1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Buronan Interpol di Kabinet Iran

4 September 2009

parlemen Iran menerima 18 dari 21 calon menteri kabinet yang diajukan Presiden Ahmadinejad. Termasuk didalamnya seorang mentri perempuan pertama, dan seorang buronan internasional.

Menteri Pertahanan Iran yang baru, Jendral Ahmad Vahidi, diburu interpol sebagai tersangka pelaku serangan terhadap pusat Yahudi di Argentina, tahun 1994.Foto: AP

Presiden Mahmud Ahmadinejad boleh mengambil nafas lega. Silang pendapat di parlemen tentang kemenangannya dalam pemilu yang diperdebatkan, sudah sirna. Parlemen kini menunjukkan dukungan kepada Ahmadinejad. Dari 21 calon menteri yang ia ajukan, hanya tiga yang ditolak.

Keputusan yang paling disoroti dunia internasional adalah disetujuinya Ahmad Vahidi sebagai Menteri Pertahanan. Vahidi adalah buronan internasional, tersangka pelaku serangan terhadap pusat Yahudi di Argentina. Dalam pemungutan suara di parlemen, Kamis (03/09), ia mendapat 227 suara, angka tertinggi dari seluruh calon menteri.

Seusai pemungutan suara, Vahidi mengatakan, “Hari ini kita mencapai satu titik yang bisa kita anggap sebagai awal loncatan besar. Kami memutuskan untuk meneruskan jalan terhormat ini dengan kecepatan penuh.”

Vahidi menggambarkan terpilihnya ia sebagai tamparan keras bagi Israel. Ia disambut sorak sorai anggota parlemen yang menyerukan 'matilah Israel'.

Argentina mengeluarkan kecaman sejak Vahidi dicalonkan sebagai Menteri Pertahanan. Ia diburu oleh Interpol atas serangan bom terhadap pusat Yahudi di Buenos Aires, tahun 1994. Ketika itu 85 orang tewas dan 300 lainnya cedera. Penunjukan Vahidi merupakan provokasi berikutnya oleh Ahmadinejad, demikian kata Julia Schlosser, kepala lembaga yang menjadi sasaran serangan.

AS juga bereaksi. Dengan memilih Vahidi sebagai Menteri Pertahanan, Iran mengambil langkah mundur dalam upaya yang dipimpin AS untuk mengkahiri isolasi internasional terhadap negara itu, kata juru bicara kementrian Luar Negeri PJ Crowley. Washington menilai Iran mengirim pesan yang salah, tandasnya.

Di lain pihak, parlemen Iran meloloskan Marzieh Vahid Dastjerdi untuk memimpin kementrian kesehatan, walau belum pernah memegang jabatan eksekutif. Dastjerdi, 50 tahun, menjadi perempuan pertama yang menduduki pos menteri di Iran, sejak revolusi Islam tahun 1979. Ahli kandungan yang juga mantan anggota parlemen itu menggambarkan terpilihnya ia sebagai langkah penting bagi perempuan Iran.

Kedua kandidat perempuan lainnya kekurangan sedikit lagi suara yang dibutuhkan untuk mengisi masing-masing pos menteri Pendidikan dan Keamanan Sosial.

Keputusan parlemen tidak lepas dari campur tangan pemimpin spiritual tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamanei. Seperti dikutip kantor berita ISNA hari Jumat (04/09), Wakil ketua parlemen Mohammad Reza Bahonar mengatakan, Khamenei merekomendasikan kepada parlemen untuk menyetujui kabinet baru Presiden Mahmud Ahmadinejad.

Jika Khamaeni tidak mendukung daftar itu, mungkin 8 atau 9 calon menteri yang akan ditolak parlemen, dan itu tidak akan menjadi awal yang baik bagi pemerintah, kata Bahonar yang dikenal sebagai pengritik Ahmadinejad.

Ahmadinejad kini punya waktu tiga bulan untuk mencari pengganti tiga kandidat mentrinya yang ditolak.

RP/HP/afp/rtr