1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Bush Perkuat Front Anti Iran

Peter Philipp12 Juni 2008

Kunjungan terakhir presiden AS, George W. Bush diwarnai upaya untuk memperketat langkah terhadap Iran. AS nampaknya hendak meningkatkan tekanan terhadap rejim di Teheran. Dan ini berhasil.

Presiden Bush tinggalkan Jerman.Foto: AP

Bila diperhatikan dengan seksama pidato-pidato Presiden George W. Bush dalam lawatan perpisahannya di Eropa dan tuan rumah yang dikunjunginya, terkesan tidak ada masalah bilateral yang perlu dibahas. Bahkan soal Irak dan Afghanistan semakin terdesak oleh topik yang didengungkan oleh Bush. Yaitu sengketa atom dengan Iran. Dalam KTT di Slovenia, kunjungan di Jerman dan kini di Roma, Bush nampaknya berhasil mewajibkan negara-negara Eropa untuk bersikap lebih keras terhadap Teheran.


Washington mendapat dukungan, bahwa sanksi terhadap Iran harus ditingkatkan, agar Teheran dapat dipaksa untuk menghentikan pengayaan uranium seperti yang dituntut oleh Dewan Keamanan PBB. Tetapi sanksi mana yang dimaksudkan, tidak jelas. Mungkin sasaran utama saat ini adalah bank-bank Iran yang dianggap membiayai kebijakan atom Iran. Teheran telah mulai mengambil tindakan pencegahan dini, dengan menarik dana yang dimilikinya di Eropa dan menyimpannya di berbagai bank dalam negeri atau di Asia. Para pemimpin Iran, terutama Presiden Ahmadinejad, yang berusaha menyepelekan ancaman itu, hendak menunjukkan bahwa Teheran bersiap diri menghadapi kondisi yang memburuk.


Padahal bukan itu saja. Eropa dan Amerika memang resminya mengemukakan bahwa diplomasi lah yang diutamakan. Hanya saja presiden AS juga mengancam, bahwa semua opsi tetap terbuka. Artinya, termasuk pula opsi serangan militer. Mengingat kondisi di Irak dan bahwa ini adalah bulan-bulan terakhir masa pemerintahan Bush, mungkin orang berpikir, mustahil akan dilancarkan aksi militer baru. Tetapi ada pula teori bahwa Bush dapat saja mewariskan hal-hal yang tidak menyenangkan pada penggantinya dan pada detik terakhir membuat arahan dalam konflik dengan Iran, yang nantinya harus ditangani oleh penggantinya itu.


Mudah-mudahan itu hanya khayalan belaka. Tetapi hendaknya orang memikirkan, bahwa artinya ancaman terhadap Iran tetap tidak dibantah oleh Eropa. Baik ancaman rekaan Washington maupun ancaman terbuka yang baru saja terdengar dari Yerusalem. Hanya pimpinan Badan Energi Atom Internasional IAEA, Mohammad el Baradei yang melancarkan kritik terhadap wakil PM Israel Shaul Mofaz terkait ancaman perang itu. PM Ehud Olmert memang mengatakan bahwa kata-kata Mofaz bukanlah kebijakan pemerintahannya. Tetapi siapa yang tahu, berapa lama lagi Olmert punya wewenang untuk menentukan segalanya?


Dengan solidaritas terhadap Bush dalam soal Iran, negara-negara Eropa mengambil risiko besar. Sebab bila keadaan terus meruncing mereka boleh dikatakan tidak dapat mundur lagi. Kebijakan keras juga dapat menumbangkan diplomasi, yang konon dijunjung tinggi, tetapi sangat jarang dijalankan. Setidaknya pejabat urusan luar negeri dan keamanan UE, Javier Solana, akhir pekan ini akan membeberkan berbagai usulan penengahan di Teheran.


Hanya saja semakin banyak ancaman yang dikeluarkan dan sanksi yang diberlakukan, Iran akan semakin kompak. Betapa pun besarnya kritik terhadap Presiden Ahmadinejad, akan tambah banyak warga Iran yang mendukungnya. (dgl)