Survei internal tentang sikap ekstremis di militer Jerman menemukan bahwa tidak ada ekstremisme yang mengakar di jajarannya. Namun, beberapa peneliti skeptis terhadap perlindungan yang ada.
Bundeswehr berulang kali dihadapkan pada tuduhan ekstremismeFoto: Ebrahim Noroozi/AP/picture alliance
Iklan
Kurang dari 1% tentara Jerman memiliki "sikap ekstrimis kanan yang konsisten,” menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Badan Riset Sejarah dan Ilmu Sosial Militer Jerman, Bundeswehr, (ZMSBw).
Studi tersebut menemukan hanya 0,4% tentara yang menunjukkan ekstrimis sayap kanan. Di antara staf sipil militer, proporsinya adalah 0,8%, jauh lebih kecil daripada 5,4% yang diukur dalam populasi Jerman secara umum, menurut para penulis studi.
Namun, laporan tersebut menemukan pandangan bermasalah lainnya di antara para tentara: 6,4% memiliki "sikap chauvinis yang konsisten," dan 3,5% memiliki "sikap xenofobia yang konsisten."
Secara umum, penelitian tersebut sepertinya adalah berita positif, terutama karena militer Jerman (Bundeswehr) selama beberapa tahun terakhir dirundung atas sejarah kasusnya yang terafilias dengan jaringan sayap kanan dan plot-plot terorisme yang melibatkan anggota militer.
Secara umum, studi tersebut tampaknya menjadi berita positif, terutama karena Bundeswehr telah diganggu dalam beberapa tahun terakhir telah dihadapkan dengan laporan yang terdokumentasi dengan baik tentang jaringan ekstremis sayap kanan dan serangan teroris yang melibatkan personel militer.
Pada tahun 2022, seorang letnan Bundeswehr bernama Franco A. dihukum karena berencana melakukan tindakan "yang mengancam keamanan negara" dengan menyamar sebagai pengungsi Suriah. Pada tahun 2017, sebuah jaringan bersenjata yang diduga merencanakan kudeta militer ditemukan melibatkan beberapa tentara aktif serta veteran. Beberapa media Jerman bahkan menyebut adanya "tentara bayangan" di dalam Bundeswehr yang diabaikan oleh dinas intelijen militer, MAD.
Jerman mulanya dikritik mitra NATO, karena dinilai lamban memasok persenjataan berat ke Ukraina. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, persenjataan modern dari Jerman sudah dikirim dan dikerahkan dalam perang di Ukraina.
Foto: Marcus Brandt/dpa/picture alliance
Tank artileri pertahanan udara Gepard
Sedikitnya 30 tank pertahanan udara tipe Gepard dari Jerman sudah ikut bertempur di Ukraina. Dipersenjatai meriam ganda kaliber 35 mm, Gepard mampu menembak sasaran pesawat tempur, helikopter tempur, atau drone hingga ketinggian 3.500 meter. Tank ini juga bisa dikerahkan menyasar tank atau panser di darat.
Foto: Carsten Rehder/dpa/picture alliance
Howitzer - Panzerhaubizte 2000
Panser Howitzer 2000 dari Bundeswehr ini sedikitnya sudah 10 unit dikirim ke medan tempur di Ukraina. Dilengkapi meriam kaliber 155 mm, panser artileri otonom ini mampu menghancurkan sasaran pada jarak hingga 40 km. Panser bisa melaju hingga kecepatan 60 km/jam dan dapat melewati genangan air hingga kedalaman 1,5 meter.
Foto: Michael Kappeler/dpa/picture alliance
Pelontar rudal MARS 2
Sedikitnya tiga unit pelontar rudal multi MARS 2 sudah dikirim ke Ukraina. Bersama dengan sistem artileri jarak menengah itu, juga dikirim ratusan rudalnya yang mampu mencapai sasaran sejarak 80 km. Pelontar mampu menembakkan hingga 12 roket dalam semenit, untuk menyasar terget pada jarak 16 hingga 85 km.
