1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikAmerika Serikat

Batal Bertemu Putin di Budapest, Trump: Buang-buang Waktu

John Silk | Saim Dušan Inayatullah | Roshni Majumdar | Kalika Mehta sumber: AFP, AP, dpa, Reuters
22 Oktober 2025

Rencana pertemuan antara Donald Trump dan Vladimir Putin ditunda. Sementara itu, serangan Rusia ke jaringan energi Ukraina membuat ribuan warga kehilangan pasokan listrik dan sebagian juga air bersih.

Donald Trump dan Vladimir Putin berhadapan
Trump mengisyaratkan pertemuan Putin, yang baru saja disinggungnya minggu lalu, tetapi kini telah ditundaFoto: ZED

Rencana pertemuan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Budapest, Hungaria, dilaporkan ditunda, menurut keterangan pejabat AS yang tidak disebutkan namanya kepada kantor berita Reuters dan AFP.

Keputusan tersebut disebut diambil setelah percakapan telepon antara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.

Pada Selasa (21/10), juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa tidak ada urgensi bagi kedua pemimpin untuk bertemu, dan menambahkan bahwa "pertemuan seperti ini membutuhkan persiapan serius.” Ia menegaskan, belum ada penundaan resmi karena tanggal pertemuan pun belum ditetapkan.

Sejumlah pemimpin Eropa dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menuduh Putin sengaja mengulur waktu dengan memperpanjang proses diplomasi untuk mengakhiri perang di Ukraina.

Trump tidak ingin bertemu Putin

Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa rencananya untuk bertemu dalam waktu dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin ditunda karena ia tidak ingin pertemuan itu menjadi "buang-buang waktu.”

Trump menyampaikan pernyataan itu kepada wartawan di Gedung Putih pada Selasa (21/10).

Keputusan untuk menunda kemungkinan pertemuan di Budapest, yang sebelumnya diumumkan Trump pekan lalu, setelah pembicaraan pada Senin (20/10) antara Menlu AS Marco Rubio dan Menlu Rusia Sergey Lavrov.

Rusia juga tampak tidak terburu-buru. Peskov menegaskan bahwa pertemuan tingkat tinggi antara Trump dan Putin "membutuhkan persiapan… persiapan yang serius.”

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy terus berupaya memperkuat posisi negaranya dengan mengupayakan pengiriman rudal jarak jauh Tomahawk dari AS, meski hingga kini Trump belum menyetujui pengiriman senjata tersebut.

"Kita harus mengakhiri perang ini, dan hanya tekanan yang bisa membawa perdamaian,” tulis Zelenskyy pada Selasa (21/10) di Telegram.

Serangan Rusia lumpuhkan jaringan energi Ukraina

Pada hari yang sama, serangan udara besar-besaran Rusia terhadap infrastruktur energi membuat ratusan ribu warga di wilayah Chernihiv, Ukraina, kehilangan pasokan listrik dan sebagian juga kehilangan air bersih.

Pejabat setempat mengatakan, ancaman serangan drone yang terus berlangsung menghambat upaya perbaikan, sementara ibu kota regional kehilangan seluruh pasokan listriknya.

Serangan itu juga menghantam wilayah tetangga, Sumy, dan menjadi bagian dari rangkaian serangan terbaru Rusia yang menargetkan jaringan energi Ukraina menjelang musim dingin.

"Tim darurat di wilayah Chernihiv belum bisa mulai memperbaiki jaringan listrik karena serangan drone Rusia yang terus berlangsung,” tulis Kementerian Energi Ukraina di Telegram.

Presiden Zelenskyy kemudian menyampaikan bahwa perbaikan tengah dilakukan, seraya menegaskan: "Taktik Rusia adalah membunuh dan menebar teror lewat rasa dingin.”

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Andrii Sybiha menulis di platform X: "Putin berpura-pura siap berdiplomasi dan bernegosiasi damai, padahal malam ini Rusia justru melancarkan serangan brutal dengan rudal dan drone.”

Dalam beberapa pekan terakhir, Moskow meningkatkan frekuensi serangan udara ke berbagai wilayah Ukraina, membuat banyak gelap gulita selama berjam-jam, bahkan berhari-hari.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Fika Ramadhani

Editor: Hani Anggraini

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya