1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Buntunya Pemecahan Konflik Atom Iran

2 September 2006

Batasan waktu yang diberikan Dewan Keamanan PBB terhadap Iran telah lewat, namun Teheran tetap bergeming.

Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad
Presiden Iran, Mahmud AhmadinejadFoto: AP

Politik Iran dinilai tetap membingungkan dan rumit. Harian liberal kiri Spanyol El Pais yang terbit di Madrid berkomentar: Batas waktu dari Dewan Keamanan bukan ultimatum.

"Jalan bagi perundingan baru tetap terbuka. Walaupun Teheran menawarkan dialog, tapi pernyataan maupun sikap yang ditunjukan Presiden Ahmadinejad, menghambat kemajuan pemecahan diplomatis. AS kini mendesak Dewan Keamanan menjatuhkan sanksi. Tapi Uni Eropa kelihatannya tetap memilih cara diplomasi. Iran juga tahu, situasi di Irak dan Libanon menguntungkannya, dan AS tetap membutuhkan kerjasama dari Teheran."

Sementara harian Rusia Kommersant yang terbit di Moskow berkomentar: Semua pihak memandang Iran sesuai dengan kebutuhannya.

"Dalam konflik atom Iran, muncul semakin banyak spekulasi. Bagaimana kalau Iran benar-benar membuat bom atom? Apa jadinya jika Iran membantu negara lain, yang dituding oleh Barat sebagai berbahaya dan pemimpinnya tidak waras? Dalam kondisi seperti saat ini, setiap negara memandang Iran sesuai kepentingannya. AS dan Israel tetap membunyikan tanda bahaya. Sementara Rusia dan Cina tetap menyebutkan, tudingan Barat itu sebagai isapan jempol belaka."

Sedangkan harian Austria Kurier yang terbit di Wina berkomentar: Dalam konflik atom dengan Iran politik real sudah semakin lelah.

"Sebuah ultimatum harus ditutup dengan sanksi. Jika tidak, ultimatumnya menjadi menggelikan. Jadi dalam konflik atom Iran, seharusnya dijatuhkan sanksi. Itu teorinya, tapi dalam prakteknya tidak segampang itu. Artinya, perundingan akan dilanjutkan dan permainan poker diteruskan. Melelahkan dan sangat tidak konsekuen. Tapi itulah politik real."

Tema lain yang disoroti harian Eropa adalah konferensi negara donor untuk pembangunan kembali Libanon di Stockholm. Setelah silang sengketa dan tarik ulur penempatan pasukan helm biru, dalam konferensi itu Uni Eropa menunjukan kedermawanannya.

Harian Inggris The Guardian yang terbit di London berkomentar: Sekarang masyarakat internasional harus menangani bencana dan dampak dari perang Libanon.

"Pepatah lama masih tetap berlaku, mencegah lebih baik daripada mengobati. Tapi sekarang Uni Eropa sangat dermawan, dengan menjanjikan bantuan besar bagi pembangunan kembali bagi Libanon, pada konferensi negara donor di Stockholm."

Sementara harian Prancis Le Monde yang terbit di Paris menulis komentar: Situasi di Libanon dipengaruhi konflik atom Iran.

"Situasi terbaru di Libanon, terus mengubah persyaratan penempatan pasukan helm biru. Prancis menarik janjinya, untuk menempatkan 2.000 serdadunya di Libanon Selatan. Apakah Prancis melancarkan diplomasi mengikuti suasana politik di Iran? Sebab diketahui Iran adalah bapak pelindung Hisbullah. Kini publik harus mendapat penjelasan, bahwa konflik atom Iran akan dapat membahayakan misi pasukan perdamaian di Libanon."