Sidang Majelis Rakyat Korea Utara baru-baru ini sama sekali tidak menyinggung arah hubungan dengan AS di bawah kepemimpinan yang baru. Pakar menilai, Kim memilih menunggu Trump memainkan kartu pembuka.
Kim merasa dikhianati oleh Trump, yang gagal memenuhi janjinya pada masa jabatan pertamanya, menurut para ahli.Foto: Evan Vucci/AP Photo/picture alliance
Iklan
Pada pertemuan Majelis Rakyat Tertinggi di Pyongyang baru-baru ini, Korea Utara mengonfirmasi sejumlah agenda rutin, termasuk rencana anggaran negara dan peningkatan belanja pertahanan. Namun, dalam pertemuan selama dua hari itu, bagaimana sikap Pyongyang terhadap pemerintahan baru Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, sama sekali tidak disinggung.
Para analis berpendapat, Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mungkin memilih menunggu langkah pembuka dari Trump yang diharapkan dapat menandai kembalinya "bromance" di antara keduanya. Mereka sebelumnya telah bertemu sebanyak tiga kali di masa jabatan pertama Trump.
Namun di sisi lain, Pyongyang juga mungkin sengaja mengabaikan AS karena kegagalan KTT Hanoi 2019 antara Korea Utara-AS, yang membuat Kim malu karena ia telah mempertaruhkan banyak hal pada pertemuan tersebut guna mendapatkan hasil yang positif.
Di saat yang sama, kondisi ekonomi dan militer Korea Utara kini jauh lebih baik setelah menandatangani serangkaian kesepakatan dengan Rusia, sehingga Kim tidak terlalu membutuhkan hubungan kerja yang lebih baik dengan AS, menurut para analis.
Trump dan Kim Demonstrasikan Kerukunan Dengan Jalan Di Taman
01:36
This browser does not support the video element.
"Tekanan penuh untuk AS"
Meski Pyongyang tidak menggunakan agenda pertemuan Majelis Rakyat itu untuk menyatakan sikapnya terhadap AS, uji coba peluncuran serangkaian rudal jelajah laut pada Sabtu (26/01), selang beberapa hari setelah pelantikan Trump sebagai presiden AS, dianggap memberikan sinyal yang jelas.
Iklan
Satu hari setelahnya, Pyongyang juga mengeluarkan pernyataan yang mengecam latihan udara gabungan AS-Korea Selatan, dengan menyatakan bahwa Korea Utara akan mempertahankan "sikap balasan paling tegas" untuk AS, selama Washington masih mengabaikan tuntutan kedaulatan dan keamanan Pyongyang.
Uji coba peluncuran serangkaian rudal selang beberapa hari setelah pelantikan Trump, dianggap jadi sinyal jelas sikap Korea Utara terkait arah hubungan dengan ASFoto: KCNA via KNS/dpa/picture alliance
"Kim mengatakan dua pekan lalu, Korea Utara akan mengambil kebijakan tekanan penuh terhadap AS, meskipun ia tidak menjelaskan tekanan seperti apa yang akan dilakukannya," kata Moon Chung-in, profesor politik dan hubungan internasional di Universitas Yonsei, Seoul, sekaligus penasihat khusus untuk mantan Presiden Moon Jae-in dalam bidang keamanan nasional dan hubungan luar negeri.
"Bagi Kim, telah terjadi perubahan mendasar dalam pemikirannya terkait hubungan Korea Utara dan AS, di mana posisinya saat ini adalah keduanya tidak bisa melanjutkan apa yang sudah mereka ungkapkan," tambahnya kepada DW.
Pada Desember 2023, Kim menyatakan bahwa kebijakan AS masih bertujuan untuk menggulingkan rezim Korea Utara, sehingga ia tidak melihat adanya harapan pada kesepakatan jangka panjang dengan Washington, kata Moon.
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Moon juga menambahkan, kesadaran Kim ini mendasari "perubahan pada kebijakan Korea Utara" yang diumumkan pada Januari 2024 bahwa hubungan dengan AS bukan lagi prioritas utama Pyongyang.
Pada pertemuan Majelis Rakyat, Kim juga menyatakan bahwa reunifikasi damai dengan Korea Selatan tidak lagi memungkinkan dan pemerintahnya sedang membuat "perubahan kebijakan" yang mempertegas hubungan dengan Selatan, yang ia gambarkan sebagai "musuh utama dan musuh prinsipil yang tak tergoyahkan."