Foto: Sebastian Gollnow/dpa/picture alliance
Sistem artileri pertahanan udara IRIS T SLM
IRIS T SLM mampu menangkal serangan rudal, roket, drone, atau helikopter tempur pada ketinggian hingga 20 km. Satu unit sistem pertahanan udara paling modern yang harganya sekiar 145 juta euro ini sudah dioperasikan di Ukraina. Ironisnya, angkatan bersenjata Jerman, Bundeswehr, hingga kini belum punya sistem arhanud ini.
Foto: Joerg Carstensen/picture alliance
Tank pembangun jembatan Biber
Pemerintah di Berlin menjanjikan pengiriman 16 unit tank pembangun jembatan tipe Biber. Enam unit dijanjikan dikirim hingga akhir tahun 2022, sisanya tahun depan. Rentang jembatan hingga 22 m, lebar 4 m, dan hanya dalam hitungan waktu menit. Jembatan mampu menahan bobot hingga 55 ton atau setara satu unit tank Gepard.
Foto: Patrik Stollarz/AFP via Getty Images
MANPADS Stinger
Sistem pertahanan udara portabel Stinger sudah dikirim saat awal pecah perang di Ukraina. Berlin sudah mengirim sedikitnya 500 unit Stinger ke medang perang Ukraina. Senjata ini dipuji sangat efektif menghancurkan sasaran pesawat tempur atau helikopter hingga ketinggian 4.000 m. Roket yang ditembakkan akan mengejar sasaran secara otonom dan biasanya meledakkan tanki bahan bakar pesawat.
Foto: Ingo Wagner/dpa/picture alliance
Senjata penghancur Bunker dan Panser
Jerman sudah mengirimkan ribuan unit senjata portable penghancur bunker dan panser ini sejak awal perang Ukraina. Ditembakan dari pundak serdadu, amunisi bisa menyasar objek diam hingga 400 m atau objek bergerak hingga 300 m. Amunisinya bisa menembus baja pelindung panser setebal 300 mm atau mengancurkan bunker beton bertulang baja setebal 240 mm. (as/ha)
Foto: Sebastian Gollnow/dpa/picture alliance
7 foto1 | 7
Apa yang diharapkan dari survei ini?
"Ya, menurut saya, penelitian ini memang memberikan sedikit kelegaan," kata salah satu penulis studi, Markus Steinbrecher, kepada DW. "Namun jika Anda menghitung persentasenya - 0,4% - secara teoritis, kita masih memiliki jumlah tiga digit orang dengan keyakinan ekstrimis di militer."
Iklan
Hal itu secari garis besar sejalan dengan angka-angka MAD: Statistik Kementerian Pertahanan menyebutkan bahwa pada tahun 2023, MAD menyelidiki 1.049 kasus dugaan ekstremisme di angkatan bersenjata, yang mana 776 di antaranya berhaluan kanan, 22 di berhaluan kiri, dan 51 berhaluan Islamis. Bundeswehr saat ini mempekerjakan lebih dari 260.000 orang, termasuk 180.000 tentara dan 80.000 personel sipil.
Untuk studi ZMSBw yang baru, lebih dari 4.300 wawancara dengan personel militer dilakukan pada akhir tahun 2022, serta 18 diskusi kelompok kecil di delapan pangkalan militer di seluruh Jerman.
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Steinbrecher mengakui bahwa studi yang terutama didasarkan pada survei sukarela ini memiliki kekurangan. "Orang tentu saja dapat memilih jawaban sekenanya, meskipun mereka memiliki pendapat lain; kami menyadari hal itu," katanya. "Itulah sebabnya, pada berbagai tahap kami melakukan berbagai pemeriksaan, untuk mendapatkan gambaran tentang seberapa besar perkiraan yang terlalu rendah."
Namun, beberapa pihak skeptis mengenai seberapa berguna survei tersebut. Anke Hoffstadt, seorang peneliti ekstremisme sayap kanan di Universitas Ilmu Terapan di Dusseldorf, mengatakan bahwa survei tersebut secara akademis bagus. Namun ia juga mengingatkan bahwa ZMSBw adalah bagian dari Bundeswehr.
"Mereka independen dan tetap berpegang pada standar ilmiah, tetapi mereka bagian dari struktur yang mereka teliti,” kata Hoffstadt kepada DW.
Hoffstadt juga mengatakan bahwa para responden mungkin terpengaruh oleh waktu pelaksanaan survei, yaitu pada tahun 2022 - setelah adanya pengawasan politik ekstra terhadap ekstremisme sayap kanan di Bundeswehr dan kepolisian.
Pada tahun 2020, Menteri Pertahanan saat itu, Annegret Kramp-Karrenbauer, membubarkan seluruh kompi unit komando elit KSK di kota Calw setelah adanya laporan rincian tentang pesta "kepala babi”. Pada pesta tahun 2017 itu,sekelompok tentara diduga memberi hormat kepada Hitler, menyewa pekerja seks, mendengarkan musik rock sayap kanan, dan melemparkan kepala babi.
Pada tahun 2020, Bundeswehr mengakui kehilangan sekitar 60.000 butir amunisinya.
"Jadi pada saat itu, semua orang di Bundeswehr tahu bahwa mereka sedang menjadi sorotan,” kata Hoffstadt. "Penelitian ini bukanlah sebuah kegagalan, atau tidak beritikad baik, tetapi saya menyarankan untuk membacanya secara kritis.”
Axel, remaja Jerman berdarah Indonesia, ikut ujian masuk pasukan Bundeswehr saat Ramadan. Ujian sambil puasa, latihan tempur, dan enggak bisa makan ketoprak atau durian kesukaannya! Siap siaga meski perut keroncongan.
Foto: Yusuf Pamuncak/DW
Axel ikut ujian masuk untuk jadi serdadu Jerman
Dengan tekad membuat orang tua bangga, Axel berjuang keras mengikuti ujian masuk tentara Jerman, Bundeswehr. Dari tugas darurat, pemetaan wilayah, hingga pertolongan medis, dia harus selalu siap siaga 24/7. Memanjat, push-up, sit-up, renang, bongkar pasang tenda, berbagai jenis ujian yang bisa datang kapan saja. Ia telah berlatih selama tiga bulan di Bundeswehr untuk meraih impian masa kecilnya.
Foto: Yusuf Pamuncak/DW
Puasa saat ujian masuk Bundewehr
Meskipun Axel adalah warga negara Jerman, ia bangga disebut sebagai anak Klender, Jakarta Timur. Ibunya berdarah Indonesia dan ayahnya Jerman. Pada Ramadan tahun 2025, Axel mengikuti ujian masuk pasukan Jerman, Bundeswehr, yang jadwalnya tidak bisa ditunda. Meski kadang merasa pusing menjelang petang, ia tetap merasa kuat. Dalam foto ini, ia terlihat sedang berpatroli bersama kameradnya.
Foto: Yusuf Pamuncak/DW
Siap siaga sepanjang ujian
Selama tiga hari dua malam, ia menjalani ujian dengan berbagai tugas sesuai instruksi. Mereka bisa saja dibangunkan di tengah malam untuk melakukan apa yang telah dipelajari, seperti memberikan pertolongan medis kepada yang membutuhkan. Dalam foto ini, ia sedang melakukan pemetaan.
Foto: Yusuf Pamuncak/DW
Calon tentara Jerman yang suka durian
Ketika ditanya tentang buah favoritnya, tanpa ragu ia menjawab: Durian. Makanan lain yang sangat ia sukai adalah ketoprak. Saat diwawancarai oleh DW, ia menjelaskan kedua makanan favoritnya itu kepada tentara seniornya. Pertukaran budaya ini membantu membangun rasa solidaritas.
Foto: Ayu Purwaningsih/DW
Membuat bangga orang tua
Malam ujian, Axel tidur di hutan di Minden, Jerman. Sambil membenahi terpal untuk bermalam, ia mengungkapkan salah satu motivasinya untuk masuk dinas ketentaraan Jerman: ingin membuat orang tuanya bangga karena bisa berbakti kepada negara. Kakek dari pihak ayahnya juga seorang tentara Jerman. Jadi, ketika Axel mengumumkan keinginannya untuk masuk dinas tentara, seluruh keluarganya bersuka cita.
