Tiga tahun berlalu, perang di Ukraina tak hanya merenggut nyawa manusia, tetapi juga menghancurkan lingkungan. Dampak jangka panjangnya juga sulit diprediksi.
Perang tidak hanya menelan nyawa dan menyebabkan kehancuran, tetapi juga meninggalkan banyak limbah beracunFoto: Ximena Borrazas/SOPA Images/ZUMA Press Wire/picture alliance/dpa
Iklan
Perang Rusia di Ukraina dimulai tiga tahun lalu, dan hingga kini belum ada tanda-tanda akan segera berakhir.
Satu yang pasti, sekalipun konflik itu berakhir saat ini juga, rakyat Ukraina tetap tidak akan sepenuhnya aman. Penelitian menunjukkan, dampak perang terhadap manusia, satwa liar, dan lingkungan akan bertahan dalam jangka panjang.
Pada tahun pertama perang saja, kerusakan lingkungan mencapai kerugian senilai $56,4 miliar (sekitar Rp920 triliun), sementara total biaya kerusakan setelah tiga tahun perang masih belum dapat diperkirakan.
Sebuah laporan yang dirilis pada peringatan tiga tahun perang Ukraina mengungkapkan bahwa 229,7 juta ton emisi CO2 telah dilepaskan ke atmosfer akibat ledakan atau pembakaran selama konflik berlangsung.
Medan Tempur Pesawat Nirawak Melawan Rusia
03:55
Perang terhadap manusia dan lingkungan
Para peneliti kini sedang melacak sejauh mana kehancuran lanskap, pengeboman, kebakaran hutan, deforestasi, dan polusi di Ukraina memengaruhi satwa liar serta habitat alami.
Analisis pada 2024 oleh tim peneliti Amerika Serikat (AS)-Ukraina menemukan bahwa 30% kawasan yang dilindungi di Ukraina telah terkena dampak buruknya. Tim yang dipimpin oleh Daniel Hryhorczuk, profesor emeritus di Institut Keselamatan Lingkungan dan Epidemiologi Kerja Universitas Illinois di AS itu, khawatir bahwa pendudukan Rusia atas pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia dan penghancuran bendungan Kakhovka akan menyebabkan bencana ekologis yang berkepanjangan.
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Tim peneliti juga menyebutkan bahwa udara, air, dan tanah setempat telah terkontaminasi bahan kimia dalam skala besar, serta 30% wilayah Ukraina kini dipenuhi ranjau darat dan bahan peledak yang belum diaktifkan. Begitu bahan kimia itu masuk ke dalam tanah dan air tanah, hanya tinggal menunggu waktu saja sebelum racun itu terserap oleh tumbuhan, hewan, atau air minum yang dikonsumsi manusia.
Setidaknya, itulah yang diperingatkan oleh para ahli toksikologi. Namun, mereka belum sepenuhnya yakin bagaimana lingkungan akan bereaksi terhadap zat-zat beracun ini atau apa dampak nyatanya bagi manusia.
Drone Makin Banyak Digunakan dalam Pertempuran
03:50
This browser does not support the video element.
Bahan peledak TNT bersifat karsinogenik
Salah satu elemen paling berbahaya dalam amunisi adalah bahan peledaknya dan logam berat. Trinitrotoluene (TNT) merupakan senyawa nitroaromatik yang dikenal karena daya ledaknya.
"Kami tahu melalui eksperimen pada tikus dan mencit bahwa TNT itu beracun,” kata Edmund Maser, direktur Institut Toksikologi di Universitas Klinik Kiel, Jerman.
Maser meneliti dampak amunisi yang dibuang ke Laut Utara dan Laut Baltik di wilayah Jerman setelah Perang Dunia II, di mana ada sekitar 1,6 juta ton amunisi yang mengalami korosi di sana.
Para toksikolog juga menemukan bahwa TNT yang dilepaskan dari amunisi yang dibuang di laut itu membahayakan kehidupan biota laut di sekitarnya.
"TNT menghambat kemampuan hewan laut untuk berkembang biak, tumbuh, dan berkembang,” kata Maser.
"Kami juga tahu dari penelitian ini bahwa TNT dan bahan peledak lainnya itu bersifat karsinogenik.”
