yang rendah berdampak pada transportasi barang dan produksi energi.
Foto: Ronan Houssin/NurPhoto/picture alliance
Dilarang pakai selang di Inggris
Beberapa wilayah di Inggris berada dalam status kekeringan pada pertengahan Agustus. Krisis kekeringan parah sejak 1935 melanda negara itu di bulan Juli. Pihak berwenang mencatat suhu terpanas Inggris pada 19 Juli mencapai 40,2 derajat Celsius. Penggunaan selang air untuk menyiram kebun atau mencuci mobil tidak diperbolehkan lagi selama Agustus di seluruh negeri.
Foto: Vuk Valcic/ZUMA Wire/IMAGO
Masa lalu prasejarah Spanyol terbongkar
Spanyol sangat terdampak oleh krisis kekeringan dan gelombang panas. Kondisi tersebut telah memicu kebakaran hutan hebat yang menghanguskan lebih dari 280.000 hektar lahan dan memaksa ribuan orang mengungsi. Permukaan air yang surut di sebuah bendungan mengungkap lingkaran batu prasejarah yang dijuluki "Stonehenge Spanyol".
Foto: Manu Fernandez/AP Photo/picture alliance
Beradaptasi dengan dunia yang lebih kering
Dari Tokyo hingga Cape Town, banyak negara dan kota di dunia beradaptasi mengatasi kondisi yang semakin kering dan panas. Solusinya tak harus berteknologi tinggi. Di Senegal, para petani membuat kebun melingkar yang memungkinkan akar tumbuh ke dalam, yang bisa menampung air berharga di daerah yang jarang hujan. Di Cile dan Maroko, orang menggunakan jaring yang mampu mengubah kabut jadi air minum.
Foto: ZOHRA BENSEMRA/REUTERS
Berjuang untuk tetap terhidrasi
Setelah Cape Town, Afrika Selatan, nyaris kehabisan air pada tahun 2018, kota ini memperkenalkan sejumlah langkah untuk memerangi kekeringan. Salah satu solusinya adalah menghilangkan spesies invasif seperti pinus dan kayu putih, yang menyerap lebih banyak air dibanding tanaman asli seperti semak fynbos. Pendekatan berbasis alam telah membantu menghemat miliaran liter air. (ha/yf)
Foto: Nic Bothma/epa/dpa/picture alliance
9 foto1 | 9
Ancaman berantai akibat kerusakan alam
Selain keamanan pangan, melindungi ekosistem kritis dapat memicu reaksi berantai: memperlambat perubahan iklim, mengurangi tekanan yang memicu migrasi, dan membantu mereka dengan ekonomi yang rentan.
Hutan dan lautan berfungsi sebagai penyerap karbon besar, menyerap gas rumah kaca yang sebaliknya akan menumpuk di atmosfer. Dengan membatasi pemanasan global, mereka membantu mencegah kekeringan, gagal panen, dan cuaca ekstrem yang memicu ketidakstabilan.
Rusaknya alam berdampak pada biaya yang sangat besar. Pada 2023, lebih dari 90 juta orang yang dipaksa mengungsi tinggal di negara atau wilayah yang mengalami krisis pangan, menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).
"Kita membutuhkan negara mampu menjaga kestabilan ekonomi dan bertindak sebagai aktor yang berperan efektif," kata Larsen. "Bukan menjadi negara yang bergantung pada bantuan karena berada di ambang krisis, sehingga pada akhirnya negara donor pun harus turun tangan.”
Pemerintah Inggris mengidentifikasi serangkaian risiko berantai akibat keruntuhan ekosistem: kelompok kriminal terorganisir yang mencoba mengeksploitasi sumber daya langka, polarisasi politik, bahkan eskalasi militer.
"Ini investasi cerdas bagi pemerintah mana pun karena Anda mengurangi kemungkinan risiko pada keamanan domestik Anda sendiri," kata Tomasek.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris