1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikAmerika Serikat

AS: Biaya Perang Iran Capai Rp672 Triliun

Felicia Salvina dengan Reuters, dpa
16 September 2026

Perang Iran sejauh ini telah menelan biaya Rp672 triliun, menurut lembaga pemeriksa keuangan AS CBO. Diperkirakan, pengeluaran perang akan bertambah Rp53 T per bulan, sementara kenaikan harga energi semakin menekan AS.

AS Dallas 2026 | Donald Trump dalam Konvensi Partai Republik untuk Pemilu Sela
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku tidak menyesal atas keputusannya berperang, kendati berdampak pada pemilu sela AS mendatangFoto: Brendan Smialowski/AFP

Perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang telah berlangsung selama enam bulan menelan biaya sekitar Rp627 triliun (US$38 miliar). Menurut laporan lembaga anggaran nonpartisan Kongres AS, Congressional Budget Office (CBO) pada Selasa (15/9), biaya tersebut diperkirakan bertambah Rp53 T (US$3 miliar) per bulan. Pemerintahan Donald Trump kini mencari cara untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur penting bagi perdagangan energi dunia.

Berdasarkan perhitungan CBO, perang tersebut diperkirakan meningkatkan inflasi sebesar 0,5% dalam tiga bulan pertama 2027.

Biaya perang yang terus meningkat telah menguras persediaan amunisi AS dan mendorong kenaikan harga energi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran soal kemampuan AS merespons potensi konflik lain. Hal tersebut sekaligus menambah tekanan terhadap anggaran yang sudah terbebani.

Menurut laporan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam sidang senat (21/07), angka tersebut mendekati Rp 662,8 triliun (US$37,5 miliar). 

Sebagian besar biaya berasal dari penggunaan amunisi dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Dengan begitu, AS membutuhkan waktu hingga lima tahun untuk mengisi kembali persediaan amunisinya. Pada Agustus, Reuters melaporkan bahwa AS telah menggunakan "hampir seluruh" rudal presisi jarak jauhnya selama perang.

CBO melaporkan bahwa Departemen Pertahanan AS tidak bekerja sama dengan auditor keuangan kongres dalam penyusunan laporan tersebut.

Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menyebut, serangan Presiden Trump terhadap Iran sebagai "tindakan tegas" untuk mencegah Teheran membahayakan personel atau kepentingan AS. Dalam sebuah pernyataan, ia mengatakan militer AS memiliki "lebih dari cukup amunisi, persenjataan, dan persediaan untuk mencapai semua tujuan strategis Panglima Tertinggi dan lebih dari itu." 

Masalah Aset Iran yang Dibekukan

01:16

This browser does not support the video element.

Juru bicara utama Pentagon Sean Parnell membantah temuan laporan terkait kekurangan amunisi. Ia mengatakan, "Kami memiliki semua amunisi untuk menyerang pada saat dibutuhkan.”

Penyelidikan mengenai biaya perang dilakukan atas permintaan anggota Partai Demokrat paling senior di Komite Anggaran DPR AS, Brendan Boyle dari Pennsylvania.

"Perang Donald Trump yang membawa bencana di Iran telah merenggut nyawa para prajurit Amerika yang pemberani dan menyebabkan lainnya terluka," kata Boyle dalam sebuah pernyataan.

"Selain korban jiwa, laporan CBO yang nonpartisan ini memperjelas bahwa perang juga telah menelan biaya puluhan miliar dolar bagi pembayar pajak Amerika dan terus bertambah, sekaligus mendorong kenaikan biaya."

Sebanyak 18 anggota militer AS tewas dalam perang Iran.

Laporan tersebut tidak mencakup biaya serangan terbaru terhadap kapal komersial di Selat Hormuz maupun serangan terhadap instalasi militer AS di kawasan tersebut. Laporan juga tidak memperhitungkan biaya pinjaman perang yang dapat menambah puluhan miliar dolar terhadap total biaya.

Dampak terhadap kesiapan militer AS

Perhitungan CBO menunjukkan perang tersebut dapat berdampak pada pertahanan dan perekonomian AS.

Menurut CBO, kekurangan amunisi penting, seperti rudal pencegat, berisiko menghambat respons AS jika terjadi konflik besar lainnya. Contoh potensi konfliknya melibatkan Cina dan Taiwan.

Dalam sidang Senat pada Juli, Hegseth meminta hampir Rp1,591 triliun (US$90 miliar) dalam bentuk dana darurat untuk mengisi kembali persediaan amunisi.

"Tanpa dana ini, kita menghadapi kekurangan yang kritis," kata Hegseth.

Inspektur jenderal Pentagon melaporkan pekan ini bahwa Iran telah merusak atau menghancurkan ratusan bangunan di pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah. Adapun sejumlah pesawat, termasuk jet tempur, pesawat pengisi bahan bakar, dan drone yang turut hancur.

Lembaga tersebut menghitung biaya perang hingga 19 Juni mencapai Rp590,65 triliun (US$33,4 miliar). Angka itu termasuk sekitar Rp3,25 triliun (US$184 juta) kerusakan pada fasilitas diplomatik AS akibat serangan Iran.