Inilah Persenjataan Jerman yang Disuplai untuk Perang Ukraina
Jerman mulanya dikritik mitra NATO, karena dinilai lamban memasok persenjataan berat ke Ukraina. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, persenjataan modern dari Jerman sudah dikirim dan dikerahkan dalam perang di Ukraina.
Foto: Marcus Brandt/dpa/picture alliance
Tank artileri pertahanan udara Gepard
Sedikitnya 30 tank pertahanan udara tipe Gepard dari Jerman sudah ikut bertempur di Ukraina. Dipersenjatai meriam ganda kaliber 35 mm, Gepard mampu menembak sasaran pesawat tempur, helikopter tempur, atau drone hingga ketinggian 3.500 meter. Tank ini juga bisa dikerahkan menyasar tank atau panser di darat.
Foto: Carsten Rehder/dpa/picture alliance
Howitzer - Panzerhaubizte 2000
Panser Howitzer 2000 dari Bundeswehr ini sedikitnya sudah 10 unit dikirim ke medan tempur di Ukraina. Dilengkapi meriam kaliber 155 mm, panser artileri otonom ini mampu menghancurkan sasaran pada jarak hingga 40 km. Panser bisa melaju hingga kecepatan 60 km/jam dan dapat melewati genangan air hingga kedalaman 1,5 meter.
Foto: Michael Kappeler/dpa/picture alliance
Pelontar rudal MARS 2
Sedikitnya tiga unit pelontar rudal multi MARS 2 sudah dikirim ke Ukraina. Bersama dengan sistem artileri jarak menengah itu, juga dikirim ratusan rudalnya yang mampu mencapai sasaran sejarak 80 km. Pelontar mampu menembakkan hingga 12 roket dalam semenit, untuk menyasar terget pada jarak 16 hingga 85 km.
Foto: Sebastian Gollnow/dpa/picture alliance
Sistem artileri pertahanan udara IRIS T SLM
IRIS T SLM mampu menangkal serangan rudal, roket, drone, atau helikopter tempur pada ketinggian hingga 20 km. Satu unit sistem pertahanan udara paling modern yang harganya sekiar 145 juta euro ini sudah dioperasikan di Ukraina. Ironisnya, angkatan bersenjata Jerman, Bundeswehr, hingga kini belum punya sistem arhanud ini.
Foto: Joerg Carstensen/picture alliance
Tank pembangun jembatan Biber
Pemerintah di Berlin menjanjikan pengiriman 16 unit tank pembangun jembatan tipe Biber. Enam unit dijanjikan dikirim hingga akhir tahun 2022, sisanya tahun depan. Rentang jembatan hingga 22 m, lebar 4 m, dan hanya dalam hitungan waktu menit. Jembatan mampu menahan bobot hingga 55 ton atau setara satu unit tank Gepard.
Foto: Patrik Stollarz/AFP via Getty Images
MANPADS Stinger
Sistem pertahanan udara portabel Stinger sudah dikirim saat awal pecah perang di Ukraina. Berlin sudah mengirim sedikitnya 500 unit Stinger ke medang perang Ukraina. Senjata ini dipuji sangat efektif menghancurkan sasaran pesawat tempur atau helikopter hingga ketinggian 4.000 m. Roket yang ditembakkan akan mengejar sasaran secara otonom dan biasanya meledakkan tanki bahan bakar pesawat.
Foto: Ingo Wagner/dpa/picture alliance
Senjata penghancur Bunker dan Panser
Jerman sudah mengirimkan ribuan unit senjata portable penghancur bunker dan panser ini sejak awal perang Ukraina. Ditembakan dari pundak serdadu, amunisi bisa menyasar objek diam hingga 400 m atau objek bergerak hingga 300 m. Amunisinya bisa menembus baja pelindung panser setebal 300 mm atau mengancurkan bunker beton bertulang baja setebal 240 mm. (as/ha)
Foto: Sebastian Gollnow/dpa/picture alliance
7 foto1 | 7
Merkuri, arsenik, dan timbal merusak sel
Beberapa logam berat seperti arsenik dan kadmium juga bersifat karsinogenik.
