1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
TerorismeIndonesia

BNPT Perlu Waspada Euforia Taliban oleh Simpatisan Indonesia

Kusumasari Ayuningtyas
19 Agustus 2021

BNPT mengatakan tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan mengingat pergerakan Taliban berbeda dengan ISIS maupun Al Qaeda. Namun pengamat meminta agar tetap waspada.

Pasukan Taliban di Kabul, Afganistan
Taliban telah mendeklarasikan amnesti di seluruh Afganistan dan meminta para perempuan untuk bergabungFoto: Rahmat Gul/AP/picture alliance

Keberhasilan Taliban menguasai ibu kota Kabul dan hampir seluruh wilayah di Afganistan dalam hitungan hari telah memantik reaksi dari mantan narapidana terorisme dan simpatisan ideologi radikal di Indonesia.

Pengamat terorisme mengatakan euforia atau luapan kegembiraan yang berlebihan atas kemenangan Taliban tetap perlu diwaspadai, sementara Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengatakan tidak ada antisipasi khusus.

Pengamat intelijen dan terorisme dari Universitas Indonesia (UI), Ridlwan Habib, mengatakan bahwa yang perlu lebih dicermati dari kemenangan Taliban adalah peristiwa ini akan menjadi inspirasi dan menumbuhkan motivasi baru untuk membentuk negara Islam, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di negara lain.

"Itu Taliban saja bisa membentuk Emirat Islam Afganistan, kenapa kita tidak bisa. Ini lebih pada menumbuhkan militansi politik, bukan ke gerakan terornya. Bahwa memang ada elemen-elemen di Indonesia yang ingin mengubah negara Pancasila menjadi negara Islam. Dan kemenangan Taliban ini membuat elemen-elemen itu menampakkan diri," ujar Ridlwan kepada DW Indonesia. 

Pengamat intelijen dan terorisme dari Universitas Indonesia (UI), Ridlwan Habib.Foto: Privat

Namun, Kasubdit Bina Masyarakat, Direktorat Deradikalisasi BNPT, Kolonel Sus. Solahudin Nasution, memperkirakan bahwa apa yang terjadi di Afganistan tidak akan membuat banyak perbedaan di Indonesia. Menurutnya, ada atau tidaknya kemenangan Taliban, gejolak di antara simpatisan gerakan radikal akan selalu ada di Indonesia.

"Tidak ada antisipasi khusus. Selama ini kita selalu mengantisipasi kemungkinan adanya pergolakan-pergolakan yang ada di Indonesia dan di seluruh dunia," ujar Nasution saat dihubungi DW Indonesia.

Euforia dinilai tidak mengkhawatirkan tapi perlu diwaspadai

Melihat karakteristik Taliban, Nasution mengatakan bahwa tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan mengingat pergerakan Taliban yang berbeda dengan ISIS maupun Al Qaeda.

"Apa pernah ada ajakan atau seruan dari Taliban untuk ke sana? Taliban tidak pernah menyuruh ke sana, apalagi kondisi mereka saat ini masih kesulitan, termasuk keuangannya," ujar Nasution.

Ridlwan, pengamat terorisme dari UI, mengatakan bahwa apabila euforia atas kemenangan Taliban masih sebatas ide dan gagasan, pihak berwenang tidak dapat bertindak atau menangkapi orang-orang yang terjangkit euforia tersebut.

"Beda kalau mereka kemudian melakukan aksi bom untuk mewujudkan keinginan mereka. Tapi ini 'kan hanya senang dengan kemenangan Taliban dan ingin saja, tapi ya sudah, tidak tahu bagaimana selanjutnya," ujar Ridlwan. 

Seperti Nasution, Ridlwan juga mengatakan euforia ini tidak terlalu mengkhawatirkan, kecuali jika nantinya elemen-elemen simpatisan yang ingin mengubah Pancasila bisa sampai menguasai DPR dan berhasil memengaruhi semua fraksi hingga sepakat mengubah ideologi Pancasila jadi negara Islam.

Mantan narapidana terorisme akui ada gejolak inspiratif

Sementara dari Solo di Jawa Tengah, DW Indonesia juga berbincang dengan mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) yakni Sofyan Tsauri. Sofyan melihat bahwa besar kemungkinan penguasaan kembali Afganistan oleh Taliban menjadi inspirasi bagi para simpatisan di Indonesia, terlepas dari apakah mereka memahami siapa Taliban dan mengetahui perbedaan Taliban dengan Al Qaeda atau tidak. 

Sofyan memang menghawatirkan munculnya semangat baru di antara para simpatisan ideologi ekstremisme. Ia melihat bahwa ketatnya penerapan syariat Islam yang merupakan ciri khas Taliban sejak lama akan kembali menjadi daya tarik tersendiri bagi para ekstremis di Indonesia untuk datang ke Afganistan. 

"Padahal Taliban ini berbeda dengan JAD (Jamaah Ansharut Daulah yang berafiliasi pada ISIS) berbeda dengan JI (Jamaah Islamiyah yang berafiliasi ke Al Qaeda)," ujar Sofyan saat dihubungi DW Indonesia, Rabu (18/08). 

Tidak jauh berbeda, Joko Tri Harmanto, mantan narapidana terorisme perakit Bom Bali di tahun 2002 mengatakan bahwa dia juga melihat riak-riak semangat di antara mereka yang dia sebut sebagai "para ikhwan".

"Mereka seperti tersulut semangat jihadnya, tetapi kalau untuk ke sana (Afganistan) saya yakin mereka akan pikir-pikir dulu karena kondisi di sana masih belum pasti 'kan," ucapnya.

Janji akan berbeda dari sebelumnya

Saat ini, timbul kecemasan di antara warga Afganistan bahwa Taliban yang baru akan sama kejam dengan Taliban yang dulu dalam menerapkan hukum-hukum Islam, meski pihak Taliban telah berkali mengatakan bahwa mereka yang sekarang berbeda dengan Taliban yang dulu memimpin Kabul sebelum invasi Amerika dan sekutunya tahun 2001.

Ribuan warga Afganistan berbondong menuju bandara terdekat untuk berebut masuk pesawat dan mengevakuasi diri dan keluarga mereka keluar dari Afghanistan, bahkan ada video yang memperlihatkan mereka sampai nekat menggantung berpegangan pada bagian luar pesawat. Para warga yang selama ini telah mendukung tentara sekutu atau bekerja sebagai penerjemah takut pihak Taliban tidak akan mengampuni mereka.

Pada tahun 1994-2001, Taliban pernah memimpin Afganistan dan menerapkan hukuman rajam. Selain itu, kelompok ini juga pernah melarang anak-anak perempuan bersekolah, serta tidak memperbolehkan perempuan keluar rumah tanpa mengenakan burka, dan tanpa ditemani suami atau anggota keluarga laki-laki.

Namun baru-baru ini Taliban mengumumkan pengampunan tanpa syarat kepada semua pegawai pemerintah di Afganistan, dan meminta mereka untuk kembali bekerja. (ae)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait