Bursa di seluruh dunia melorot sejak beberapa hari terakhir. Apakah Cina akan memicu krisis baru? Indikasi menunjukan hal sebaliknya, dan pasar yang overheat kini mendingin ke titik normal. Perspektiv Henrik Böhme.
Foto: picture-alliance/dpa/J. Lane
Iklan
Hingga kini belum terjadi apapun. Hanya pasar bursa yang goncang hebat. Kerugian di seluruh dunia tembus angka milyaran Dolar. Tapi, mengingat indikasi bursa, di mana sejumlah index saham meroket tak wajar sejak beberapa bulan belakangan, keruntuhan bursa aktual sebetulnya tidak mengherankan.
Tentu saja ini merupakan berita buruk bagi pasar yang yang sudah overheat beberapa minggu terakhir ini. Terutama dari Cina. Jika kekuatan ekonomi nomor dua terbesar sedunia tiba-tiba kolaps, para penanam modal tentu saja akan panik. Tapi Cina bukan satu-satunya pemicu masalah. Ada banyak yang lainnya, dari Rusia hingga Brasil yang kini terperosok ke dalam resesai.
Memang amat gampang jika mencari penyebabnya di negara berkembang. Tapi pada dasarnya, booming di pasar saham dalam tujuh tahun belakangan, sebetulnya disubsidi oleh bank sentral adidaya ekonomi dunia. Sejak runtuhnya Lehman, Fed dan ECB memompa trilyunan Dolar dan Euro uang segar ke pasar. Sementara tingkat suku bunga ditekan nyaris nol persen. Tapi ke mana uang itu mengalir? Pada dasarnya uang itu harus menciptakan laba, agar dana pensiun atau asuransi masih tetap bisa memenuhi janji keuntungan.
Menimbang "gelembung" uang murah itu, para pakar ekonomi sudah meramalkan, pasar akan ekstrim labil. Anehnya, saat kurs naik, seperti ketika index saham Jerman DAX menembus angka magis 12.000 poin, tidak ada satupun yang bertanya, apa sebabnya? Tapi ketika kurs anjlok, seperti di awal pekan ini, semua gugup dan ingin tahu penyebabnya.
Henrik Böhme pemred ekonomi global DWFoto: DW
Tapi sebetulnya, masih banyak pemain pasar yang tidak cemas. Sebab masih ada faktor yang menenangkan. Kondisi ekonomi Amerika Serikat yang kini mengarah lagi pada konjunktur, turunnya harga minyak mentah dan bahan mentah lainnya seperti bijih tembaga, adalah beberapa diantaranya.
Banyak hal kini tergantung pada bank sentral Amerika dan direkturnya Janet Yellen. Pengumumkan kenaikan suku bunga misalnya, akan sontak memicu kecemasan di negara berkembang. Sebab investor akan menarik kapital dari sana dan memindahkannya ke Amerika. Ini ibarat lingkaran setan.
Tapi, kita tahu, suatu saat "pengobatan krisis" dengan menggelontorkan uang dan suku bunga nol persen harus diakhiri. Masalahnya sekarang, jika krisis Cina terus meluas, Barat tidak akan punya lagi instrumen untuk mencegah fenomena itu.
Secara umum negara-negara maju mencuat berkat nilai utang yang menggunung dan terus membengkak. Menurut Dana Moneter Internasional, Jepang, Amerika Serikat dan Cina adalah tiga negara dengan jumlah utang terbesar.
Foto: picture-alliance/dpa
Jepang - 10,46 Triliun Dolar AS
Perekonomian negeri sakura yang ikut terjerat resesi global banyak mengalami kemajuan sejak era Perdana Menteri Shinzo Abe. Namun begitu, rasio utang Jepang terhadap produk domestik bruttonya masih yang tertinggi di dunia, yakni sekitar 245,5 %. Kenaikan utang antara lain berkat kebijakan ofensif Abe yang memperbesar belanja pemerintah demi pertumbuhan ekonmi.
Foto: picture-alliance/dpa
Yunani - 447 Miliar Dolar AS
HIngga detik ini Yunani masih menggantungkan nasibnya pada uluran tangan Eropa. Negeri yang babak belur oleh krisis ekonomi itu memiliki rasio utang sebesar 171% dari PDB-nya. Athena saat ini tengah berupaya mengajukan pemotongan utang kepada para krediturnya.
Foto: Reuters/A. Konstantinidis
Italia - 2,25 Triliun Dolar AS
Setelah Yunani, Italia mencatat rasio utang tertinggi kedua di Eropa dengan kisaran 136% terhadap produk domestik brutto. Jurus yang dirapal pemerintah di Roma untuk menanggulangi utang yang menggunung adalah dengan memprivatisasi aset negara, antara lain sebagian saham di perusahaan jasa pos nasional, Poste Italiane.
Foto: picture-alliance/dpa
Portugal - 293 Miliar Dolar AS
Selama bertahun-tahun Portugal memompa kemakmuran lewat utang. Hasilnya tahun 2015 rasio utang negara di selatan Eropa itu meningkat tajam menjadi 128,7% terhadap PDB. Namun begitu pemerintah di Lisabon telah banyak mencatat kemajuan dengan program penghematan anggarannya.
Foto: AFP/Getty Images
Singapura - 310 Milliar Dolar AS
Kecil tapi besar. Itulah perekonomian Singapura yang sayangnya juga termasuk jumlah utangnya. Saat ini Singapura mencatat rasio utang sebesar 105% terhadap PDB. Jika dibagi rata, setiap penduduk negeri jiran itu berutang 57,5 ribu Dolar AS atau sekitar 750 juta Rupiah per kepala.
Foto: AFP/Getty Images
Amerika Serikat - 16,3 Triliun Dolar AS
Rasio utang Amerika Serikat berada di kisaran 105,1% terhadap produk domestik brutto. Dampaknya rating kredit AS diturunkan dari AAA menjadi AA+ 2011 lalu. Sejak krisis melanda 2008 silam, Washington menggelontorkan dana miliaran untuk menopang pertumbuhan, antara lain lewat belanja infrastruktur, keringanan pajak untuk dunia bisnis dan kebijakan intervensi pasar modal
Foto: Getty Images
Cina - 8,2 Triliyun Dolar AS
Kendati berjumlah besar, utang Cina tidak banyak membebani perekonomiannya. Saat ini rasio utang negeri tirai bambu itu cuma berkisar 41,3% dari produk domestik brutto. Yang mengejutkan adalah kenaikan utang domestik Cina yang meroket sejak 2007. Beijing diwanti-wanti agar memperhatikan pertumbuhan utangnya jika tidak ingin mengalami perlambatan pertumbuhan.
Foto: Getty Images/K. Frayer
Indonesia - 293,7 Miliar Dollar AS
Produk Domestik Brutto Indonesia yang menembus angka 1 Triliun USD tahun 2014 silam membuat rasio utang pemerintah mengecil, menjadi cuma 26% dari total PDB. Dalam hal utang, Indonesia tergolong sehat dan termasuk negara dengan rasio utang terkecil di dunia.