Berupaya patahkan “konspirasi” para astronot bahwa Bumi bulat, Mike Hughes berencana terbang ke angkasa dengan roket yang ia ciptakan sendiri.
Foto: picture-alliance/dpa/S. Stache
Iklan
Mike Hughes, pria berusia 61 tahun, telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membangun roket bertenaga uap di garasi rumahnya. Sejauh ini sekitar 20.000 US Dollar telah ia habiskan untuk mewujudkan proyeknya ini.
Tujuan utama Hughes adalah meluncurkan diri ke angkasa dengan harapan dapat memotret bukti atas teorinya bahwa Bumi tidaklah bulat. Dalam wawancara saat menggalang dana bersama kelompok Bumi Datar, ia menyatakan akan mementahkan teori Bumi bulat.
Dilansir dari Associated Press, Hughes membuat roket berawak pertamanya pada tahun 2014, dan berhasil terbang setingi 400 meter. Seperti dalam rekaman video di YouTube, penerbangan pertamanya ini berakhir dengan kecelakaan yang membuatnya harus menggunakan alat bantu berjalan selama dua minggu.
Galileo Mengubah Pandangan Dunia
Galileo Galilei adalah salah satu ilmuwan paling penting dalam sejarah. Pengamatan astronominya merevolusi gambaran alam semesta. Alat bantu utamanya: teleskop.
Foto: Getty Images
Titik-Titik Yang Menari
Titik-titik kecil di langit memutarbalik sepenuhnya pandangan Galileo Galilei atas dunia. Di malam hari tanggal 7 Januari 1610 ia menemukan titik-titik itu, di dekat planet Yupiter. Ia mengira, itu bintang-bintang yang tidak bergerak. Sehari setelahnya ia kembali menemukan titik-titik itu, tetapi posisinya berubah.
Foto: cc-sa-by-Andrew Jones
Bulan Penemuan Galilei
Galileo menemukan bulan-bulan yang mengitari Yupiter, yaitu Io, Eropa, Ganymede dan Callisto. Sekarang kita tahu, satelit-satelit itu bergerak mengitari planet. Di jaman Galilei, itu tidak mungkin diterima. Satu-satunya pendapat yang berlaku adalah, segala sesuatu yang bergerak dan beredar di tata surya, mengitari Bumi.
Foto: NASA/JPL/DLR
Bumi atau Matahari? Matahari!
Galileo sadar, apa yang ia lihat, bulan-bulan itu beredar mengelilingi Yupiter. Oleh sebab itu baginya jelas, Bumi bukan pusat tata surya. Sekarang kita tahu, semua planet di tata surya kita bergerak mengitari matahari. Di masa hidupnya, jika Galileo tidak menarik kembali tesisnya, ia bisa dihukum mati gereja Katolik.
Foto: Fotolia/tmass
Teknik Berguna
Teleskop modern untuk amati ruang angkasa sekarang tampak seperti ini. Dengannya orang bisa lihat benda langit yang jauhnya jutaan tahun cahaya dari Bumi. Orang juga bisa memperoleh gambar sangat tajam dari berbagai bimasakti, bintang dan planet. Galilei bisa dibilang ciptakan ilmu mengamati langit. Ia optimalkan teropong, sehingga ia jadi orang pertama yang bisa amati berbagai fenomena langit.
Foto: IQOQI Vienna
Bima Sakti
Galileo Galilei memecahkan teka-teki struktur di langit, yang tampak berwarna putih dan keruh, yang juga bisa dilihat dengan mata telanjang di malam hari. Dengan bantuan teleskopnya ia bisa melihat, bahwa struktur itu terdiri dari banyak bintang. Sekarang kita tahu, bima sakti adalah galaksi dengan milyaran bintang, dan Bumi hanya salah-satunya.
Foto: NASA
Bulan Yang Penuh Lubang
Selain itu, dengan teleskopnya Galileo Galilei menemukan, bahwa bulan penuh dengan lubang. Dengan banyak lembah, kawah dan gunung. Di samping itu, bulan diterangi Bumi. Sekarang kita tahu hampir segala sesuatu tentang satelit yang mengitari Bumi dalam jarak 384.000 km tersebut. Kita bahkan berencana mendirikan pemukiman dan menanam sayuran di sana. Walaupun masih di masa depan.
Foto: cc-sa-by-Pioneer Venus Orbiter
Pasang dan Surut
Dulu Galilei juga sudah menduga, bahwa pasang dan surut berkaitan dengan berputarnya Bumi pada porosnya dan gerakannya mengitari matahari. Tetapi baru pakar fisika Isaac Newton (1643-1727) yang bisa membuktikan, bahwa di samping kekuatan sentrifugal, juga daya tarik massa bulan dan matahari menyebabkan terjadinya pasang dan surut.
Foto: Fotolia/Joshua Rainey
Venus Bocorkan Rahasia
Penemuan Galileo Galilei tentang Venus juga memperkuat keraguannya akan pandangan geosentris, yang menyatakan Bumi adalah pusat tata surya. Galilei mengamati, bahwa planet Venus juga tampak melewati fase-fase, seperti halnya bulan. Kadang Venus tampak seperti sabit, dan kadang bundar. Galilei menarik kesimpulan, planet tetangga Bumi itu bergerak, dan mengitari matahari.