Kim juga memerintahkan pasukan militernya bersiaga mengambil tindakan untuk menduduki dan menaklukkan Selatan. Korea Utara telah membelah jalur kereta api yang secara simbolis melintasi Zona Demiliterisasi (wilayah yang dijaga ketat dan membagi kedua negara), menghancurkan jalanan di wilayah tersebut, dan membangun pertahanan tambahan di sepanjang perbatasan.
Korea Utara: Donald Trump dan Saga Nuklir Kim Jong-Un
Pemimpin Korea Utara dan Amerika Serikat dulu saling ancam serangan dengan senjata nuklir. Sekarang mereka berniat rujuk. Berikut peristiwa besar dalam 'drama' hubungan mereka.
Foto: picture-alliance/AP Photo/Ahn Young-joon
2 Januari 2017: Percobaan Misil Sukses
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un katakan awal tahun ini, negaranya memasuki "tahap final" untuk peluncuran Misil Balistik Interkontinental (ICBM). Presiden Donald Trump yang dilantik 20 Januari 2017 mengatakan di Twitter: "Korea Utara baru menyatakan sudah sampai tahap final kembangkan senjata nuklir yang bisa capai AS. Itu tidak akan terjadi!"
Foto: Getty Images/AFP/KNCA
4 July 2017: "Paket Hadiah" Korea Utara
Korea Utara menguji rudal ICBM pertama, Hwasong-14 pada Hari Kemerdekaan AS. Menurut laporan, Kim Jong Un katakan kepada ilmuwannya, "AS tidak akan senang" dengan keberhasilan ini. Kim sebut percobaan ini "paket hadiah" di Hari Kemerdekaan AS. Sebagai reaksi Trump menulis di Twitter, "Korea Utara baru meluncurkan rudal lagi. Apa pria ini tak punya kesibukan lain daripada menyia-nyiakan hidupnya?"
Foto: Reuters/KCNA
28 July 2017: Dataran AS Terancam
Pyongyang ujicoba rudal Hwasong-14 yang kedua beberapa pekan setelahnya. Pakar memperkirakan, roket baru bisa mencapai dataran AS. Trump kritik sekutu Korea Utara, yaitu Cina, lewat ciutan: "Saya sangat kecewa dengan Cina. Para pemimpin tolol kita di masa lalu memperbolehkan mereka mendapat untung milyaran per tahun lewat perdagangan, tapi tidak melakukan APAPUN bagi kita dalam hal Korea Utara."
Foto: picture-alliance/AP Photo/Korean Central News Agency
8 Agustus 2017: Kemurkaan
Trump sepertinya mengancam dengan serangan kilat terhadap Pyongyang ketika ia mengatakan di depan wartawan: "Korea Utara sebaiknya tidak ancam AS lagi. Kerena mereka akan hadapi "api dan kemarahan" yang belum pernah mereka lihat. Korea Utara menjawab dengan ancaman akan menembakkan misil balistik jarak menengah ke dekat Guam, daerah AS yang berada di Pasifik. Tapi tidak terjadi.
Foto: picture-alliance/AP Photo/B. Anderson
29 Agustus 2017: Tes Roket Jepang
Pyongyang sulut kecaman internasional ketika menguji coba misil balistik jarak menengah, Hwasong-12, melewati kawasan udara Jepang. Dewan Keamanan PBB kecam uji coba tersebut. Trump mengatakan dalam pernyataan Gedung Putih, "Aksi ancaman dan destabilisasi hanya meningkatkan isolasi rezim Korea Utara di kawasan itu dan di seluruh dunia."
Foto: picture-alliance/dpa/kyodo
3 September 2017: Uji Coba Bom Hidrogen
Korea Utara umumkan sukses menguji senjata nuklir ke enamnya. Pyongyang mengatakan, ini senjata nuklir kuat yang disebut bom hidrogen, dan bisa ditempatkan jadi kepala misil balistik. Trump menulis lewat Twitter: "AS mempertimbangkan untuk menghentikan semua perdagangan dengan negara manapun yang berbisnis dengan Korea Utara, di samping opsi lainnya."
Foto: Reuters/KCNA
19 September 2017: Ancaman bagi "Rocket Man"
Dalam pidato pertamanya di PBB, Trump sebut Korea Utara "negara penipu" dan menandaskan, Washington "tidak punya pilihan lain selain menghancurkan seluruh Korea Utara" jika Pyongyang tidak hentikan program nuklirnya. Kim Jong Un disebutnya: "Rocket man" yang dalam misi bunuh diri dan membunuh rezimnya sendiri. Dua hari kemudian Kim menyebut Trump "pria pikun yang menderita gangguan mental".