Guncangan energi akibat serangan di Selat Hormuz dan serangan terhadap fasilitas energi di negara-negara Teluk, telah menyebabkan kenaikan harga yang tajam bagi konsumen dan produsen global.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyindir klaim AS yang menyebut Iran tak berdaya melalui cuitannya di XFoto: Hamed Malekpour/MEI/SIPA/picture alliance

Meningkatnya biaya perang juga semakin membebani kondisi fiskal AS yang memburuk. Total utang publik AS melampaui Rp707.000 triliun (US$40 triliun) pada Agustus.

Trump kerap membandingkan perang Iran dengan invasi AS ke Irak dan Afganistan setelah serangan 11 September 2001.

Menurut laporan Reuters, puncak perang AS dengan Irak melibatkan lebih dari 100.000 pasukan darat, menelan biaya Rp35.350 triliun (US$2 triliun). Sementara itu, menurut proyek Costs of War dari Brown University, konflik AS selama dua dekade di Afganistan, yang juga melibatkan lebih dari 100.000 pasukan pada masa paling intens, menelan biaya Rp40.676 triliun (US$2,3 triliun).

Menteri Luar Negeri Iran sindir AS terkait kerugian militer dalam perang

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Selasa (15/9) menyindir klaim AS bahwa Iran tak berdaya. Ia merujuk pada laporan Departemen Pertahanan AS yang memaparkan kekurangan amunisi dan kerusakan aset militer AS selama perang.

"Fiksi: Iran tidak berdaya," tulis Araghchi di X. "Fakta: ratusan lokasi militer AS hancur berkeping-keping; puluhan pesawat terbakar."

Araghchi merujuk pada laporan Departemen Pertahanan AS kepada Kongres yang dirilis Senin (14/9). Ia menyebut kerugian yang diungkap dalam laporan tersebut hanyalah "puncak gunung es."

Laporan itu menyebut serangan Iran telah merusak atau menghancurkan "ratusan bangunan dan struktur" pangkalan militer AS di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Oman, dan Yordania.

Laporan tersebut juga menyoroti, puluhan jet tempur dan pesawat militer AS lainnya rusak atau hancur selama perang.

Tak lama setelah perang AS-Israel dengan Iran dimulai pada 28 Februari, Presiden AS Donald Trump mengatakan Republik Islam Iran "sama sekali tidak memiliki pertahanan”. Ia juga mengklaim kepemimpinan, angkatan laut, serta angkatan udara Iran telah dihancurkan.

Badan pengawas Departemen Pertahanan AS juga menemukan bahwa penggunaan amunisi dalam jumlah besar selama "Operation Epic Fury" menyebabkan "kekurangan persediaan strategis". Adapun hambatan dalam kemampuan industri pertahanan untuk mengisi kembali persediaan.

Dalam konflik tersebut, sejumlah besar rudal pencegat yang mahal digunakan. Hal itu termasuk rudal Patriot dan THAAD.

Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) merupakan sistem yang dirancang untuk mencegat rudal balistik jarak pendek dan menengah.

Menurut laporan tersebut, Iran juga menghancurkan stasiun radar THAAD senilai sekitar THAAD.

Pentagon memperkirakan biaya operasi perang hingga akhir Juni mencapai Rp590,18 triliun (US$33,4 miliar), dengan lebih dari Rp389,54 triliun (US$22 miliar digunakan untuk amunisi.

Trump tak menyesal perang Iran meski berdampak pada pemilu sela

Trump mengatakan ia tidak menyesal memutuskan berperang dengan Iran, meskipun konflik tersebut dapat berdampak pada pemilu sela AS pada November.

"Saya tidak percaya pada kata 'penyesalan'. Anda selalu bisa sedikit mempertanyakan diri sendiri," kata Trump dalam wawancara dengan pembawa acara Fox News, Laura Ingraham. Kala itu, Trump ditanya apakah ia menyesali perang Iran karena dampaknya terhadap pemilu.

"Jika saya harus melakukannya lagi, saya akan melakukan persis seperti yang saya lakukan," kata Trump dalam wawancara yang disiarkan pada Kamis (17/9) dalam acara "The Ingraham Angle".

Trump menepis anggapan bahwa sebagian pendukungnya kecewa dan kehilangan semangat akibat perang tersebut.

"Saya tidak berpikir mereka kehilangan semangat. Saya pikir mereka sangat bangga bahwa saya tidak membiarkan Iran memiliki senjata nuklir," kata Trump.

Trump kembali menyampaikan pandangannya bahwa perang akan berakhir segera setelah pemilu sela.

"Ini berakhir tepat setelah pemilu," kata Trump dalam wawancara tersebut. Sehari sebelumnya, ia juga menyampaikan pernyataan serupa. Ia pun menuduh Teheran berusaha memengaruhi pemilu. Sebab, hal tersebut akan menentukan apakah Partai Republik tetap menguasai kongres.

Kenaikan harga minyak dan gas akibat perang AS-Israel dengan Iran menjadi isu utama bagi Partai Republik menjelang pemilu.

AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Iran kemudian merespons dengan serangan pangkalan AS yang terletak di Israel dan negara-negara Teluk. Serangan AS-Israel terhadap Iran dan Lebanon telah menewaskan ribuan orang dan membuat jutaan orang mengungsi.

Trump menyebut pelemahan kemampuan nuklir Iran sebagai salah satu tujuan perang. Sementara AS punya senjata nuklir, Iran tak memilikinya. Teheran mengatakan program pengayaan uraniumnya ditujukan untuk tujuan damai.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Felicia Salvina

Editor: Rizki Nugraha