1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Benda-Benda yang Menemani Eksil 1965 di Pengasingan

26 Juni 2026

Benda apa yang dibawa seseorang ketika terusir dari tanah airnya? Di Amsterdam, benda-benda milik eksil Tragedi 1965 dipamerkan selama sepekan pada Juni 2026—menyimpan jejak ingatan yang tak ikut pulang.

Pameran “Objects that Remember, di Belanda
Pameran “Objects that Remember,“ tanggal 15-19 Juni 2026 di Internationaal Instituut voor Sociale Geschiedenis (IISG) di Amsterdam, BelandaFoto: Ayu Purwaningsih/DW

Setelah Tragedi 1965, banyak eksil asal Indonesia meninggalkan tanah air dengan hanya membawa barang seadanya: Dokumen-dokumen penting, foto-foto orang terkasih, buku-buku termasuk buku harian, atau benda apa pun yang masih menyimpan jejak tentang sesuatu yang mereka sebut "rumah".

Benda-benda itu menempuh perjalanan yang sama dengan sang empunya. Mereka ikut berpindah melintasi batas negara, menjadi saksi bisu ingatan yang terpatri dan kehidupan yang terpenggal. Beberapa di antaranya baru-baru ini ditampilkan dalam pameran "Objects that Remember, " tanggal 15-19 Juni 2026 di Internationaal Instituut voor Sociale Geschiedenis (IISG) di Amsterdam, Belanda.

Penyelenggara acara Rika Theo bercerita, pameran ini digagas dari hasil diskusi dengan koleganya di IISG soal aksi protes massal di Hong Kong, yang kemudian memaksa sebagian pesertanya hidup sebagai eksil.

"Jadi pameran arsip ini adalah pameran bersama untuk mengetengahkan objek-objek yang dibawa oleh para eksil politik. Demonstrasi di Hong Kong terjadi belum lama berselang, hanya beberapa tahun lalu. Sementara dalam konteks Tragedi 1965 di Indonesia, peristiwanya sudah lebih dari enam dekade. Lalu kami melihat ada kesamaan, juga ada perbedaan. Dari situlah muncul gagasan untuk membuat pameran bersama,” tutur Rika.

Oleh sebab itu dalam pameran ini juga dipamerkan barang-barang eksil Hong Kong di ruangan berbeda.

Rika Theo, penggagas pameran mengurasi benda-benda peninggalan eksil 65Foto: Ayu Purwaningsih/DW

Apa saja barang-barang yang dipamerkan?

Barang-barang yang dipamerkan di ruang eksil Indonesia tampak sederhana. Ada surat keterangan perpindahan kewarganegaraan dari Cina menjadi Warga Negara Indonesia, kartu identitas anggota parlemen, kartu pers, buku harian, maupun koleksi buku pribadi. Semua tertata rapi di etalase.

Namun tidak semua benda itu berasal dari masa sebelum pengasingan. Sebagian justru lahir di perjalanan yang panjang itu sendiri: ijazah yang diperoleh di negeri orang, catatan harian yang ditulis jauh dari rumah, naskah pidato, hingga amplop-amplop surat bertulisan tangan.

"Kalau kita lihat di amplop ini, tulisannya sangat unik, tulisan huruf  latin sambung yang indah. Amplop ini sebenarnya ditulis oleh salah satu eksil 1965 yang namanya Pak Sarmaji, kalau di Belanda dikenal sebagai Bung Warjo. Beliau ini salah satu orang yang mengumpulkan banyak bahan-bahan tentang para eksil, tentang gerakan kiri di Indonesia. Kalau kita ke rumahnya kita akan melihat banyak buku-buku. Sayangnya dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu," tutur Rika sedih sambil memperlihatkan kekagumannya pada tulisan berseni itu.

Sebuah kartu identitas anggota parlemen milik Francisca Fanggidaej Foto: Ayu Purwaningsih/DW

Membuka cakrawala soal Gerwani ke panggung dunia

Sebuah kartu anggota parlemen milik tokoh pergerakan Indonesia Francisca Fanggidaej tampak terlihat di pameran masih dalam kondisi bagus. Di etalase yang sama terdapat karya puisinya, foto-fotonya, buku harian perjalanannya, agenda kegiatan dan catatan aktivitasnya dan juga sebuah naskah pidato yang ditulis nenek dari aktor Reza Rahadian itu.

"Ini adalah naskah pidato ini adalah pidato Francisca Fanggidaej  saat menghadiri Konferensi Trikontinenal Asia-Afrika di Kuba. Ini naskah pidato yang pertama kali mengatakan tentang kekerasan terhadap perempuan Indonesia pada waktu 1965 yang dibuka ke dunia internasional," kisah Rika. "Jadi ini yang mengungkapkan pertama kali kekerasan terhadap Gerwani. Ini ada daftar nama-nama yang ditangkap."

