1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Bush Ancam Lancarkan Perang Iran

as11 Juni 2008

Apakah presiden AS George W.Bush di akhir masa jabatannya bekerjasama dengan Israel, benar-benar hendak menyerang Iran? Atau hanya gertakan psikologis?

Presiden Iran Ahmadinejad memilih dijatuhi sanksi PBB, ketimbang menghentikan program atomnya.Foto: AP


Pertanyaan ini mencuat, gara-gara komite aksi Israel-Amerika AIPAC memaparkan posisi pemerintah AS menyangkut tema Iran, kepada menteri luar negeri AS, Condoleezza Rice.

Rice menegaskan, sebuah rezim yang menyangkal holocaust, membunuh rakyat di negara tetangganya, mencoba menghapus negara anggota PBB dari peta dunia, rezim semacam ini tidak boleh memiliki senjata atom.


Juga kandidat presiden Partai Demokrat, Barack Obama hendak mengikuti tekad bulan presiden Bush dalam tema Iran. Seorang presiden Amerika akan melakukan segala cara, untuk mencegah Iran menjadi negara adidaya atom. Demikian kata Obama di depan delegasi kelompok lobby Israel-Amerika AIPAC yang memiliki pengaruh amat besar.


Gaung anti Iran dari AS itu, tentu saja disambut oleh PM Israel, Ehud Olmert yang juga hadir dalam pertemuan komite aksi Israel-Amerika di Washington itu. Olmert menegaskan kesiapan lintas partai dari pemerintah Israel untuk melancarkan perang terhadap Iran. Ia juga menuntut aksi hukuman tegas terhadap pemerintah di Teheran. Olmert mengatakan, Iran melecehkan resolusi internasional. Jelas diperlukan tindakan tegas berikutnya.


Radio militer Israel sebelummya juga memberitakan, pada saat kunjungan dalam rangka peringatan 60 tahun Israel, Bush dan wakil presiden Cheney dituntut oleh Israel untuk segera menyerang Iran. Berita ini tentu saja menimbulkan kehebohan di AS. Media-media AS sejak itu terus membahas tema, apa bahayanya jika Washington menyerang Teheran.

Moderator terkemuka dari radio NPR, Dian Rehm mengajukan tema ini sebagai bahasan utama. Rehm mempertanyakan, apakah pemerintahan Bush di hari-hari terakhir masajabatannya, bersama Israel benar-benar akan menyerang Iran?


Atau ini hanya sekedar perang psikologis yang sudah diperhitungkan secara matang oleh pemerintahan Bush? Tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan ini. Yang sudah jelas, sistem pertahanan udara Iran dalam beberapa bulan terakhir dimodernisasi dengan bantuan Rusia. Militer AS memperhitungkan, angkatan udara Israel tidak akan mampu menerobos sistem pertahanan baru Iran tsb. Juga Israel tidak memiliki cukup pesawat pengisi bahan bakar di udara, untuk memungkinkan serangan terhadap sekitar 300 instalasi atom Iran yang tersebar dalam wilayah luas. Satu-satunya kemungkinan, serangan udara Israel hanya dapat dilancarkan jika didukung secara besar-besaran oleh militer AS. Dengan risiko besar, terjadinya konfrontasi langsung dengan Rusia dan Cina. Serta konsekuensi terjadinya bencana kemanusiaan hebat di Timur Tengah. Sekaligus membiarkan pasukan AS di Irak menjadi sasaran empuk serangan balas dendam. Iran juga bisa berhitung. Saat ini, Teheran memilih lebih baik mendapat sanksi PBB, ketimbang menghentikan program atomnya.