1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikAmerika Serikat

Biden Dukung Kamala Harris: Dia Tangguh dan Mampu

25 Juli 2024

Joe Biden memberikan dukungan kepada Wakil Presiden Kamala Harris untuk menggantikannya maju dalam pemilu Presiden AS. Ia memuji Harris dan memperingatkan agar tidak menjadi 'diktator'.

USA Washington | Presiden AS Joe Biden berbicara dari Ruang Oval Gedung Putih
Presiden Joe Biden berbicara dari Ruang Oval Gedung Putih pada 24 Juli 2024 di Washington, DC. Presiden menyampaikan alasan mengapa ia tiba-tiba mengakhiri pencalonannya untuk masa jabatan kedua setelah awalnya menolak seruan dari beberapa petinggi Partai Demokrat, dan menguraikan apa yang ingin ia capai dalam beberapa bulan terakhir masa jabatannya.Foto: Evan Vucci-Pool/Getty Images

 

Setelah berbagai spekulasi selama berminggu-minggu usai penampilan buruknya dalam debat pertama melawan kandidat Partai Republik Donald Trump, Presiden Joe Biden memberikan dukungan kepada Wakil Presiden Kamala Harris untuk menggantikannya.

Biden memuji Harris dan memperingatkan agar tidak menjadi 'diktator'

Presiden AS Joe Biden berbicara kepada rakyat Amerika Serikat (AS) dalam sebuah pidato di Ruang Oval, Rabu (24/07). Ini merupakan pidato pertamanya sejak mengumumkan bahwa ia mengakhiri pencalonannya kembali sebagai presiden. 

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada wakil presiden kita yang hebat, Kamala Harris,” kata Biden dalam pidatonya dari Ruang Oval.

"Dia berpengalaman, dia tangguh, dia mampu,” tambahnya.

"Dia telah menjadi mitra yang luar biasa bagi saya dan seorang pemimpin bagi negara kita," tegas Biden.

Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris memberikan sambutan dalam sebuah acara kampanye di Portage, Michigan, Amerika Serikat, pada tanggal 17 Juli 2024. Foto: Kyle Mazza/NurPhoto/picture alliance

Biden menekankan pentingnya keputusan yang harus diambil oleh para pemilih AS pada bulan November mendatang, dan memperingatkan akan adanya ancaman terhadap demokrasi.

"Hal yang hebat tentang Amerika adalah bahwa di sini, raja dan diktator tidak berkuasa, melainkan rakyat. Sejarah ada di tangan Anda, kekuatan ada di tangan Anda,” kata Biden. 

"Pertahankan demokrasi kita,” sambungnya.

Biden mengatakan bahwa keputusan ada di tangan para pemilih untuk memilih "antara maju atau mundur” dan "antara harapan dan kebencian.”

Dia mengatakan bahwa warisan jabatannya "layak untuk masa jabatan kedua” tetapi tidak ada yang bisa menghalangi upaya penyelamatan demokrasi, termasuk "ambisi pribadi.” Biden mengatakan sudah waktunya untuk memberi jalan bagi suara-suara yang lebih muda.

Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

Pria berusia 81 tahun ini, yang juga pernah menjabat sebagai wakil presiden pada pemerintahan Barack Obama, menjelaskan bahwa ia tetap akan melanjutkan tugasnya di Gedung Putih pada sisa masa jabatan selama enam bulan ke depan. Ia berjanji akan fokus pada beberapa program kerja.

"Menurunkan biaya bagi keluarga pekerja keras, menumbuhkan ekonomi kita. Saya akan terus membela kebebasan pribadi dan hak-hak sipil kita, mulai dari hak untuk bersuara hingga hak untuk memilih,” jelasnya.

"Saya akan terus menentang kebencian dan ekstremisme, menegaskan bahwa tidak ada tempat di Amerika untuk kekerasan politik,” katanya.

Biden juga menyinggung masalah kekerasan senjata api, perubahan iklim, dan perawatan kanker.

"Saya akan menyerukan reformasi Mahkamah Agung, karena hal ini sangat penting bagi demokrasi kita,” tambahnya. 

Ia juga mengatakan bahwa ia akan terus bekerja untuk "mengakhiri perang di Gaza dan membawa pulang semua sandera.”

Trump sebut pidato Oval Biden 'hampir tidak dapat dimengerti'

Seperti kebiasaannya, mantan Presiden Donald Trump menggunakan platform media sosialnya, Truth Social, untuk mengekspresikan pendapat mengenai pidato Biden dari Ruang Oval kepada warga AS.

"Pidato Oval Office Joe Biden yang bengkok hampir tidak dapat dimengerti, dan sangat buruk!” tulis calon presiden dari Partai Republik ini.

Tim Kampanye Trump juga membagikan foto di mana Trump berdiri di depan layar yang menampilkan pidato Biden.

Kandidat calon presiden dari Partai Republik, mantan Presiden Donald Trump, berbicara dalam Konvensi Nasional Partai Republik pada Kamis, 18 Juli 2024, di Milwaukee.Foto: Matt Rourke/AP Photo/picture alliance

Mantan Presiden Obama ucapkan terima kasih kepada Biden

Menyusul pidato Joe Biden, mantan Presiden Barack Obama kembali menyampaikan terima kasihnya kepada presiden yang sedang menjabat itu lewat sebuah unggahan di media sosial.