Foto: Ayu Purwaningsih/DW
Ujian bergabung di Batalyon Pionir/ Zeni Jerman-Inggris
Ujian masuk ke Batalyon Pionir/Zeni Jerman-Inggris 130 yang bermarkas di Minden, Nordrhein-Westfalen, sangat menantang. Batalyon ini merupakan bagian dari Brigade Tank 9 dan satu-satunya dalam NATO yang memiliki sistem jembatan apung M3. Saat ini, Jerman masih kekurangan tentara, dengan jumlah serdadu sekitar 185 ribu orang, termasuk 3.000 di antaranya yang beragama Islam, menurut data Bundeswehr.
Foto: Yusuf Pamuncak/DW
6 foto1 | 6
'Warga sipil berseragam tentara'
Para penulis studi juga mengatakan bahwa orang-orang dengan pandangan ekstremis sayap kanan "menunjukkan peningkatan minat untuk bergabung dengan angkatan bersenjata" - meskipun itu tidak berarti bahwa mereka akan berhasul masuk militer. "Memiliki minat bukan berarti bahwa mereka mendaftar, dan mendaftar bukan berarti mereka akan diterima," dikatakan Steinbrecher.
Mereka harus menghadapi rangkaian tes: Pelamar baru harus lulus ujian keamanan sebelum mereka menjadi rekrutan, dan dokter yang melakukan pemeriksaan kesehatan tidak terikat peraturan kerahasiaan data, sehingga dokter dapat melaporkan, misalnya tato pada bagian tubuh yang mungkin mengindikasikan pandangan ekstremis.
Personel militer Jerman tidak hanya berkomitmen untuk membela negara dan konstitusi, atau Undang-Undang Dasar, mereka juga memiliki kewajiban hukum untuk secara aktif membela hak-hak demokratis - yang berarti, misalnya, menentang orang yang mengekspresikan pandangan ekstremis. Dengan kata lain, tentara Jerman dianggap sebagai "warga negara berseragam" yang bertanggung jawab penuh untuk menegakkan Undang-Undang Dasar negara. Menyampaikan pandangan tertentu, seperti penyangkalan terhadap Holokaus, dilarang dalam angkatan bersenjata.
Ketatnya proses seleksi masuk dan peraturan yang ketat, tidak serta merta membuat Hoffstadt yakin bahwa Bundeswehr telah melakukan cukup untuk mencegah sikap ekstremis masuk ke dalam militer, terutama dalam konteks masyarakat yang lebih luas di mana sikap pro-sayap kanan semakin menjadi hal yang normal - seperti yang ditunjukkan oleh keberhasilan partai sayap kanan Alternative for Germany (AfD) dalam Pemilu Februari lalu.
Banyak yang belum tahu, partai AfD yang anti Islam, anti Eropa dan anti imigran didirikan oleh segelintir elite dan profesor. Dengan cepat partai didukung kelompok yang frustrasi terhadap politik pemerintah di Berlin.
Foto: picture-alliance/dpa/K.-D. Gabbert
Didirikan Kaum Elite Jerman
Partai Alternatif untuk Jerman-AfD didirikan oleh kelompok elite, antara lain Bernd Lucke profesor ekonomi makro, Alexander Gauland, mantan sekretaris negara partai Kristen CDU, Konrad Adam, penerbit dan mantan wartawan koran kenamaan FAZ serta politisi dan Doktor ilmu kimia Frauke Petry (foto). Mula-mula program AfD memprotes secara terbuka politik pemerintah Jerman terkait krisis mata uang Euro
Foto: Getty Images/J. Koch
Pendukung Partai AfD
AfD resmi didirikan Mei 2013. Siapa pendukung AfD? Lembaga Riset FORSA menunjukkan, dari pemilu di negara-negara bagian Jerman, 70% pemilih AfD adalah lelaki dari kisaran umur rata-rata dia atas 50 tahun dan tidak terikat salah satu agama. Juga banyak pendukung partai liberal FDP yang menyebrang mendukung AfD. Jumlah anggota partai AfD kini mencapai lebih 17.000 orang.
