Jembatan Kutablang yang menghubungkan Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Bireuen putus diterjang banjir. Ratusan warga mengantre berjam-jam untuk bisa menyebranginya dengan perahu polisi.
Iklan
Banjir yang melanda beberapa wilayah Sumatra membuat Jembatan Kutablang di Kabupaten Bireuen, Aceh, terputus. Padahal ini adalah akses utama menuju Kabupaten Aceh Utara.
Sejak pukul empat pagi, Syukriah, salah satu warga yang terdampak, harus mengantre untuk menyeberang menggunakan rakit karena jembatan tidak lagi bisa dilalui.
Jalur ini menjadi satu-satunya harapan warga Bireuen untuk mendapatkan pasokan BBM. Dayat Tahjuddin, Kontributor DW Indonesia, turut menyeberang ke Aceh Utara untuk mengambil sekitar 35 liter BBM. Di wilayah tersebut, harga pertamax kini berkisar antara Rp30.000 hingga Rp40.000 per liter.
Saat ini, hanya satu unit perahu milik kepolisian yang dapat beroperasi dengan kapasitas tujuh hingga delapan orang beserta barang, sementara ratusan warga tampak mengantre panjang untuk bisa menyeberang.
Banjir dan longsor melanda Sumatra, menewaskan ratusan orang, dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi. Di balik tragedi ini, kerusakan ekosistem memperparah dampaknya. Bahkan, satwa liar turut menjadi korban.
Foto: Stringer/REUTERS
Melanda tiga provinsi
Banjir dan longsor melanda tiga provinsi di Pulau Sumatra: Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, lebih dari 780 orang meninggal dunia, sementara sekitar 560 orang masih hilang di 50 kabupaten/kota yang terdampak.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Ribuan rumah dan infrastruktur hancur
Menurut data BNPB, kerusakan di Aceh mencakup 204 jembatan, 75 sekolah, 99 kantor, 48 rumah ibadah, dan 5.200 rumah. Di Sumatra Utara, 27 jembatan, 19 rumah ibadah, 1 fasilitas kesehatan, serta 2.400 rumah rusak. Sementara di Sumatra Barat, kerusakan meliputi 64 jembatan, 65 rumah ibadah, 8 fasilitas kesehatan, 1 kantor, 84 sekolah, dan 2.800 rumah.
Foto: Levie Wardana/DW
Modifikasi cuaca di Aceh dan Sumatra Utara
BNPB bersama BMKG melakukan operasi modifikasi cuaca di Aceh dan Sumatra Utara untuk mempercepat penanganan dampak bencana. Langkah ini diharapkan mempercepat pembersihan jalur transportasi darat dan memastikan pengiriman logistik lewat udara tidak terhambat cuaca buruk.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Polemik status bencana nasional
Tingginya korban dan kerusakan membuat masyarakat menanti penetapan banjir Sumatra sebagai bencana nasional. Namun, Menko PMK Pratikno menegaskan status itu tidak diberikan karena penanganan sudah bertaraf nasional. "Dan kami telah mewaspadai dan mempersiapkan sedini mungkin untuk mengurangi risiko semaksimal mungkin," ujarnya.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Akibat kerusakan lingkungan
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan Satgas Penertiban Kawasan Hutan sedang menelusuri penyebab terjadinya bencana banjir dan longsor Sumatra. "Selain faktor cuaca ekstrem, ada faktor kerusakan lingkungan yang memperparah bencana," katanya, Rabu (03/12). Selain itu, pemerintah juga terus berkonsentrasi untuk mengevakuasi dan menangani warga yang terdampak bencana.
Foto: Levie Wardana/DW
Bukti kondisi lingkungan kritis
Gelondongan kayu yang terseret arus memicu sorotan terhadap kerusakan hutan di hulu, dari konversi lahan hingga dugaan illegal logging. Arie Rompas, Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace, menilai hampir semua Daerah Aliran Sungai (DAS) di Sumatra kritis dengan tutupan hutan alam kurang dari 25%, jauh di bawah batas ideal 30% sesuai UU Kehutanan sebelum dihapus Omnibus Law.
Foto: Levie Wardana/DW
Satwa liar turut jadi korban
Banjir dan longsor juga merusak habitat satwa liar. Jasad seekor gajah Sumatra ditemukan terseret arus di Pidie Jaya, Aceh, memicu kekhawatiran terhadap hilangnya keanekaragaman hayati. Ahli menilai bencana bukan hanya mengancam manusia, tetapi juga satwa yang kehilangan rumah dan sumber pakan.