"Di dalam detonator, terdapat logam berat seperti merkuri, yang berbentuk fulminat dan membuat TNT meledak lebih cepat,” jelas Maser. Fulminat bertindak sebagai katalis di sini.
Sebagai logam berat, merkuri sangat merusak sel-sel saraf. "Zat ini dapat menyebabkan cacat lahir pada bayi dalam kandungan,” tambahnya.
Timbal juga memiliki efek serupa dan dapat menyebabkan gangguan perkembangan atau bahkan keguguran.
Kateryna Smirnova, peneliti di Institut Sokolovsky untuk Ilmu Tanah dan Agrokimia di Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Ukraina, mengatakan bahwa sampel tanah dari Kharkiv, salah satu medan pertempuran utama di Ukraina timur, telah menunjukkan konsentrasi timbal dan kadmium yang lebih tinggi dari biasanya.
Rekannya, Oksana Naidyonova, seorang ahli mikrobiologi di institut yang sama, menjelaskan bahwa logam berat berdampak buruk pada bakteri tanah.
"Zat-zat itu menghambat pertumbuhan tanaman dan penyerapan unsur mikronutrien, yang menyebabkan kelainan fisiologis serta mengurangi daya tahan tanaman terhadap penyakit,” ujar Naidyonova.
Namun, bahan kimia ini tidak selalu berada di dalam tanah. Maser menjelaskan, TNT dapat terbawa oleh angin dan menyebar ke tempat lain, sementara hujan dapat membawa zat-zat berbahaya ini terserap jauh hingga ke dalam tanah.
"Unsur-unsur ini kemudian dapat masuk ke air permukaan dan mencemari aliran sungai, anak sungai, serta danau,” katanya.
Bagaimana Perang Putin Memengaruhi Ekonomi Dunia
Efek perang Rusia terhadap Ukraina dirasakan di seluruh dunia. Harga makanan dan bahan bakar meningkat di mana-mana. Di beberapa negara kerusuhan pecah akibat naiknya harga barang kebutuhan utama.
Foto: Dong Jianghui/dpa/XinHua/picture alliance
Belanja Semakin Mahal di Jerman
Konsumen di Jerman merasakan kenaikan biaya hidup. Konsekuensi dari perang di Ukraina dan sanksi terhadap Rusia mulai terasa. Pada bulan Maret, tingkat inflasi Jerman mencapai level tertinggi sejak 1981. Pemerintah Jerman ingin segera mengembargo batubara Rusia, tetapi masih memperdebatkan pelarangan impor gas dan minyak dari Rusia.
Foto: Moritz Frankenberg/dpa/picture alliance
Antrian Mengisi Bahan Bakar di Kenya
Antrian panjang mobil di SPBU Nairobi. Di Kenya, warga juga merasakan dampak perang di Ukraina. Bahan bakar kian mahal, dan pasokannya terbatas, belum lagi krisis pangan. Duta Besar Kenya untuk PBB Martin Kimani dalam sidang Dewan Keamanan menyatakan keprihatinannya, dan membandingkan situasi di Ukraina timur dengan perubahan yang terjadi di Afrika setelah berakhirnya era kolonial.
Foto: SIMON MAINA/AFP via Getty Images
Siapa Amankan Suplai Gandum ke Turki?
Rusia adalah produsen gandum terbesar di dunia. Karena larangan ekspor dari Rusia, harga roti sekarang naik di banyak tempat, termasuk di Turki. Sanksi internasional telah mengganggu rantai pasokan. Ukraina juga merupakan salah satu dari lima pengekspor gandum terbesar di dunia, tetapi perang dengan Rusia membuat mereka tidak dapat mengirimkan barang dari pelabuhannya di Laut Hitam.
Foto: Burak Kara/Getty Images
Harga Gandum Melonjak di Irak
Seorang pekerja tengah menumpuk karung-karung tepung tergu di pasar Jamila, pasar grosir terpopuler di Baghdad. Harga gandum telah meroket di Irak sejak Rusia menginvasi Ukraina, karena kedua negara tersebut menyumbang setidaknya 30% dari perdagangan gandum dunia. Irak tetap netral sejauh ini, tetapi poster-poster pro-Putin sekarang telah dilarang di negara itu.
