Bangunan di Cina Bagaikan Tahu
16 Mei 2008
“Kalau guru kami tidak menyuruh untuk lari secepat mungkin, kami tidak akan ada lagi di sini”, begitu kata seorang anak sekolah beberapa hari setelah gempa bumi terjadi.
Sekolah itu roboh, tak lama setelah anak itu mencapai jalan besar. Gempa bumi di Sichuan menyebabkan kematian ratusan anak sekolah, ribuan lainnya masih belum ditemukan. Rasa khawatir para orang tua, kini berubah menjadi kemarahan yang tak terhingga. Mereka menuding Dinas Pengawasan Bangunan Cina tidak melakukan tugasnya. Mereka mengecam bahwa konstruksi bangunan sangat buruk. Tak lebih baik dari sampah. Bahan bangunannya di bawah standar kualitas yang seharusnya dan hanya sekuat tahu. Bila bangunan dibuat dengan lebih baik, maka anak-anak kami masih hidup. Demikian kata para orang tua itu.
Shi Weixing, pakar Universitas Tongji untuk perlindungan bangunan dari bencana menilai tuduhan para orang tua ini ada benarnya.
“Kami memiliki peraturan bangunan. Dimana-mana ada petugas yang harus memeriksa, apakah bangunan itu memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Tapi memang bisa terjadi, bahwa di pedalaman Cina pemeriksaan tidak dilakukan.”
Pada tahun 1976 ketika terjadi gempa bumi hebat di kota Tangshan di utara Cina, sekitar 240.000 orang meninggal. Ketika itu Cina memperketat peraturan untuk bangunan. Namun di Cina korupsi juga merajalela. Peraturan dan persyaratan seringkali tidak diindahkan dan para pejabat maupun petugasnya disogok.
Televisi pemerintah Cina menunjukkan gambar orang-orang yang melarikan diri dari kawasan-kawasan yang hancur dilanda gempa. Rumah-rumah yang masih berdiri dibiarkan kosong. Tak ada yang berani masuk, mereka takut terjadi gempa bumi susulan. Di wilayah Beichuan sekitar 80 persen bangunannya hancur. Demikian dilaporkan media Cina itu. Diperkirakan, hampir 3 juta rumah hancur di seluruh kawasan gempa.
Pakar perlindungan bencana Universitas Tongji, Shi Weixing mengatakan, “Perusahaan bangunan di sana tidak memiliki teknologi tinggi dan tidak memiliki kesadaran untuk membangun gedung tahan gempa. Kami di sini tidak tahu bagaimana rancangan rumah-rumah yang hancur oleh gempa itu, karenanya tidak bisa memastikan apakah rumah-rumah dan bangunan itu konstruksinya salah.”
Stadion Olimpiade di Beijing yang merupakan bangunan prestise terbaru, dibangun dengan material yang terbaik. Persyaratan bangunan juga ditaati sepenuhnya. Namun menurut Shi Weixing di pedalaman situasinya amat berbeda.(ek)