Buntut Kegeraman Rusia
15 Januari 2008
Rusia menuding Inggris sengaja membuat aksi provokasi dengan tidak mengindahkan permintaan Rusia untuk menutup kedua cabang British Council di St. Petersburg dan Yekaterinburg, setelah liburan Natal. Tak hanya itu, Rusia juga mengancam tidak akan memberikan visa lagi bagi staf British Council. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Michail Kamynin mengungkapkan:"Kami akan menagih pajak kantor British Council di St. Petersburg. Telah diputuskan bahwa staf konsulat British Council di St. Petersburg dan Yekaterinburg tidak akan menerima visa lagi. Kami tidak akan memperpanjang akreditasi mereka yang saat ini bekerja di British Council."
Pada akhir tahun 2007, kementerian luar negeri Rusia menutup pusat budaya Inggris itu dengan alasan lembaga tersebut, dengan alasan lembaga itu tidak memiliki dasar hukum untuk bekerja di Rusia. Namun British Council menyatakan telah memiliki surat izin dan siap melanjutkan kegiatannya yang sudah berjalan. Sehubungan dengan pembukaan lagi dua cabang British Council di Rusia, kementerian luar negeri Rusia memanggil Duta Besar Inggris untuk Rusia, Sir Antony Brenton. Menanggapi aksi Rusia itu, Brenton berujar : "seseorang telah mengirimkan sejumlah dokumen yang isinya mesti diperiksa. Isinya berupa tanggapan Rusia terhadap aktivitas British Council. Mengenai masalah tidak diterbitkannya visa baru bagi staf Britisih Council, kami tak dapat melakukan apapun tanpa memberitahukannya pada Rusia. Namun saya tegaskan bahwa Inggris bisa saja melakukan hal serupa dalam hal ini, namun tidak berlaku bagi warga sipil Rusia yang memerlukan visa."
Inggris masih bersikeras untuk membuka dua cabang British Council dan mengatakan bahwa aksi Rusia itu bertentangan dengan hukum internasional. Namun ada dugaan bahwa sengketa British Council bermotif politik.
Ketegangan antara kedua negara bermula dari sengketa diplomatik antara Rusia dengan Inggris menyangkut kematian agen dinas intelejen Rusia KGB, Alexander Litvinenko. Dalam kasus pembunuhan Litvinenko, seorang saksi Andrei Lugovoi yang dituduh membunuh Litvinenko mengatakan bahwa dirinya hanyalah kambing hitam. Ujar Lugovoi, pembunuhan tidak mungkin dilakukan tanpa keterlibatan dinas rahasia Inggris yang ingin merekrut Litvinenko, untuk mengorek keterangan tentang Presiden Rusia Vladimir Putin. Litvinenko meninggal dunia November 2006 setelah diracun dengan bahan radio aktif.