Foto: Ameer Al Mohammedaw/dpa/picture alliance
Unjuk Rasa di Peru
Para demonstran bentrok dengan polisi di ibukota Peru, Lima. Mereka memprotes kenaikan harga pangan, satu di antara rangkaian kenaikan harga. Krisis semakin diperburuk dengan adanya perang di Ukraina. Presiden Peru, Pedro Castillo memberlakukan jam malam dan keadaan darurat untuk sementara. Tapi jika peraturan tersebut dicabut, protes akan terus berlanjut.
Foto: ERNESTO BENAVIDES/AFP via Getty Images
Keadaan Darurat di Sri Lanka
Di Sri Lanka, warga turun ke jalan untuk mengekspresikan kemarahan mereka. Beberapa hari lalu, ada yang mencoba menyerbu kediaman pribadi Presiden Gotabaya Rajapaksa. Memuncaknya protes terhadap kenaikan biaya hidup, kekurangan bahan bakar, dan pemadaman listrik, mendorong presiden mengumumkan keadaan darurat nasional, sekaligus meminta bantuan pengadaan sumber daya dari India dan Cina.
Warga di Skotlandia juga memprotes kenaikan harga makanan dan energi. Di seluruh Inggris, serikat pekerja telah mengorganisir demonstrasi untuk memprotes kenaikan biaya hidup. Brexit telah mengakibatkan kenaikan harga di banyak area kehidupan, dan perang di Ukraina makin memperburuk keadaan.
Foto: Jeff J Mitchell/Getty Images
Harga Ikan Goreng di Inggris Melonjak
Warga Inggris punya alasan untuk khawatir terkait hidangan nasional tercinta mereka "fish and chips". Sekitar 380 juta porsi goreng ikan dan kentang dikonsumsi di Inggris setiap tahun. Tetapi sanksi keras saat ini, berarti harga ikan putih dari Rusia, minyak goreng dan energi, semuanya melonjak naik. Pada Februari 2022, tingkat inflasi Inggris mencapai 6,2%.
Foto: ADRIAN DENNIS/AFP via Getty Images
Peluang Ekonomi bagi Nigeria?
Seorang pedagang di Ibafo, Nigeria, tengah mengemas tepung untuk dijual kembali. Nigeria telah lama ingin mengurangi ketergantungannya pada makanan impor, dan membuat ekonominya lebih tangguh lagi. Orang terkaya di Nigeria Aliko Dangot, baru-baru ini membuka pabrik pupuk terbesar di negara itu, dan berharap memiliki banyak pembeli. Apakah itu sebuah peluang? (kp/as)
Foto: PIUS UTOMI EKPEI/AFP via Getty Images
9 foto1 | 9
Siklus beracun
Maser mengatakan, jika hewan menelan zat kimia beracun itu, maka bahan itu akan masuk ke dalam rantai makanan dan pada akhirnya membahayakan manusia sebagai konsumen akhir.
Maser menambahkan, jika hujan memungkinkan bahan kimia ini masuk ke air tanah, "maka air minum juga berisiko ikut terkontaminasi.”
Tanaman juga dapat menyerap merkuri dan zat kimia lainnya, jika air sudah tercemar. Jika tanaman itu adalah gandum atau sayuran, maka zat beracun ini juga akan berakhir sama, masuk ke dalam makanan yang dikonsumsi manusia.
Iklan
Kerugian hingga ratusan triliun rupiah
Perang di Ukraina ini menunjukkan betapa mahalnya kehancuran akibat perang. Menurut analisis terbaru, perang ini telah menyebabkan kerusakan lingkungan senilai lebih dari $56,4 miliar (sekitar Rp920 triliun).
Tim Hryhorczuk menyerukan agar dampak lingkungan dari semua konflik bersenjata ini diteliti lebih lanjut, serta langkah-langkah yang lebih efektif perlu diterapkan untuk melindungi lingkungan selama perang berlangsung.
Para peneliti ini juga menuntut agar pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan selama perang, termasuk mereka yang memulai perang itu, dapat dihukum dan dimintai pertanggungjawaban.