"Ada juga sebuah telegram di mana mereka dianggap sebagai delegasi yang tidak sah di konferensi itu. Karena pemerintah yang baru mengirim delegasi yang lain, jadi ada dua delegasi," tambah Rika. "Sehingga delegasi yang lama pada akhirnya harus keluar dari situ dan mendapat telegram ini yang bertuliskan pemerintah Indonesia akan mengambil Tindakan setimpal bagi pembangkangan instruksi pejabat sementara…” demikian Rika meneruskan ceritanya.

Sebuah buku biru Taichi menarik perhatian pengunjung. Buku itu milik Jarna Mansyur yang mengalami sakit ginjal dalam pelariannya. Ia belajar Taichi untuk menjaga staminanya, ditemani oleh suaminya Gde Arka. "Hingga lansia, suami saya selalu setia dalam suka dan duka, mebawakan buku pelajaran saat masih kuliah, hingga semua barang kenangan. Meski saya tidak bisa punya anak, kami saling mengasihi, menyayangi, membantu. Bekerja sama dalam banyak bidang, terutama dalam kesulitan. Banyak barang kenangan dalam perjalanan kami kumpulkan bersama, mulai dari foto-foto hingga kliping-kliping koran.”

Buku Taichi milik Jarna Mansyur, didapatkan di Cina, dibawa ke mana pun ia pindahFoto: Ayu Purwaningsih/DW

Luka Tragedi 1965 yang belum pulih

Motivasi Rika membuat pameran ini adalah untuk memperlihatkan kisah di balik objek tentang sejarah Indonesia yang sampai saat ini tidak banyak dibahas, "Ini adalah sebagian penting dari sejarah yang dipinggirkan, bahkan diceritakan dengan cara lain dan disembunyikan atau bahkan mau dicuci ulang. Dan kalau kita lihat mulai dari objek-objek yang dibawa para eksil 1965 sampai objek-objek dari perlawanan anti Orde Baru, ini adalah kisah perlawanan yang tidak pernah berhenti," paparnya.

Rika menambahkan: "Jadi kalau orang bilang arsip atau objek itu adalah masa lalu, maka yang kamu lihat dari pameran ini adalah sebuah masa lalu yang belum selesai."

Rika juga ingin membangkitkan kembali ingatan terutama bagi kaum muda Indonesia yang tengah belajar di Belanda, komunitas Indonesia yang berada di Belanda, untuk melihat dan mengingat kembali bahwa perlawanan itu belum selesai„"Kekerasan masih ada dan masih ada sisa-sisa atau warisan dari Orde Baru yang kita hadapi saat ini," tandasnya.

Ijazah diploma milik eksil Jarna Mansyur yang lulus kuliah di Moskow, RusiaFoto: Ayu Purwaningsih/DW

Membunuh memori dengan sia-sia

Salah seorang pengunjung pameran Fransisca untuk pertama kalinya melihat materi asli tersebut: "Kesan pertama aku adalah lewat objek-objek yang dibawa oleh para eksil ini kita bisa melihat betapa "kayanya" kaum-kaum intelektual di masa lalu. Tapi juga merasa miris karena kita "kehilangan" mereka."

Bagi Fransisca, pameran ini bukan sekadar ruang untuk mengenang masa lalu. Ia berharap semangat yang pernah dibawa para eksil dapat diteruskan oleh generasi sekarang: keberanian untuk berpikir kritis, mempertanyakan kekuasaan, dan tidak diam ketika berhadapan dengan represi atau penyensoran.

“Setidaknya sekarang kita bisa melihat bahwa semua itu memang pernah terjadi. Ada buktinya,” katanya.

Fransisca mengamati barang-barang di pameranFoto: Ayu Purwaningsih/DW

Pengunjung pameran lain, Sasha, yang nama aslinya ia minta untuk disamarkan, mengatakan sekuat apapun pihak yang ingin memutar balikan fakta sejarah 1965-1966, kenyataan yang terjadi akan tetap tinggal dan terpatri kuat dalam ingatan baik pelaku maupun para korban.

"Meski orang-orang percaya akan fitnah atau narasi baru yang dibangun, memori itu melekat menjadi trauma yang dibawa hingga mati, mulai dari terpisah dengan orang-orang yang dikasihi, rumah yang ditinggalkan, luka batin dan pengkhianatan, tidak akan ada yang bisa menghapus ingatan akan kekerasan itu. Mereka mengalami kekerasan mental: Difitnah, diintimidasi beramai-ramai, hidup mereka disabotase, diasingkan, dipinggirkan. Trauma mental juga efeknya sangat berat dan trauma itu melekat hinggal ajal menjemput," pungkasnya sambil berharap generasi muda akan membuat perubahan dan kebenaran akan sejarah Tragedi 1965 akan tersingkap di kemudian hari.

Editor: Rizki Nugraha

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait