Bagaimana Makanan Berlemak Tingkatkan Risiko Kanker Usus
18 Agustus 2026
Daftar risiko kesehatan yang berkaitan dengan makanan tinggi lemak dan rendah serat sangat panjang:
- kolesterol lipoprotein densitas rendah (LDL) atau kolesterol "jahat”
- penyumbatan pembuluh darah
- kenaikan berat badan
- penyakit jantung
- tekanan pada hati
- lonjakan gula darah
- gangguan pencernaan
Dan masih banyak lagi.
Kini, tim peneliti Jerman menunjukkan bagaimana pola makan ala Barat yang kerap sarat makanan berlemak dapat memicu perkembangan salah satu jenis kanker yang paling umum—sekaligus paling mematikan—pada orang dewasa berusia di bawah 50 tahun.
Para peneliti dari Technical University of Munich, RWTH Aachen, dan German Institute of Human Nutrition Potsdam-Rehbrücke (DIfE) menemukan bahwa pola makan tidak sehat mempertahankan keberadaan bakteri usus tertentu yang menghasilkan asam empedu sekunder—yang pada gilirannya mendorong pertumbuhan tumor.
Hasil penelitian mereka diterbitkan dalam edisi Agustus 2026 jurnal Gut.
"Yang istimewa dari penelitian kami adalah kami menunjukkan hubungan sebab-akibatnya,” kata Annika Osswald, penulis pertama penelitian sekaligus mahasiswa doktoral di German Institute of Human Nutrition, kepada DW. "Sampai sekarang, kami hanya tahu ada semacam hubungan antara [jenis] asam empedu sekunder tertentu dan kanker kolorektal.”
Bagaimana asam empedu picu kanker kolorektal
Lemak dalam makanan yang Anda konsumsi memicu produksi asam empedu primer di hati. Asam ini penting—tubuh membutuhkannya untuk memecah dan menyerap lemak. Sebagian besar asam empedu primer diserap kembali dan dikembalikan ke hati.
Namun, sebagian kecil mencapai usus besar. Di sana, bakteri tertentu mengubahnya menjadi asam empedu sekunder, termasuk salah satunya yang disebut asam deoksikolat (DCA). Semakin banyak makanan berlemak yang Anda konsumsi, semakin tinggi konsentrasi DCA di usus besar. Dan di situlah masalah bermula.
Osswald dan koleganya menguji hal tersebut pada tikus di laboratorium. "Inti dari penelitian kami untuk membuktikan hubungan sebab-akibat adalah model tikus,” jelas Osswald.
Tim peneliti menanamkan bakteri penghasil DCA ke dalam tubuh tikus yang mikrobioma ususnya dikendalikan sepenuhnya. Kemudian, para ilmuwan memicu kanker kolorektal pada tikus-tikus tersebut, sekaligus pada tikus tanpa bakteri. Tikus yang memiliki bakteri penghasil DCA di dalam usus mengalami pertumbuhan tumor lebih besar dibandingkan tikus yang tidak memilikinya.
Pembelahan sel pada tikus yang memiliki DCA juga meningkat. Peningkatan pembelahan sel membuat kanker lebih mungkin berkembang karena memperbesar peluang terjadinya kesalahan dalam replikasi DNA. Mutasi DNA selama pembelahan sel tersebut dapat menumpuk dan akhirnya memicu kanker.
Untuk mengetahui apakah proses yang mereka amati pada tikus juga terjadi pada manusia, para peneliti menganalisis sampel tinja dari lebih dari seribu orang, baik yang menderita kanker kolorektal maupun yang tidak. Gen bakteri penghasil DCA ditemukan lebih sering pada orang yang mengalami kanker kolorektal.
"Hasil penelitian kami menunjukkan seberapa besar pola makan tinggi lemak ala Barat dan perubahan terkait pada mikrobioma usus dapat memengaruhi kesehatan usus manusia,” kata ahli mikrobiologi Sören Ocvirk, salah satu penulis penelitian.
Osswald menekankan bahwa penelitian timnya masih bersifat mendasar dan diperlukan lebih banyak penelitian. Namun, keberhasilan membuktikan hubungan sebab-akibat antara meningkatnya jumlah bakteri usus penghasil DCA dan pertumbuhan tumor yang lebih besar juga membuka kemungkinan pengembangan terapi untuk kanker kolorektal.
Mengapa memahami kanker kolorektal sangat penting
Kanker kolorektal merupakan satu-satunya jenis kanker yang angka kematiannya pada orang berusia di bawah 50 tahun meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Demikian temuan yang diterbitkan dalam Journal of the American Medical Association pada Januari 2026.
Jumlah kematian akibat kanker otak, kanker payudara, leukemia, dan kanker paru-paru di Amerika Serikat semuanya menurun pada periode 1990 hingga 2023. Namun, jumlah kematian akibat kanker kolorektal meningkat rata-rata 1,1 persen per tahun sejak 2005. Meski Amerika Serikat hanya merupakan satu kawasan di dunia, negara tersebut kerap dianggap cukup representatif untuk menunjukkan tren semacam ini, terutama dalam kaitannya dengan pola makan ala Barat.
Jika terdeteksi sejak dini, kanker yang bermula di usus besar atau rektum dapat diobati.
Namun, gejalanya kerap tidak muncul pada tahap awal penyakit. Ketika muncul, gejala tersebut juga dapat disalahartikan sebagai tanda kondisi yang lebih ringan, seperti wasir atau sindrom iritasi usus.
Gejala kanker kolorektal meliputi:
- darah pada atau di dalam tinja
- diare atau sembelit yang terjadi sesekali maupun terus-menerus
- nyeri perut yang menetap
- perut bergas atau kram
- rasa kembung
Hambatan lain dalam mendeteksi penyakit sejak dini adalah sebagian orang mungkin merasa malu membicarakan gejala yang berkaitan dengan kesehatan usus dan rektum kepada dokter.
Jadi, jangan merasa malu. Bicarakan dengan dokter Anda.
Bagaimana hasil penelitian membantu pengobatan kanker kolorektal?
Salah satu pilihan yang mungkin dipertimbangkan di masa depan adalah transplantasi mikrobioma.
"Anda dapat mentransplantasikan mikrobioma dari orang yang memiliki lebih sedikit bakteri penghasil DCA di dalam usus mereka kepada pasien kanker kolorektal,” kata Osswald. "Hal itu berpotensi memperlambat pertumbuhan tumor.”
Namun, pilihan terbaik adalah mencegah kanker kolorektal sejak awal. Meski sebagian orang mungkin memiliki kecenderungan genetik untuk mengembangkan kanker kolorektal, banyak faktor lainnya berkaitan dengan gaya hidup.
Menjalani pola makan sehat, mengurangi konsumsi daging dan makanan berlemak, serta tidak merokok merupakan beberapa cara yang dapat membantu menurunkan risiko kanker kolorektal.
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Ayu Purwaningsih