Foto: Getty Images/S. Platt
29 November 2017: Tes ICBM Ke Tiga
Akhir 2017 Korea Utara menguji ICBM untuk terakhirkalinya. Pyongyang menyebutnya misil baru, yaitu Hwasong-15, yang lebih unggul daripada Hwasong-14, dan bisa ditembakkan ke target manapun di dataran AS. AS desak sekutunya, termasuk Jerman untuk hentikan hubungan diplomatik dengan Korea Utara. Jerman tidak bereaksi. Trump sebut Kim Jong Un "anak anjing yang sakit".
Foto: Reuters/KCNA
3 Januari 2018: Siapa Punya Tombol Lebih Besar?
Kim mengatakan di awal 2018, Korea Utara sudah menyelesaikan program nuklirnya dan sebuah "tombol nuklir " kini ada di mejanya. Dua hari kemudian Trump menulis ciutan: "Apakah seseorang dari rezimnya yang miskin dan kekurangan pangan mengatakan kepadanya, saya juga punya tombol nuklir, tapi lebih besar dan lebih ampuh daripada miliknya, dan tombol saya berfungsi!"
Foto: Reuters/KCNA
10 February 2018: Ketegangan Surut?
Presiden Korea Selatan Moon Jae In menyambut saudara perempuan Kim Jong Un, yaitu Kim Yo Jong di Seoul. Ia menyerahkan undangan kepada Moon Jae In, untuk bertemu saudara laki-lakinya di Pyongyang. Seoul dan Pyongyang setuju mengirimkan tim hoki bersama ke Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang, Korea Selatan.
Foto: picture-alliance/AP Photo/K. Ju-sung
6 Maret 2018: Langkah Selanjutnya
Penasehat Keamanan Korea Selatan Chung Eui Yong pimpin delegasi ke Pyongyang tanggal 5 Maret untuk bicarakan perdamaian. Sehari setelahnya Chung katakan, kedua belah pihak setuju adakan KTT April mendatang. Ia mengatakan, Pyongyang setuju hentikan program nuklir dan tes rudal jika AS setuju untuk berbicara dengan Korea Utara.
Foto: Reuters/Yonhap/Reuters/Yonhap/South Korean Presidential Blue House
9 Maret 2018: Trump Setuju
Chung ke Washington, untuk berunding dengan Trump. Setelah pertemuan, Chung katakan, Trump setuju bertemu Kim Jong Un bulan Mei. Trump kemudian menulis di Twitter: "Sekarang tidak ada tes rudal Korea Utara. Kemajuan besar tercapai, tapi sanksi tetap ada hingga kesepakatan tercapai. Pertemuan sudah direncanakan!" Para pemimpin negara lain sambut terobosan bersejarah ini. Penulis: Alexander Pearson
Foto: picture-alliance/AP/dpa/Wong Maye-E
12 foto1 | 12
Agenda Majelis Rakyat Tertinggi tanpa retorika bombastis
Agenda pertemuan ke-12 Majelis Rakyat Tertinggi ke-14 pekan lalu diadakan di Aula Majelis Mansudae di Pyongyang, lapor Kantor Berita Pusat Korea (KCNA). Namun, agenda itu berlangsung dengan retorika yang jauh lebih sedikit. Tidak jelas apakah Kim hadir secara langsung atau tidak, karena KCNA tidak menyebut keberadaannya.
"Saya yakin tidak ada penyebutan soal AS atau Trump, karena Kim tidak ingin menjadi yang pertama memainkan kartu pada tahap baru hubungan Korea Utara-AS ini," kata Stephen Nagy, profesor politik dan hubungan internasional di Universitas Kristen Internasional Tokyo.
"Dengan tidak begitu agresif, ia memberikan peluang bagi Trump untuk mungkin menggunakan semacam diplomasi yang tidak ortodoks," katanya kepada DW.
Saat ini, Kim bisa bersabar karena pesaingnya dan pemain signifikan lainnya dalam kepentingan di Asia Timur Laut sedang sibuk pada masalahnya masing-masing, tambah Nagy.
Trump misalnya, memiliki banyak masalah yang harus dihadapi, terutama di dalam negerinya sendiri. Korea Selatan juga sibuk dengan kekacauan politiknya sendiri. Cina juga memiliki masalah ekonomi dan masih mempertimbangkan sikapnya pada pemerintahan baru AS, sementara Rusia masih terus berperang di Ukraina, bahkan sedang berupaya menjaga ketahanan ekonominya.
