1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Bagaimana Lindungi Akuifer Alami dan Cegah Kebangkrutan Air?

17 Juli 2026

Kemarau di tahun El Nino menggandakan risiko kekeringan, terlebih jika cadangan air tanah habis terkuras. Metode pengisian ulang akuifer alami belum banyak dilirik, meski krusial untuk memitigasi dampak krisis iklim.

Kekeringan di Jawa Tengah
Kekeringan di musim kemarau tahun 2023 di Jawa TengahFoto: Dasril Roszandi/AA/picture alliance

Musim kemarau baru berjalan, tetapi sejumlah daerah di Indonesia mulai menghadapi ancaman kekeringan. Fenomena ini diperkirakan semakin terasa pada Juli hingga September, terutama di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Sulawesi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim kemarau pada pertengahan tahun, sementara curah hujan cenderung berada pada kategori normal hingga di bawah normal di sejumlah daerah.

Di berbagai wilayah, hujan yang masih turun pada awal tahun belum cukup mengisi kembali cadangan air tanah. Menurut pemantauan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), beberapa cekungan air tanah di Pulau Jawa mengalami tekanan akibat tingginya penyedotan air dan berkurangnya daerah resapan.

Di sejumlah daerah, pemerintah lokal akibatnya acap harus membatasi penggunaan air bersih untuk kegiatan nonesensial di puncak musim kemarau. Ancaman kekeringan juga membayangi sektor pertanian, terutama di wilayah yang bergantung pada tadah hujan.

Air tanah: Tabungan yang tak terlihat

Dalam skala rumahan, area penampung air hujan mengunakan prinsip sederhana, yakni menabung saat musim penghujan lalu digunakan ketika kemarau datang. Air tanah bekerja dengan cara yang serupa, hanya dalam skala jauh lebih besar.

Air tanah terbentuk ketika air dari permukaan meresap ke dalam tanah, lalu terkumpul di atas lapisan batuan yang kedap air. Cadangan inilah yang menjadi sumber utama air bersih bagi jutaan orang di dunia.

Tenggelamnya Pesisir Utara Jawa

07:17

This browser does not support the video element.

Menurut UNESCO, hampir separuh air minum dunia berasal dari air tanah. Di Indonesia, sumber air ini juga memegang peranan penting. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut air tanah masih menjadi salah satu sumber utama air bersih, terutama di kawasan perkotaan serta wilayah yang belum terlayani jaringan air perpipaan

Cadangan air tanah terus menurun

Masalahnya, pemanfaatan air tanah terus meningkat sementara pengisiannya tidak sebanding.

Secara global, pengambilan air tanah kini lebih dari tiga kali lipat dibandingkan lima dekade lalu. Akibatnya, muka air tanah di banyak negara terus menurun sehingga sumur harus digali semakin dalam untuk memperoleh air.

Indonesia menghadapi persoalan serupa. Di Jakarta, Bandung, Semarang, hingga sebagian wilayah pesisir utara Jawa, eksploitasi air tanah telah berlangsung selama puluhan tahun. Selain mengosongkan akuifer alami, penyedotan massal turut memicu penurunan permukaan tanah, terutama di kawasan perkotaan.

Perubahan iklim ikut memperburuk situasi. Musim kemarau yang lebih panjang mengurangi daya resap tanah secara drastis. Akibatnya, ketika hujan turun dengan intensitas sangat tinggi, sebagian besar air tidak terserap, karena permukaan tanah yang kering, atau dilapisi beton dan aspal.

Padahal, air hujan seharusnya menjadi "tabungan" alami untuk menghadapi musim kering.

Mengalirkan air hujan ke dalam tanah

Alih-alih membuang limpasan air hujan secepat mungkin, sejumlah negara mulai mengembangkan teknologi untuk menyimpannya kembali ke dalam akuifer atau lapisan pembawa air tanah. Metode ini dikenal sebagai Managed Aquifer Recharge (MAR).

Prinsipnya sederhana. Air hujan atau air banjir ditampung terlebih dahulu, kemudian disaring sebelum dialirkan ke dalam sumur resapan atau kolam infiltrasi. Air meresap perlahan ke lapisan akuifer sehingga cadangan air tanah meningkat dan dapat dimanfaatkan kembali saat musim kemarau.

Teknologi serupa sebenarnya mulai diterapkan di Indonesia melalui pembangunan sumur resapan, kolam retensi, embung, hingga infrastruktur pengisian ulang air tanah di sejumlah daerah. 

Penyimpanan air dalam tanah

Keunggulan menyimpan air di bawah tanah adalah kehilangan akibat penguapan jauh lebih kecil dibandingkan waduk terbuka.

Konsep ini telah diterapkan di berbagai negara. Namibia memanfaatkan air olahan untuk mengisi kembali akuifer sejak awal 2000-an. Negara bagian Amerika Serikat, California, juga menjadikan pengisian ulang air tanah sebagai strategi utama menghadapi siklus banjir dan kekeringan yang semakin ekstrem akibat perubahan iklim.

Menurut California Department of Water Resources, lebih dari lima miliar meter kubik air berhasil disimpan kembali ke akuifer sepanjang 2023 melalui berbagai proyek pengisian ulang air tanah.

Sawah sebagai tempat penyimpanan air

Pilihan lain adalah memanfaatkan lahan pertanian sebagai area penampungan sementara ketika terjadi banjir.

Saat debit sungai meningkat, air dialihkan ke sawah atau lahan terbuka sehingga banjir berkurang. Setelah perlahan meresap ke dalam tanah, lahan tersebut dapat kembali digunakan untuk bertani.

Metode ini memiliki potensi besar karena lahan pertanian mencakup hampir 40 persen daratan dunia. Namun penerapannya harus memperhatikan jenis tanaman, kualitas air banjir, serta risiko pencemaran air tanah. 

Pengelolaan Berkelanjutan bagi Akuifer Alami

04:11

This browser does not support the video element.

Memulihkan sungai, mengisi air tanah

Pendekatan alami, yang belakangan semakin mendapat perhatian, adalah restorasi sungai.

Ketika bantaran sungai dipulihkan, sungai memiliki ruang lebih luas untuk meluap saat musim hujan. Air kemudian menggenangi dataran banjir, membentuk kolam-kolam alami, dan perlahan meresap ke dalam tanah. Selama proses tersebut, mikroorganisme di dalam tanah ikut menyaring air sehingga kualitas air tanah meningkat.

Selain mengurangi risiko banjir, restorasi sungai membantu mengisi kembali cadangan air tanah secara alami.

Di Indonesia, pendekatan berbasis alam mulai diadopsi dalam berbagai program rehabilitasi daerah aliran sungai oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Lingkungan Hidup, meski implementasinya masih menghadapi tantangan akibat alih fungsi lahan dan pesatnya urbanisasi.

Beberapa negara memanfaatkan sungai sebagai sumber pengisian air tanah melalui teknik filtrasi alami. Air sungai dialirkan melewati lapisan tanah sebelum dipompa kembali sebagai air baku sehingga kualitasnya meningkat tanpa memerlukan pengolahan yang terlalu rumit.

Di wilayah kering Afrika Timur, seperti Kenya, bendungan pasir (sand dam) dibangun di sungai-sungai musiman. Struktur sederhana ini menahan endapan pasir yang kemudian menjadi media penyimpan air. Air hujan meresap melalui lapisan pasir, tersimpan di bawah permukaan tanah, lalu dipompa kembali ketika musim kemarau tiba.

Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Ayu Purwaningsih

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait