1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialIndonesia

Bukan Lagi Alkohol, Kafe Jadi Pilihan Utama Gen Z

18 Maret 2026

Dari tren termatcha-matcha hingga kopi susu, Gen Z mengubah cara bersosialisasi. Kafe jadi ruang utama, lebih santai, fleksibel, dan terjangkau,menggantikan budaya minum alkohol di kalangan anak muda.

Ilustrasi Kopi
Kopi kian disebut “emas hitam” di tengah tekanan iklim dan permintaan global yang terus meningkat, termasuk tren Gen Z dalam mengonsumsi kopiFoto: Mauro Pimentel/AFP

“Kalau otak butuh dopamin, ngopi saja sudah cukup.”

Bagi Agil Ramadhan (24), kalimat itu menjadi titik balik ketika ia memutuskan berhenti minum alkohol. Keputusan itu muncul saat masa refleksi ketika ia dirawat di rumah sakit karena penyakit lain, bukan terkait alkohol.

“Di situ saya mulai berpikir ulang tentang kebiasaan yang sebenarnya tidak terlalu saya butuhkan,” katanya.

Menurut Agil, alasan utamanya adalah produktivitas pribadi. Ia merasa alkohol tidak memberi manfaat bagi rutinitasnya. Karena sebelumnya bukan peminum berat, ia tidak merasakan perubahan fisik yang signifikan setelah berhenti.

“Secara fisik tidak terlalu terasa, tapi mungkin ada perubahan dalam pengendalian diri,” ujarnya.

Keputusan itu sempat menjadi candaan di lingkaran pertemanannya saat ia menolak minuman alkohol. Namun ia memilih bersikap tegas. “Saya menolak tanpa memikirkan ‘gak enakan’.”

Dalam 10 tahun terakhir, cukai alkohol di Indonesia terus naik signifikan. Data Kementerian Keuangan Republik Indonesia menunjukkan tarif kini puluhan persen lebih tinggi dibanding awal 2010-an, dengan kenaikan sekitar 20% pada 2024Foto: Steve Parsons/PA Wire/empics/picture alliance

Kini alkohol tidak lagi menjadi bagian dari aktivitas sosialnya. “Sekarang kalau kumpul ya kopi sama rokok saja.”

Ia juga melihat perubahan yang lebih luas di kalangan anak muda. “Menurut saya tren Gen Z yang minum lebih sedikit memang ada. Dulu mungkin story dengan botol alkohol terlihat keren, sekarang justru terasa agak norak.”

Pengalaman Agil mencerminkan perubahan yang lebih luas. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan konsumsi alkohol di Indonesia menurun dari sekitar 0,45 liter per kapita pada 2019 menjadi 0,37 liter pada 2023.

Secara global, tren serupa juga terlihat. Survei Gallup menunjukkan proporsi orang dewasa di bawah 35 tahun yang minum alkohol turun dari sekitar 72% pada awal 2000-an menjadi sekitar 62% dalam beberapa tahun terakhir. Analisis industri juga mencatat Gen Z mengonsumsi sekitar 20% lebih sedikit alkohol dibandingkan milenial pada usia yang sama.

Kafe sebagai “rumah ketiga”

Penurunan konsumsi alkohol berjalan bersamaan dengan perubahan tempat berkumpul. Di Indonesia, anak muda kini lebih sering memilih kafe karena dianggap lebih nyaman dan fleksibel.

Fauziah Sahalehah, pemilik Menepi Coffee di Jakarta Timur, melihat perubahan ini secara langsung.

“Sekarang kalau ada ajakan kumpul, anak muda cenderung ke kafe. Mereka bisa lebih lama karena suasananya santai, bahkan sambil mengerjakan tugas,” ujarnya.

Menurutnya, fungsi kafe juga ikut berubah. “Kafe sekarang seperti rumah ketiga. Bisa untuk ngobrol, kerja, bikin tugas, bahkan membuat konten.”

Perubahan ini juga terlihat dari waktu kunjungan. Kafe justru lebih ramai pada malam hari.

“Biasanya mulai ramai setelah jam 7 malam. Bahkan ada yang datang jam 11 malam. Kafe lain yang buka sampai jam 3 pagi justru selalu penuh,” katanya.

Tren ini sejalan dengan perubahan pola konsumsi kopi. Survei Jakpat (2024–2025) menunjukkan sekitar 35% Gen Z mengonsumsi kopi pada sore hingga malam hari.

Artinya, kafe kini bukan hanya tempat minum, tetapi juga ruang sosial utama.

Kafe sebagai ruang bercengkrama yang lebih terjangkau

Fenomena ini menunjukkan perubahan cara orang mengonsumsi kopi. Dulu orang datang ke kafe untuk membeli minuman. Sekarang, mereka juga mencari pengalaman, waktu, dan kenyamanan.

Pengunjung datang lebih lama. Kafe digunakan untuk bekerja, belajar, atau bersosialisasi. Ruang menjadi faktor penting, bukan hanya produk.

Kondisi ini berkaitan dengan finansial Gen Z. Banyak dari mereka masih pelajar, mahasiswa, atau pekerja awal dengan pendapatan terbatas. Survei Jakpat (2024) menunjukkan rata-rata pengeluaran kopi berada di kisaran Rp10.000–Rp25.000 per transaksi, dan sekitar 47% Gen Z menjadikan harga sebagai faktor utama.

Keterbatasan ini tidak mengurangi minat nongkrong, tetapi mengubah cara konsumsi. Mereka memilih tempat yang lebih terjangkau agar bisa berlama-lama tanpa mengeluarkan banyak uang.

Hal ini juga disadari pelaku usaha. Fauziah mengatakan bahwa pengembangan ruang kini lebih penting dibanding sekadar menu. “Kami fokus ke seating area. Targetnya anak muda 17–25 tahun yang belum mapan, jadi mereka cari tempat yang tidak terlalu mahal,” ujarnya.

Fauziah mengakui tren memesan kopi pun berubah. Dari tren mocktail, kini beralih ke kopi susu dan matcha yang lebih sederhana dan terjangkauFoto: Rahka Susanto/DW

Strategi lain dilakukan melalui pengembangan ruang dan pengalaman. “Saya memperluas area outdoor dan membuat stage untuk live music. Anak muda suka ruang terbuka dan ada hiburan.”

Jam operasional juga disesuaikan. “Lebih menguntungkan buka dari siang sampai tengah malam atau dini hari, dibanding buka pagi tapi tutup jam 9 malam.” Dari sisi menu, tren juga berubah. “Sekarang lebih ke kopi susu dan matcha, bukan lagi coffee mocktail.”

Dalam lima tahun terakhir (2021–2025), konsumsi kopi di Indonesia meningkat dari sekitar 4,45 juta menjadi 4,8 juta kantong, dengan pertumbuhan yang banyak didorong oleh generasi muda.

Survei Jakpat (2023) menunjukkan sekitar 66% Gen Z minum kopi setiap hari, sementara data 2024 menunjukkan pola konsumsi yang lebih beragam, dari mingguan hingga beberapa kali sehari.

Secara global, tren juga bergerak ke arah yang sama: konsumsi alkohol di kalangan anak muda cenderung menurun, sementara kopi justru makin populer. Data World Health Organization dan survei Gallup menunjukkan semakin sedikit anak muda yang minum alkohol dibanding dua dekade lalu.

Sebaliknya, International Coffee Organization mencatat konsumsi kopi global terus naik sekitar 2–3% per tahun, menandakan pergeseran gaya hidup dari minum ke nongkrong.

 

Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya