Barat Kecam Keputusan Presiden Rusia
26 Agustus 2008
Air mata bahagia mengalir, ratusan warga menari di jalanan. Di Sukhumi, ibukota Abkhasia dan di Tskhinvali, ibukota Ossetia Selatan warga berpesta setelah Presiden Rusia Dimitri Medvedev memutuskan untuk mengakui kemerdekaan kedua republik tersebut. Dalam pernyataan yang disiarkan melalui televisi, Medvedev juga menyerang Presiden Georgia Mikheil Saakashvili. Ia dianggap berusaha menyelesaikan masalah teritorial dengan cara cepat. Medvedev mengatakan, Rusia hanya ingin melindungi Ossetia Selatan dan Abkhasia dari serangan selanjutnya.
"Saakashvili memutuskan untuk melakukan pembunuhan massal untuk menyelesaikan masalah politiknya. Dengan ini menghancurkan semua harapan akan perdamaian antara warga Ossetia, Abkhasia dan Georgia. Rusia menyerukan kepada seluruh dunia untuk mengikuti apa yang telah kami lakukan dan mengakui kedua negara republik ini. Ini adalah keputusan yang sulit, tetapi ini adalah satu-satunya kemungkinan untuk menyelamatkan nyawa manusia."
Pernyataan Medvedev ini berbuntut panjang. Negara-negara barat sebelumnya telah memperingatkan untuk tidak mengambil langkah ini. Medvedev menjelaskan, ia menandatangani dekrit pengakuan kedua negara itu berdasarkan piagam PBB tahun 1970 tentang prinsip hukum internasional dan piagam penutupan konferensi bagi keamanan dan kerjasama di Eropa. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Condoleezza Rice termasuk yang menyesalkan keputusan Rusia tersebut.
"Niat Rusia untuk mengakui dua bagian dari dua wilayah yang tengah berkonflik yang jelas-jelas berada di dalam batasan Georgia yang diakui secara internasional oleh beberapa resolusi Dewan Keamanan tidaklah benar.Saya sangat menyayangkannya. Ini menempatkan Rusia dalam pihak opisisi terhadap beberapa resolusi Dewan Keamanan PBB. Padahal mereka adalah anggota Dewan Keamanan PBB, anggota PBB, dan yang paling lebih penting lagi Rusia adalah anggota P5 negara anggota yang memiliki hak veto."
Kanselir Jerman Angela Merkel yang tengah berkunjung ke negara-negara Baltik, mengecam keras keputusan Presiden Rusia Dimitri Medvedev. Saat berada di ibukota Estonia Talinn, Merkel mengatakan ini akan memberatkan usaha politik dalam mencari jalan keluar krisis Kaukasus.
"Menurut saya ini bertentangan dengan prinsip integritas territorial. Prinsip dasar hak warga internasional. Karena itu ini sama sekali tidak bisa diterima."
Merkel menambahkan, bukan hal yang tidak mungkin, konsekuensi dari tindakan Rusia ini akan berdampak pada negosiasi Uni Eropa dengan Rusia tentang kesepakatan kerjasama dan kooperasi yang baru dimulai beberapa minggu yang lalu.
Bahwa pengakuan Medvedev terjadi hanya satu hari setelah keputusan majelis parlemen Rusia untuk mengakui kedua republik tersebut mengejutkan banyak pengamat politik. Mereka memperkirakan, ia akan menahan diri agar lebih bisa memberikan tekanan dalam proses negosiasi. Sebagian pakar politik Rusia berpendapat, reaksi cepat ini akan memberikan kesempatan untuk mewujudkan stabilitas baru di wilayah Kaukasus. Sementara yang lain berpendapat, wakil garis keras di Rusia di bawah pimpinan Perdana Menteri Vladimir Putin berhasil menembuskan keinginan mereka. Satu teori lagi yang juga mungkin adalah, keputusan ini adalah sebuah reaksi dari aksi yang ada. Yaitu berdasarkan anggapan : Apapun yang Rusia lalukan, negara barat pasti menyalahkan Rusia dalam konflik ini. Karena itu kita bisa melakukan apa pun yang kita anggap benar. (vlz)