1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Bagaimana Merkuri dari PLTU Batu Bara Sebabkan Kematian?

20 Februari 2026

Pembangkit listrik batu bara adalah salah satu sumber utama kontaminasi merkuri bagi manusia dan lingkungan. Pelonggaran batasan emisi dan peningkatan suhu global kian memperluas paparan merkuri hingga rantai makanan.

AS 2009 | Sekelompok burung terbang di dekat corong pembuangan uap pembangkit listrik
Pelonggaran regulasi terkait emisi meningkatkan risiko kesehatan akibat polusi merkuri.Foto: Charlie Riedel/AP Photo/picture alliance

Merkuri adalah neurotoksin atau zat kimia beracun yang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada paru-paru, otak, kulit, dan organ lain. Penggunaan, produksi, emisi, dan paparan zat kimia tersebut telah diatur secara ketat di seluruh dunia. Jika terpapar anak-anak, perkembangannya akan terganggu secara signifikan.

Merkuri adalah unsur jejak yang secara alami terdapat dalam batuan seperti kapur, serta dalam batu bara dan minyak mentah. Merkuri tetap terperangkap di bawah tanah selama jutaan tahun dan sebagian besar masuk ke dalam siklus ekologi melalui aktivitas manusia.

Merkuri dilepaskan saat bahan bakar fosil dibakar.

Pembangkit listrik berbahan bakar batu bara berkontribusi secara signifikan terhadap polusi merkuri di lingkungan. Organisasi nirlaba Natural Resources Defense Council (NRDC) menyebut pembangkit listrik berbahan batu bara tersebut sebagai sumber utama kontaminasi merkuri di Amerika Serikat.

Masalahnya, meskipun batu bara mengandung jumlah merkuri yang kecil, batu bara dibakar dalam jumlah yang sangat besar. Komunitas yang paling terdampak adalah mereka yang tinggal di dekat pembangkit listrik dan seringkali merupakan kelompok yang termarginalisasi atau kurang beruntung secara ekonomi.

Setelah dilepaskan ke atmosfer, merkuri dapat bertahan lebih dari enam bulan, menumpuk di air, tumbuhan, dan hewan, akhirnya masuk ke rantai makanan - di mana jumlah yang sangat kecil pun dapat membahayakan kesehatan manusia secara serius.

Regulasi dapat menghemat miliaran dolar

Pada April 2025, pemerintah AS memberikan kelongaran selama dua tahun kepada hampir 70 pembangkit listrik batu bara untuk melampaui batas polusi udara. Pengecualian ini mencakup arsenik beracun dan zat berbahaya lainnya, termasuk merkuri.

Dalam pengumumannya, Gedung Putih berargumen bahwa standar emisi era yang dikeluarkan pada era Biden sebelumnya telah merugikan industri energi.

Namun, penilaian tahun 2024 oleh Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) menyebutkan implikasi biaya yang besar akibat regulasi. Dikatakan bahwa standar polusi udara industri berpotensi menghemat sistem kesehatan hingga $390 miliar (Rp 6590 triliun) selama dua dekade ke depan.

Selain itu, NRDC memperkirakan bahwa batas polusi era Biden tidak hanya membatasi merkuri, tetapi juga untuk polutan berbahaya lainnya. Hal ini telah telah mencegah sekitar 11.000 kematian dini.

Merkuri diketahui berdampak pada kesehatan manusia. Anak-anak kecil berisiko lebih tinggi.Foto: Mario Tama/Getty Images

Pencemaran merkuri dapat diminimalisir

Selain merkuri yang dilepaskan ke atmosfer, pembakaran batu bara adalah penyebab utama kenaikan suhu global. Dan perubahan iklim yang terjadi memperluas paparan merkuri. Menurut Badan Lingkungan Jerman, hampir setengah cadangan merkuri alami di planet ini tersimpan di tanah beku. Seiring dengan peningkatan suhu, tanah beku pun mencair dan melepaskan gas penangkap panas dan neurotoksin.

Pembangkit listrik batu bara dan batasan polusi udara yang dilonggarkan mendorong pencemaran merkuri.

Meskipun demikian, Serikat Konservasi Alam dan Keanekaragaman Hayati Jerman menyatakan bahwa meskipun batu bara tetap menjadi bagian penting dari bauran energi, kontrol teknis dapat mencegah hingga 85% emisi merkuri. NRDC mengatakan prosentase tersebut dapat mencapai 90% jika didukung aturan yang ketat seperti yang diberlakukan pada era Joe Biden.

Setelah masuk ke dalam tubuh, merkuri tidak bisa lagi terurai

Pada manusia, paparan merkuri umumnya berasal dari konsumsi ikan dan seafood, seperti yang dicatat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Merkuri masuk ke dalam rantai makanan melalui mikroorganisme seperti ganggang dan zooplankton. Organisme tersebut menyerap dan mengubahnya menjadi metil merkuri yang beracun, yang berada dalam tubuh mereka. Predator menumpuk konsentrasi yang lebih tinggi seiring waktu begitu pun manusia.

Survei nasional di AS menyimpulkan bahwa sebanyak 19 juta orang yang mengonsumsi ikan tangkapan sendiri tiga kali atau lebih per minggu mungkin terpapar tingkat merkuri yang cukup tinggi dan membahayakan kesehatan. Setelah terakumulasi dalam tubuh, merkuri tidak lagi terurai.

Indonesia pernah menandatangani Konvensi Minamata, pakta international yang dirancang untuk melindungi kesahatan manusia dan lingkungan dari pelepasan merkuri, di tahun 2013 dan menetapkan Rencana Aksi Nasional Perpres No. 21 Tahun 2019 untuk mengurangi dan menghapus merkuri di pertambangan emas skala kecil (ASGM), sektor industri, dan kesehatan.

Setelah regulasi tersebut disosialisasikan dan beberapa provinsi mulai menerapkan Rencana Aksi Daerah pencemaran tetap tinggi di lokasi pertambangan. Naiknya harga emas dunia hampir 70% malah mendorong perluasan pertambangan emas ilegal di banyak wilayah Indonesia. Mengutip kantor berita Antara, Pemerintah Indonesia menargetkan penghapusan merkuri di pertambangan emas skala kecil (ASGM) 100 % pada 2025 melalui Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri (RAN‑PPM). Namun, pada awal 2025 kemajuan yang tercapai baru sekitar 15 %.

Selain itu hingga Oktober 2025, sekitar 66,5 % dari total listrik nasional dihasilkan oleh PLTU batu bara. Ini menunjukkan bahwa mayoritas listrik di Indonesia masih bergantung pada pembangkit berbasis batu bara dan emisi merkuri tidak dapat terelakkan.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Rizki Nugraha