Foto: Leiftryn - Fotolia.com
8 foto1 | 8
Percobaan ke-dua Hughes akan dilakukan pada Sabtu (25/11/17) ini. Ia berambisi untuk bisa terbang setinggi 550 meter dengan kecepatan 800 km/jam.
"Jika kamu tidak takut mati, kamu orang bodoh," kata Hughes. "Ini menakutkan, tapi tak satu pun dari kita yang keluar dari dunia ini dalam keadaan hidup. Saya suka melakukan hal luar biasa yang tidak bisa dilakukan orang lain. Dan tak seorang pun dalam sejarah manusia telah merancang, membangun dan meluncurkan dirinya sendiri dengan roket yang dibangun sendiri. "Saya adalah reality show berjalan."
Hughes yang berprofesi sebagai pengemudi mobil telah mendapat berbagai julukan karena proyeknya ini: eksentrik, unik, bodoh. Juga berbagai cemoohan ditujukan padanya. Namun demikian tidak menghentikannya untuk mempertahankan keyakinannya, termasuk bahwa Bumi ini datar.
"Saya ingin menginspirasi orang lain bahwa kita harus melakukan sesuatu yang luar biasa untuk menarik perhatian,” dikatakan Hughes.
Bumi Tanpa Bulan
Bulan tanpa disadari, ikut mendikte fenomena cuaca dan kehidupan mahluk hidup di permukaan Bumi. Tapi apa yang terjadi jika Bulan tidak pernah terbentuk? Hasilnya adalah sebuah planet yang penuh fenomena ekstrim
Foto: picture-alliance/dpa/M. Schutt
Theia Membidani Kelahiran Bulan
Bulan telah mendampingi Bumi sejak 4,5 miliar tahun silam. Saat itu Bumi muda bertabrakan dengan obyek langit lain sebesar Mars yang bernama Theia. Peristiwa dahsyat itu melontarkan sebagian permukaan Bumi ke luar angkasa yang kemudian membentuk Bulan. Sebab itu Bulan dan Bumi memilikim komposisi geologi yang serupa.
Foto: picture-alliance/dpa/M. Schutt
Hidup Tanpa Pendamping
Tapi apa yang terjadi jika Theia tidak menghantam Bumi dan Bulan tidak pernah terbentuk? Benda langit satelit Bumi itu mempengaruhi kehidupan mahluk hidup lewat pantulan cahaya dan gaya gravitasinya. Tanpa kedua elemen tersebut wajah planet Bumi akan sama sekali berbeda. Inilah skenario yang dibayangkan ilmuwan jika Bumi tidak memiliki Bulan.
Foto: NASA
Samudera Hampa
Bukan rahasia lagi jika gaya gravitasi Bulan menjadi mesin penggerak pasang surut air lautdi Bumi. Tanpa gravitasi itu gelombang pasang di Bumi akan jauh lebih kecil lantaran Bumi hanya terpengaruh gaya gravitasi Matahari yang kekuatannya cuma 40% dibandingkan gravitasi Bulan.
Foto: picture-alliance/dpa/A. Lander
Malam Kelam
Tanpa cahaya Bulan, malam hari di permukaan Bumi akan terasa lebih gelap. Tanpa Bulan, obyek langit paling bercahaya di malam hari adalah planet Venus. Namun intensitas cahaya yang dipantulkan planet kecil itu 2000 kali lebih lemah dibanding cahaya bulan purnama. Tapi dengan bertambah gelapnya langit malam, manusia akan bisa melihat bintang dan galaksi dengan lebih jelas.
Foto: picture-alliance/dpa/F. Rumpenhorst
Separuh Matahari
Tanpa Bulan, siang hari di Bumi hanya akan berlangsung selama enam hingga 12 jam. Selain itu jumlah hari dalam satu tahun bisa mencapai 1.000-1.400 hari. Pasalnya gaya gravitasi Bulan memperlambat kecepatan rotasi Bumi. Saat ini pun rotasi Bumi melambat 1.4 millidetik setiap 100 tahun.
Foto: picture-alliance/chromorange
Petaka dari Langit
Rotasi Bumi yang semakin cepat berdampak pada pola cuaca. Ilmuwan meyakini tanpa Bulan, Bumi akan mengalami musim badai dua kali lebih panjang dan lebih intensif, akibat meningkatnya kecepatan angin dan turbulensi udara. Perbedaan massa pada pergerakan udara juga akan menggandakan jumlah petir.
Foto: Fotolia/Daniel Loretto
Sumbu Liar
Dampak paling dahsyat ada pada sudut kemiringan Bumi. Bulan ikut menjaga sudut kemiringan Bumi terhadap sumbu rotasi pada 23,5 derajat. Tanpanya, Bumi akan alami perubahan berkala sudut kemiringan yang bisa ubah wajah planet secara drastis. Wilayah tropis seperti Indonesia bisa menjadi kutub dan membeku, sebaliknya Antartika dan Arktik lumer dan menghijau. Mars adalah contoh fenomena sumbu liar
Foto: AP
Evolusi Satwa
Banyak satwa yang memanfaatkan cahaya bulan untuk berburu di malam hari, hiu adalah salah satunya. Jika Bumi tidak lagi bermandikan cahaya Bulan, satwa-satwa tersebut harus mencari cara lain untuk tetap bisa berburu mangsa di malam hari. Bayi penyu pun berorientasi pada cahaya bulan ketika menetas dan mencari jalan ke laut.