Goethe muda sangat terpukul oleh dampak mematikan dari roman “Werther” yang ditulisnya terhadap kaum muda. Fenomena ini berlanjut 250 tahun kemudian.
Gambar ilustrasi yang menunjukkan adegan saat Werther membaca buku di depan Lotte Foto: akg-images/picture-alliance
Iklan
"The Sorrows of Young Werther" ditulis pada tahun 1774 oleh penulis Jerman Johann Wolfgang von Goethe ketika dia berusia 24 tahun. Novel ini adalah kisah semi-otobiografi tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan yang mencerminkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupannya sendiri.
Karakter protagonis dalam novel tersebut bernama Werther, yang hanya disebut dengan nama belakangnya. Ia jatuh cinta dengan Charlotte, seorang perempuan yang sudah bertunangan.
Perasaan cinta Werther sangat dalam terhadap Charlotte, namun Charlotte tetap setia kepada tunangannya. Werther pada akhirnya tidak dapat mengontrol diri dari obsesinya dan memilih untuk bunuh diri menggunakan pistol.
"Werther" menyentuh semangat zaman bagi banyak pria muda, khususnya yang berempati dan menyamakan diri mereka dengan sang tokoh utama.
Konon, beberapa pemuda berpakaian seperti Werther untuk mengeskperisikan diri setelah mengalami cinta segitiga yang serupa - terkadang dengan memegang novel Goethe di tangan mereka.
Pelukis lanskap Caspar David Friedrich adalah salah satu seniman berpengaruh dari era Romantik. Tema lukisannya meliputi alam, perjalanan, nostalgia, kesedihan dan kehilangan.
Foto: bpk
The Stages of Life (Tahap-tahap Kehidupan), 1834
Caspar David Friedrich lahir tanggal 5 September 1774 dari keluarga pembuat lilin dan sabun di kota Greifswald. Friedrich belajar ilmu perdagangan di Akademi Seni Kerajaan Denmark di Kopenhagen. Namun ia ternyata lebih terdorong untuk mempelajari seni dengan gayanya sendiri di Akademi Seni Rupa Dresden. Di sinilah Friedrich mencoba teknik melukis baru.
Foto: bpk
Landscape with Rainbow (Lanskap dengan Pelangi), 1810
Sukses pertama sebagai pelukis diraih tahun 1805 dengan memperoleh hadiah Weimar Art Prize. Penyair kenamaan Johann Wolfgang von Goethe dikabarkan sangat menentukan dalam pemberian penghargaan tersebut. Sebagai pelukis muda, Friedrich menarik perhatian Goethe dengan lukisan pemandangan yang sangat romantis. Saat itu, ia masih melukis dengan tinta sepia. Tapi mulai 1807, ia menggunakan cat minyak.
Foto: NDR
Tree of Crowns (Pohon Mahkota), 1822
Motif alam di lukisan Caspar David Friedrich sering menggambarkan kerinduan, nostalgia, dengan sentuhan kesedihan. Pelukis muda itu dikatakan punya dorongan perasaan "melankolis yang intens." Kematian saudara perempuannya, Dorothea, tahun 1808 dan ayahnya di tahun 1809 telah membuatnya gamang. Friedrich gagal bunuh diri, tapi rasa kehilangan dalam batin tetap jadi motif lukisan sepanjang hayatnya
Foto: picture-alliance/Heritage-Images
Chalk Cliffs on Rügen (Tebing Kapur di Rügen), sekitar tahun 1818
Sejak 1806, Friedrich melakukan banyak perjalanan. Ia mulai dari Rügen di utara, ke Pegunungan Harz dan Pegunungan Ore. Di Rügen, ia berulang kali mengabadikan tebing kapur dalam lukisannya. Friedrich menghargai alam yang tidak tersentuh dan apa adanya. Dia membuat sketsa rinci tentang batu, pohon, dan awan. Ulasan oleh penulis Heinrich von Kleist membuat lukisannya dikenal khalayak luas.
Foto: gemeinfrei
Waft of Mist (Hembusan Kabut), 1818-1820
Selain alam, Friedrich juga tertarik pada kondisi pencahayaan di waktu berbeda dalam sehari, dan nuansa warna lanskap yang secara konstan berubah. Lukisan berjudul Waft of Mist ini menjadi incaran perampokan seni yang spektakuler pada abad ke-20. Pencuri menggondolnya dari gedung pertunjukkan Schirn Kunsthalle di Frankfurt pada tahun 1994. Namun detektif Scotland Yard berhasil mengembalikannya.
