Benarkah Netflix Membuat Kita Bodoh?
12 Februari 2026
Apakah Netflix benar-benar membuat kita jadi kurang cerdas? Maksud saya, bukan dalam pengertian lama bahwa “televisi merusak otak”. Bukan pula soal waktu berjam-jam menonton maraton episode Bridgerton atau Squid Game yang seharusnya bisa digunakan untuk membaca ulang karya Dostoevsky. Maksud saya, apakah Netflix sengaja menyederhanakan dialog dan alur ceritanya supaya cocok untuk penonton yang cuma setengah memperhatikan?
Stranger Things dan tren serial 'kompleks'
Pikiran itu muncul saat saya menonton musim terakhir Stranger Things. Serial Netflix garapan Duffer Brothers tersebut pertama tayang pada 2016 sebagai tribut terhadap era 1980-an, terutama novel-novel Stephen King dan film-film Steven Spielberg. Ibarat perpaduan Firestarter dan E.T. dengan sentuhan Dungeons and Dragons. Namun, sembilan tahun dan lima musim kemudian, Stranger Things terasa semakin bertele-tele dan lamban.
Daya tarik awal Stranger Things ada pada kekuatan visual: busana, set lokasi, efek khusus yang terkesan cheesy tapi tetap terlihat keren, hingga adegan pertarungan yang epik. Namun, pada musim terakhir, unsur tersebut tergeser oleh adegan dari para karakter yang lebih sering duduk-duduk sambil menjelaskan apa yang akan mereka lakukan, sembari mengulang kembali alur cerita yang sebenarnya sudah diketahui penonton. Memang tetap ada gambaran dunia sedang menuju kiamat, tetapi Mike, Will, Nancy, dan Eleven selalu tampak punya waktu untuk satu putaran penjelasan lagi.
Mengatakan segalanya, tapi tak menunjukkan apapun
Stranger Things bukan satu-satunya serial yang mengubah arah. Jika Anda memperhatikan berbagai serial dan film produksi Netflix, maka Anda akan melihat pola. Para karakter dalam produksi Netflix biasanya menjelaskan hal yang sedang mereka lakukan dan rasakan. Mereka juga menjelaskan kembali hal yang baru saja terjadi beberapa saat sebelumnya. Mereka mengungkapkan tujuan dan motivasi, seolah Anda lupa apa yang telah mereka katakan sebelumnya.
Dalam Irish Wish, film fantasi tentang pertukaran tubuh produksi Netflix, tokoh Maddie Kelly yang diperankan Lindsay Lohan, melontarkan “tumpahan eksposisi” yang begitu terang-terangan dan nyaris terlihat impresif.
“Kami menghabiskan satu hari bersama. Aku akui itu hari yang indah dengan pemandangan dramatis dan hujan yang terkesan romantis,” katanya. “Tapi itu tidak memberimu hak untuk mempertanyakan pilihan hidupku. Besok aku akan menikah dengan Paul Kennedy.”
“Baik,” jawab sang kekasih, James yang diperankan Ed Speleers, dalam dialog yang keluar secara otomatis, alih-alih terlihat seperti ditulis.
“Itu akan menjadi terakhir kalinya kamu melihatku, karena setelah pekerjaan ini selesai, aku akan pergi ke Bolivia untuk memotret kadal pohon langka yang terancam punah.”
Gagasannya kini bukan lagi ‘tunjukkan, jangan katakan’ tetapi ‘katakan dan katakan lagi’ untuk para penonton yang mudah terdistraksi.
Membuat cerita untuk penonton yang mudah terdistraksi
Tren ‘katakan, jangan tunjukkan’ ini memang bukan kebetulan Semua memang sengaja dirancang.
Saat Matt Damon tengah menggarap The Rip, film thriller terbaru Netflix yang juga dibintangi Ben Affleck, pihak Netflix menyarankan agar dialog dibuat lebih sederhana. Dalam wawancara di The Joe Rogan Experience, Matt mengatakan bahwa para eksekutif Netflix melontarkan gagasan bahwa “tidak apa-apa jika alurnya ditegaskan kembali sebanyak tiga atau empat kali dalam dialog, karena orang-orang menonton sambil bermain ponsel.”