Inilah Sanksi PBB Pada Korea Utara
PBB jatuhkan sanksi terhadap Korea Utara sebagai hukuman bagi program senjata nuklirnya. Dewan Keamanan bahkan akan memperberat sanksi. Inilah sejumlah hukuman PBB terhadap Korea Utara:
Foto: Reuters/S. Sagolj
Moneter
Korea Utara dilarang membuka cabang bank di luar negeri. PBB juga melarang anggotanya mengoperasikan institusi keuangan untuk kepentingan Pyongyang. Karena aktivitas itu bisa membuat Korea Utara mengelak dari sanksi. PBB juga meminta negara anggota mengusir siapa pun yang bekerja untuk kepentingan keuangan rezim komunis itu.
Foto: Mark Ralston/AFP/Getty Images
Pelayaran
PBB memerintahkan negara anggota untuk registrasi ulang semua kapal barang yang dimiliki, dioperasikan atau diawaki orang yang berada di bawah perintah Pyongyang. Kapal-kapal Korea Utara juga dilarang menggunakan bendera negara lain, untuk menghindari sanksi.
Foto: picture-alliance/AP Photo/J. Dumaguing
Penerbangan
Air Koryo, maskapai nasional Korea Utara dilarang terbang ke Uni Eropa dengan alasan standar keamanan penerbangan. Juga AS melarang warganya melakukan bisnis dengan maskapai ini. Air Koryo terutama melayani jalur domestik dan jalur luar negeri ke Cina serta Rusia.
Foto: picture-alliance/dpa/Yonhap
Bahan Bakar
Sanksi PBB melarang penjualan bahan bakar pesawat terbang, jet dan roket ke Korea Utara. Tapi penjualan minyak mentah atau sejenisnya hingga kini masih diizinkan. Yang jarang diketahui Korut juga memproduksi mobil sendiri dengan merk Pyeonghwa, bekerja sama dengan mendiang pendeta Sun Myung Moon yang jadi penasehat spiritual mantan Presiden Park Gyeun he.
Foto: Getty Images/AFP/M. Ralston
Batu bara
BisnIs ekspor batu bara terutama dijalin dengan Cina. Tapi bulan Februari lalu, Cina membatasi impor batu bara dari Korea Utara. Dengan persyaratan ketat, Pyongyang diizinkan mengekspor 7,5 juta ton batu bara ke Cina senila 374 juta euro. Salah satu pembelinya adalah Liaoning Greenland Energy Coal Co.(foto) di Dandong, kota perbatasan Cina dengan Korea Utara.
Foto: Reuters/B. Goh
Rekening Bank dan Properti
Sanksi PBB membatasi hanya satu rekening bank bagi setiap diplomat Korea Utara di luar negeri (foto kedubes Korut di Berlin). Korea Utara juga dilarang memiliki properti apa pun di luar negeri selain gedung kedutaan atau konsulatnya.
Foto: picture alliance/dpa/S.Schaubitzer
Latihan Militer
PBB melarang lembaga keamanan negara anggotanya mengirim pelatih untuk mendidik militer, polisi atau unit paramiliter Korea Utara. PBB hanya mengizinkan pertukaran tenaga medis, tapi hanya memperbolehkan asistensi teknik dan nilai keilmuan.
Foto: Reuters/S. Sagolj
Patung
PBB juga melarang penjualan patung dari Korea Utara, khususnya patung para pemimpin rezim dari dinasti Kim.
Foto: picture alliance/dpa/robertharding
8 foto1 | 8
"Sweet spot” geopolitik
"Kim berada pada semacam 'sweet spot' geopolitik saat ini, di mana semua pesaing di sekitarnya sedang sibuk dengan masalah mereka sendiri, sehingga ia bisa bersabar dan melihat apa yang akan ditawarkan AS," kata Nagy.
Kim juga memegang kartu yang lebih baik dibanding saat Trump terakhir kali menjabat, menyusul hubungan eratnya dengan Presiden Vladimir Putin di Moskow, yang memberikan teknologi militer untuk Korea Utara meski Rusia terkena sanksi internasional.
Jika Trump benar-benar ingin menghidupkan kembali hubungannya dengan Kim dan berencana untuk menemukan solusi permanen terhadap situasi di Korea, maka Kim mungkin akan mendengarkannya, kata Moon. Namun, pemimpin Korea Utara itu mungkin butuh keyakinan yang lebih, tambahnya.
"Kim merasa dikhianati saat terakhir kali Trump gagal memenuhi janjinya. Kecuali Kim melihat inisiatif yang dapat diterapkan dan sangat jelas dari Trump, maka saya tidak yakin mereka akan kembali berdiskusi," tegasnya, seraya menambahkan bahwa Kim sadar strategi bertahan paling baik adalah dengan mendekat ke Rusia.