"Tujuan suci negara ini lebih besar daripada siapa pun di antara kita,” kata Obama, mengutip Biden.

"Joe Biden telah setia pada kata-kata ini lagi dan lagi selama masa pengabdiannya kepada rakyat Amerika. Terima kasih,” tambahnya.

Biden sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden selama dua periode kepemimpinan Obama di Gedung Putih. Obama merupakan salah satu tokoh Demokrat yang paling menonjol yang meminta Biden untuk mengakhiri upayanya mencalonkan diri kembali.

Ibu Negara Jill Biden berterima kasih kepada para pendukung

Istri Presiden Joe Biden, Ibu Negara Jill Biden, membagikan pesan di media sosial, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada para pendukung suaminya.

"Kepada mereka yang tidak pernah goyah, kepada mereka yang menolak untuk ragu, kepada mereka yang selalu percaya, hati saya penuh dengan rasa terima kasih,” katanya.

"Terima kasih atas kepercayaan yang Anda berikan kepada Joe. Sekarang saatnya untuk menaruh kepercayaan itu pada Kamala,” tambahnya.

Trump dan timnya kengeluarkan dana besar-besaran untuk kampanye 

Kampanye Partai Republik telah melampaui kampanye calon Partai Demokrat, Kamala Harris, seiring dengan persiapan yang dilakukan tim Harris usai Joe Biden memutuskan mundur dari pencalonan.

Mengutip perusahaan pelacakan media AdImpact, Associated Press melaporkan bahwa tim Donald Trump dan sekutunya mengeluarkan dana 25 banding 1 untuk iklan TV dan radio untuk Harris.

Partai Republik telah menghabiskan $68 juta (€62,7 juta) sejak hari Senin (22/7), sehari setelah Biden mengakhiri pencalonannya. Sejauh ini, Partai Demokrat hanya menghabiskan $2,6 juta.

Tim Harris tidak diragukan lagi bersiap untuk meningkatkan dana kampanye. Menurut para pengamat, hal ini menunjukkan bahwa Partai Republik mulai ‘menyambut' Harris sebagai kandidat lawan, dan itu artinya Partai Demokrat harus bertindak cepat untuk melawan narasi kampanye tim Trump.

Kandidat presiden dari Partai Republik, mantan Presiden Donald Trump, berbicara dalam Konvensi Nasional Partai Republik pada hari Kamis, 18 Juli 2024, di Milwaukee.Foto: J. Scott Applewhite/AP Photo/picture alliance

Trump lancarkan serangan terhadap Harris dalam rapat umum

Mantan Presiden Donald Trump, yang telah dikonfirmasi sebagai calon presiden dari Partai Republik untuk pemilu November mendatang, memulai serangannya terhadap calon lawannya dari Partai Demokrat, Wakil Presiden Kamala Harris.

Dalam rapat umum pertamanya sejak Presiden Joe Biden mengatakan tidak akan mencalonkan diri lagi, Trump menyebut Harris sebagai "orang gila kiri radikal” dan mengatakan bahwa ia "akan menghancurkan negara kita.”

"Kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi,” katanya kepada para hadirin di North Carolina.

Tim Trump harus mengubah strategi setelah memfokuskan energi mereka untuk menyerang Biden, terutama karena usianya. Namun kini Trump yang berusia 79 tahun berhadapan dengan Harris yang berusia 59 tahun, mereka pun mencari strategi baru.

Trump menyebut Harris sebagai "kekuatan pendorong ultra liberal di balik setiap bencana Biden” dan mengatakan bahwa dia menginginkan "aborsi pada bulan kedelapan dan kesembilan kehamilan” serta "sampai kelahiran dan bahkan setelah kelahiran, eksekusi bayi.”

Seperti biasa dalam beberapa kampanye sebelumnya, pernyataan seperti ini dibuat oleh Trump tanpa bukti.

Delegasi Partai Demokrat akan memberikan suara secara virtual pilih pengganti Biden

Para pejabat Partai Demokrat pada hari Rabu (24/07) sepakat untuk mengizinkan para delegasi memberikan suara secara online mulai tanggal 1 Agustus untuk memilih calon pengganti Presiden Joe Biden.

Dengan tidak adanya kandidat utama lain dan mayoritas delegasi telah mengumumkan dukungan mereka, Wakil Presiden Kamala Harris hampir pasti akan dinobatkan sebagai calon presiden dari Partai Demokrat.

Harris dan kandidat lainnya harus mengumpulkan 300 tanda tangan delegasi elektronik, dengan tidak lebih dari 50 tanda tangan dari satu negara bagian, sebelum tanggal 30 Juli.

Partai ini tampaknya ingin segera menyatukan dukungan untuk Harris menjelang konvensi nasional pada tanggal 19 Agustus dan demi mengamankan nominasi lebih awal agar dapat masuk ke semua surat suara di seluruh negara bagian, termasuk Ohio yang batas waktunya adalah 7 Agustus.

Partai Demokrat juga akan membahas kandidat calon wakil presiden, namun belum jelas siapa orangnya. Favorit saat ini adalah Gubernur Kentucky Andy Beshear, Gubernur Pennsylvania Josh Shapiro, Gubernur North Carolina Roy Cooper, dan Senator Arizona Mark Kelly, serta beberapa nama lain yang sedang dipertimbangkan.

mel/hp (AFP, AP, Reuters, dpa)