Foto: DW/B. Gräßler
Partai Populis Kanan Anti Islam
Partai Alternatif untuk Jerman semula menuntut dibubarkannya zona mata uang Euro. Untuk menarik simpati banyak pemilih, AfD memilih retorika sebagai partai populis kanan dan memberi tekanan khusus pada program anti Islam. AfD juga gelar kampanye anti Yahudi dan sentimen rasisme. Inilah resep yang membuat AfD sukses meraih kursi di parlemen Jerman dan parlemen Eropa.
Foto: picture-alliance/dpa/O. Berg
Sukses di Negara Bagian Jerman
AfD raup sukses dalam pemilu regional di sedikitnya 10 negara bagian Jerman. Bahkan di dua negara bagian di kawasan timur Jerman, AfD raih lebih 20 persen suara. Juga di tiga negara bagian di barat, partai anti Islam dan anti Yahudi Jerman ini meraih perolehan suara lebih 12% . Keterangan partai menyebutkan AfD meraih seluruhnya 485 mandat di berbagai parlemen regional dan lokal.
Foto: picture-alliance/dpa/J. Wolf
Terwakili di Parlemen Eropa
Setahun setelah didirikan, dalam pemilu Parlemen Eropa 2014, ironisnya partai anti Uni Eropa ini meraih 7,1 persen suara. Terwakili dengan 7 mandat di Parlemen Eropa dan diterima bergabung dalam fraksi Konservatif dan Reformis Eropa-EKD. Tahun 2016 AfD diusir dari fraksi EKD setelah anggotanya Beatrix von Stoch dukung usulan penggunaan kekerasan senjata terhadap pengungsi.
Foto: Picture-alliance/dpa
Dimusuhi Partai Mainstream Jerman
Partai AfD dimusuhi partai mainstream, Kristen Demkrat-CDU maupun Sosial Demokrat-SPD. Yang terutama beradu keras lawan keras adalah pengikut partai kiri otonom. Dalam kongres partai di kota Köln baru-baru ini, lebih 50.000 demonstran gelar aksi menentang AfD. Juga partai-partai besar menolak koalisi dengan partai populis kanan ini.
Foto: Reuters/S. Loos
Dipuji di Luar Negeri
Ironisnya, di saat partai dimusuhi banyak kalangan di Jerman, pujian mengalir dari luar negeri, khususnya dari Inggris. Kelompok pendukung Brexit dan yang skeptis terhadap Uni Europa memuji haluan partai AfD. Bahkan seorang tokoh partai anti Eropa di Inggris-UKIP, Douglas Carswell memuji partai populis kanan ini, dengan menyebut, jika ia warga Jerman, pasti memilih AfD dalam pemilu.
Foto: Reuters/S. Wermuth
7 foto1 | 7
"Ada terlalu banyak ‘kasus yang terisolasi' di militer yang membuat kita tidak mempercayai kekuatan langkah-langkah pencegahan ini,” katanya. "Meskipunmereka menyelenggarakan banyak seminar pertemuan serta pendidikan politik, tetapi di pangkalan tidak ada kesadaran yang mendalam tentang kompleksitas pola pikir sayap kanan modern.”
Steinbrecher tidak terlalu pesimis, dengan menyatakan bahwa militer Jerman memiliki langkah-langkah anti-ekstremisme yang lebih kuat daripada kebanyakan militer negara lainnya. "Saya pikir itu telah menjadi prioritas," katanya. "Saya juga terlibat dalam proyek penelitian internasional, dengan negara-negara NATO, dan saya harus mengatakan secara objektif bahwa Jerman benar-benar memimpin dalam hal pencegahan ekstremisme."
"Kita tidak bisa berdiam diri,” kata Hoffstadt. "Kita bisa saja mengatakan, 'oh, kurang dari satu persen, wah, semuanya baik-baik saja'. Namun itu bisa jadi hanya puncak gunung es. Kita harus mempertanyakan tentang keseluruhan gunung es.”