Fenomena ini dikenal sebagai kebiasaan menonton dengan “layar kedua” (second-screen viewing). Algoritma Netflix, yang mampu melacak hingga hitungan detik kapan penonton mulai kehilangan fokus atau berhenti menonton, menarik kesimpulan yang lugas: audiens mereka terdistraksi dan konten harus menyesuaikan diri dengan gangguan itu. Serial-serial pun ditulis agar tetap bisa diikuti meski ditonton sambil belanja online, scrolling TikTok, atau bahkan hanya didengar setengah-setengah dari ruangan lain.
Aktris sekaligus produser Justine Bateman menyebutnya sebagai “muzak visual” — televisi yang berfungsi layaknya musik latar yang diputar di tepat umum.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru. Selama ini kita sudah mengenal istilah “ironing TV” atau menonton TV sambil menyetrika untuk merujuk sinetron, siaran ulang, atau reality show yang memang didesain sebagai suara latar ketika penonton melakukan hal lain. Bedanya sekarang, Netflix menerapkan logika yang sama pada tayangan drama prestisius, film blockbuster, dan serial-serial unggulan mereka.
Hal ini seharusnya tidak mengejutkan. Bagaimanapun juga, Netflix membangun platform lewat mantra: “Netflix and chill.” Cara bercerita yang mudah dicerna, langsung dipahami, dan cepat terlupakan. Hal itu bukanlah sebuah kekeliruan melainkan memang desain produk yang dijual.
Mengapa Netflix Original terlihat sama?
Persoalannya juga bukan hanya pada dialog. Penonton Netflix yang atentif, yang bisa dibilang mulai langka, mungkin menyadari bahwa banyak film dan serial yang semakin terlihat dan terdengar mirip satu sama lain.
Pencahayaan digital yang terang tetapi minim kontras. Gambar yang dibuat “rata” agar tetap terlihat meski memudar terkena cahaya siang. Campuran suara yang dikompresi sehingga semuanya berada di level volume menengah yang sama: bisikan tetap terdengar jelas, tetapi adegan kehilangan kedalaman atau ruang keheningan.
Pilihan-pilihan tersebut masuk akal jika pembuat film mengasumsikan penontonnya tidak sedang berada di dalam bioskoptetapi menonton lewat ponsel ketika mereka sedang berada di transportasi umum, atau di layar laptop saat mereka ada di luar ruangan.
Apa yang akan hilang ketika atensi berkurang?
Perlahan, perubahan cara bercerita ini menjauhkan kita dari gagasan film atau televisi sebagai bentuk seni visual yang imersif. Kita semakin dibawa meninggalkan komposisi gambar, pencahayaan, dan kekuatan ekspresif dari keheningan. Tiga hal yang sebenarnya merupakan esensi dalam sinema.
Namun, perubahan yang diprogram secara algoritmis ini tidak terhindarkan. Serial terlaris Netflix tahun lalu, Adolescence, drama realisme sosial asal Inggris yang dibuat dalam satu pengambilan gambar (one-shot) dan secara formal ibarat menolak untuk ditonton sambil lalu dengan layar kedua. Sementara film orisinal terpopuler Netflix, KPopDemon Hunters, film animasi yang memadukan gaya bercerita Timur dan Barat menuntut perhatian penuh. Setidaknya karena mendorong penonton ikut bernyanyi.
Kedua tayangan tersebut berhasil karena mereka menuntut perhatian lebih dari penontonnya. Jika penonton hanya menginginkanya sebagai "suara latar" saja, Netflix dengan senang hati akan menyediakannya. Pertanyaan sebenarnya: apakah audiens akan menyadari atau peduli ketika platform tersebut saat platform itu berhenti meminta penonton untuk memperhatikan sebuah tayangan?
Diadaptasi dari artikel berbahasa Inggris
Diadaptasi oleh: Joan Aurelia Rumengan
Editor: Tezar Aditya