Foto: picture-alliance/dpa
Wanderer Above the Sea of Fog (Pengembara di Atas Lautan Kabut), 1817
Salah satu lukisannya yang paling terkenal yaitu Wanderer Above the Sea of Fog atau Pengembara di Atas Lautan Kabut. Lukisan ini dianggap sebagai otobiografi. Caspar David Friedrich juga melukis dirinya sendiri dalam pose romantik, yaitu seorang pria terpesona oleh keindahan alam yang seakan bersifat supranatural. Beberapa dari lukisannya dianggap memiliki unsur-unsur yang nyaris religius.
Foto: picture-alliance/dpa/E. Walford
The Sea of Ice (Lautan Es), 1823-1824
Meski lukisan-lukisannya tampak terasing dari hiruk-pikuk dunia sekitar, Freidrich juga terlibat dalam pergerakan politik saat itu. Di sejumlah perdebatan ia menunjukkan rasa bencinya terhadap Prancis. Setelah kemenangan Napoleon, studionya yang sederhana jadi pusat berkumpul kaum patriotik. Gejolak zaman pada masa itu tercermin dalam lukisan The Sea of Ice di atas.
Foto: picture-alliance/akg-images
The Monk by The Sea (Pendeta di Tepi Laut), 1808-1810
Kerinduan yang tidak dapat didefinisikan akan rumah dan kampung halaman membentuk motif lukisannya. Pada 1924, Friedrich menjadi profesor di Dresden. Meski sudah menikah dan memiliki keluarga, Friedrich tetap tidak bisa lepas dari rasa kesepian, yang dia ungkapkan kepada teman-temannya. Situasi politik dan intrik di dunia akademis semakin membuatnya kecewa dan kesal.
Foto: SMB/Foto: K. Mösl, F. Schneider
Insirasi bagi banyak seniman
Bahkan hingga kini, lukisan Caspar David Friedrich menjadi inspirasi banyak seniman. Pelukis Jerman, Gerhard Richter, juga menghidupkan kembali pencahayaan khas Friedrich pada karya lukisannya yang berjudul Seascape. Pada tahun 2019, Seascape yang dilukis tahun 1960-an kembali dipamerkan di Guggenheim Bilbao. Richter telah beberapa kali mengambil inspirasi dari motif romantik liar ini.
Foto: picture-alliance/dpa
Caspar David Friedrich, sebagai motif seni
Sang pelukis sendiri sering menjadi motif bagi beberapa rekan. Gambar di atas adalah potret karya Gerhard von Kügelgen, antara tahun 1810 - 1820. Sebagai salah satu pelukis zaman Romantik, lukisan Friedrich berbeda dengan lukisan pemandangan indah oleh rekan-rekannya. Lukisan alam karyanya sangat minim objek. Dengan desain gambar yang radikal, Friedrich adalah seniman modern pada masanya. (ae/yp)
Foto: picture-alliance/akg-images
10 foto1 | 10
Kaum muda pada umumnya juga terseret dalam gerakan sastra romantis Jerman "Sturm und Drang" (Badai dan Tekanan) pada masa itu, yang berfokus pada ekspresi emosi intens dan menentang obsesi kaum ningrat terhadap penalaran.
Goethe sendiri terkejut dengan orang-orang yang meninggal dengan cara yang sama seperti yang dialami Werther. Dia bahkan menulis ulang buku tersebut untuk memperbaiki bagian plot ini. Novel ini juga dilarang di beberapa kota seperti Milan di Italia.
"Teman-teman saya," tulis Goethe pada saat itu, "berpikir untuk mengubah puisi menjadi kenyataan, meniru novel seperti ini dalam kehidupan nyata, dan, bagaimanapun juga, menembak diri mereka sendiri."
"Apa yang terjadi pada beberapa orang pada awalnya terjadi kemudian di kalangan masyarakat umum," tambahnya
Iklan
Bunuh diri yang meniru serta 'Efek Werther'
Pada tahun 1974, tepat 200 tahun setelah novel Goethe yang begitu influensial diterbitkan, istilah "Efek Werther" diciptakan untuk menjelaskan bagaimana penggambaran bunuh diri yang diromantisasi di media dapat menyebabkan perilaku peniruan, terutama di kalangan anak muda.
Peneliti David Phillips menciptakan istilah ini setelah mencatat bagaimana kematian yang disiarkan secara luas karena bunuh diri seorang selebriti menyebabkan terjadinya lonjakan kasus bunuh diri yang serupa.
Weimar di Thüringen dianggap asal mula kebudayaan Jerman. Di sini republik pertama Jerman merumuskan konstitusi, dan di kamp konsentrasi banyak orang dibunuh.
Foto: picture-alliance/dpa
Pusat Kota Tua
Lapangan di pusat kota adalah tempat pertemuan warga asli dan wisatawan. Di sini berdiri balai kota (kanan), yang berasal dari jaman Renaissance dan Hotel Elephant, yang jadi tempat bermalam tamu-tamu terkenal kota itu.
Foto: picture-alliance/dpa
Penguasa Yang Cinta Seni
Istana kota jadi tempat tinggal bangsawan keluarga Sachsen-Weimar sejak pertengahan abad 16. Di akhir abad 18 bangsawan Herzog Carl-August dan ibunya Anna Amalia menjadikan Weimar pusat sejarah kebudayaan. Sekarang, istana kota jadi lokasi penyimpanan koleksi seni bangsawan itu dan bagian warisan budaya UNESCO, "Klassisches Weimar" (Weimar Klasik).
Foto: imago/photo2000
Rumah Besar
Teater Nasional, yang dipimpin pujangga Johann Wolfgang von Goethe sejak 1791 juga bersejarah dari segi politik. 1919 di sini berlangsung sidang pertama dewan nasional republik pertama Jerman. Sekarang di gedung teater nasional dipertunjukkan opera, drama dan konser, mulai dari klasik hingga modern.
Foto: picture-alliance/dpa
Rumah Goethe
Tahun 1775 Johann Wolfgang Goethe, yang waktu itu belum jadi pujangga terkenal, datang ke Weimar karena diundang bangsawan Herzog Carl-August. Untuk tinggal dan bekerja, bangsawan itu memberikannya rumah di taman tepi sungai Ilm. Beberapa waktu kemudian, Goethe pindah ke rumah yang lebih besar dekat Frauenplan, yang sekarang juga jadi museum.
Foto: picture alliance/dpa
Rumah Tinggal Schiller
Karena mendapat tempat tinggal dari Goethe dan gaji dari Herzog Carl-August, pujangga Friedrich Schiller pindah ke Weimar 1799. Di tingkat dua rumah inilah terdapat ruang tinggal dan kerja Schiller. Sekarang ini juga jadi museum. Semua drama yang ditulis Schiller, di tahap akhir masa kreatifnya, dipagelarkan di teater Weimar.
Foto: picture alliance/ZB
Rumah Mewah
Perpustakaan milik bangsawan Herzogin Anna Amalia dengan ruang mewah bergaya Rokoko dibuka setelah diperbaiki karena kebakaran. Perpustakaan ini adalah salah satu kumpulan buku seorang bangsawan yang terbuka untuk umum. Schiller dan Goethe juga sudah bekerja di sini. Sekarang perpustakaan itu jadi perpustakaan penelitian, dengan titik berat sastra Jerman sekitar 1800.
Foto: AP
Gropius dan Bauhaus
Sejak 1996 institusi pendidikan Bauhaus bernama Universitas Bauhaus. Institusi ini didirikan 1919 oleh Walter Gropius. Gropius yang seorang arsitek mengubah rencana pelajaran, dan mengubah nama sekolah jadi "Staatliches Bauhaus". Di sini ia mengajarkan keserasian seni dan teknik.
Di Ettersberg dekat Weimar, sebuah tempat peringatan yang mengingatkan orang akan kekejaman Nazi dan Hitler di masa Perang Dunia II. Di tempat itu berdiri kamp konsentrasi Buchenwald mulai 1937. Ini adalah salah satu kamp konsentrasi terbesar di Jerman. Di sini 56.000 orang tewas akibat penyiksaan, eksperimen medis atau karena kerja paksa.
Foto: picture-alliance/dpa
Jadi Warisan Budaya
Setelah penyatuan Jerman Barat dan Timur, tahun 1999 Weimar adalah kota pertama di bekas Jerman Timur yang terpilih jadi ibukota kebudayaan Eropa. Tiap tengah tahun di sini diselenggarakan pesta seni. Festival seni modern itu menyatukan sastra, musik, teater, seni tari dan seni rupa. Tahun itu festival tersebut sudah berumur 25 tahun dan jadi daya tarik utama.
Foto: picture-alliance/dpa
9 foto1 | 9
Memahami Efek Werther menjadi penting bagi jurnalis, misalnya, yang harus berhati-hati ketika melaporkan isu ini di media.
*Jika kamu mengalami tekanan emosional yang cukup serius atau berpikir ingin bunuh diri, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Kamu bisa menemukan informasi bantuan, di mana pun kamu berada, di situs web ini: https://www.befrienders.org/
Artikel ini diadaptasi dari salah satu episode Meet the Germans