Apa yang ada di dalam benak kita saat mendengar istilah “calo”? Adakah di antara Anda yang sama sekali tidak pernah berurusan dengan calo?
Iklan
Foto: picture-alliance/U.Baumgarten
Saya yakin, kita memiliki sentimen yang negatif terhadap istilah calo. Kenapa sentimen negatif itu muncul? Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), calo diartikan sebagai orang yang menjadi perantara dan memberikan jasanya untuk menguruskan sesuatu berdasarkan upah; perantara; makelar.
Sinonim kata calo adalah makelar, yang di dalam KBBI didefinisikan lebih rinci lagi, yaitu perantara perdagangan (antara pembeli dan penjual); orang yang menjualkan barang atau mencarikan pembeli; orang atau badan hukum yang berjual beli sekuritas atau barang untuk orang lain atas dasar komisi.
Munculnya perantara atau makelar disebabkan oleh situasi yang sulit "ditembus”. Dalam bidang bisnis, situasi yang sulit ditembus adalah hal yang wajar. Misalnya, saat seseorang ingin menjual sesuatu dan dia memiliki keterbatasan akses ke pasar, perantara atau calo bisa menjual jasanya untuk membantunya menembus pasar.
Penulis: Zaky YamaniFoto: DW/A.Purwaningsih
Sebaliknya, dalam pelayanan publik, situasi yang sulit ditembus adalah tidak wajar. Karena pelayanan publik harus mudah diakses oleh siapa pun, tanpa memandang status atau identitas personalnya.
Dalam bidang bisnis, percaloan bahkan menjadi bagian dari bisnis itu sendiri. Selalu dibutuhkan orang-orang yang bisa jadi perantara, baik untuk penjualan maupun pembelian.
Misalnya, dulu seorang calon penumpang kereta api yang tidak ingin repot-repot antre di loket tiket dan mendapatkan tempat duduk yang diinginkan, bisa menggunakan jasa calo tiket di stasiun. Namun, percaloan dalam bentuk yang sangat sederhana itu kemudian berkembang menjadi mafia tiket, di mana para calo melalui koneksinya di dalam bagian penjualan tiket perusahaan kereta api, bisa memborong tiket dan menjualnya kembali ke calon penumpang dengan harga seenaknya.
Daftar Kota Indonesia Dengan Sistem Pemerintahan Terbuka
Konsep pemerintahan terbuka menjadi tren di Indonesia. Paradigma baru tata kelola pemerintahan itu melibatkan masyarakat sebagai penentu kebijakan. Inilah lima kota yang telah menerapkan konsep pemerintahan terbuka.
Foto: Getty Images/Ulet Ifansasti
DKI Jakarta
Sejak era Gubernur Joko Widodo Jakarta mulai menerapkan konsep Smart City yang ditandai dengan transparansi di hampir semua lini. Selain menyediakan data statistik dan keuangan, Pemprov DKI juga membuka portal layanan satu pintu dan laporan kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) hingga ke tingkat kecamatan yang bisa dipantau via aplikasi ponsel.
Foto: Getty Images/AFP/R. Gacad
Semarang
Semarang termasuk salah satu kota pertama di Indonesia yang menerapkan konsep pemerintahan terbuka. Terutama pelaku bisnis atau usaha bisa mengajukan izin secara online dan memantau prosesnya lewat aplikasi ponsel. Berkat terobosan itu aliran dana investasi ke Semarang melesat dari Rp. 357 milyar pada 2010 menjadi Rp. 10 trilyun pada 2016.
Foto: picture-alliance/Photoshot/Du Yu
Bojonegoro
Saban Jumat penduduk dan bupati Bojonegoro melakukan pertemuan terbuka di alun-alun kota. Dalam program Dialog Publik itu, masyarakat bisa menyampaikan aduan atau laporan mengenai kinerja perangkat daerah langsung ke pemerintah. Berkat keterbukaan tersebut, Bojonegoro terpilih menjadi salah satu kota percontohan untuk Pemerintahan Daerah Terbuka Tingkat Dunia pada 2016 silam.
Foto: picture-alliance/dpa/S.Gätke
Bandung
Melalui program Sabilulungan, pemerintah kota Bandung mengajak masyarakat ikut terlibat aktif menyusun atau menentukan proyek untuk bantuan sosial dan memantau aliran dananya. Dengan cara itu penduduk bisa membantu mencegah penyelewengan dana bantuan sosial.
Foto: Imago/Xinhua
Banda Aceh
Sejak 2016 lalu Banda Aceh menjadi proyek percontohan untuk program Open Government Indonesia (OGI) oleh Kementerian PPN/Bappenas. Selain menyediakan data dan mengelola kinerja perangkat daerah lewat aplikasi e-Kinerja, pemkot Banda Aceh juga melibatkan masyarakat menentukan kebijakan pembangunan melalui program SIPBM Online. (rzn/yf: OGI, Kompas, Tribun, Tempo, Detik)
Foto: Getty Images/Ulet Ifansasti
5 foto1 | 5
Situasi itu tentu merugikan calon penumpang. Bukan karena calonya, tapi karena aktivitas mafianya, yang membuat calon penumpang "diperas” uangnya. Merespons situasi itu, muncul tuntutan akan aktivitas percaloan yang "transparan dan akuntabel”, di mana penumpang tetap bisa mendapatkan kemudahan mendapatkan tiket tanpa antre, tapi tanpa risiko diperas dengan harga yang tinggi. Tuntutan itu bisa dipenuhi dengan sangat ideal oleh perubahan manajemen perusahaan kereta api, dan dilepasnya penjualan tiket kepada para calo yang modern dan terlembaga: perusahaan penjual tiket online.
Perusahaan penjual tiket online, secara prinsip adalah perusahaan calo, namun semuanya dilakukan transparan dan akuntabel: tanpa harus pergi ke stasiun kereta, calon penumpang bisa melihat sendiri ketersediaan kursi, memesannya sendiri melalui platform online, dan melakukan pembayaran sendiri dengan harga yang sama dengan harga resmi tiket itu. Tidak ada pemborongan tiket oleh calo individual, dan jelas tidak ada pemerasan di sana. Percaloan tidak dihilangkan, tapi ditempatkan pada definisi yang ideal.
Percaloan jadi masalah besar—dan harus dihilangkan sampai ke akar-akarnya—jika menyangkut pelayanan publik. Misalnya dalam pembuatan SIM kendaraan bermotor. Dulu, untuk membuat SIM warga tinggal datang ke kantor polisi, dan jika ingin mendapat SIM dengan cara yang mudah dan nyaman, langsung saja berhubungan dengan para calo individual yang mangkal di lokasi pembuatan SIM. Atau lebih ekstrem lagi, tak perlu datang ke kantor polisi, cukup datang ke biro jasa pembuatan SIM, dan datang ke kantor polisi hanya saat akan difoto dan mengambil SIM-nya. Warga memang membayar lebih mahal, tapi proses pengurusan lebih mudah dan nyaman. Semua pun senang: warga mudah dan nyaman mendapatkan SIM, calo mendapatkan penghasilan, dan aparat kepolisian mendapatkan setoran dari para calo.
'Ngerinya' Hukuman Bagi Pelaku Korupsi di Negara Lain
Berbagai macam hukuman dijatuhkan bagi para pelaku korupsi di berbagai penjuru dunia. Tak sedikit yang membuat ciut nyali. Simak daftarnya.
Foto: picture-alliance/K. Ohlenschläger
Hukuman Mati di Cina
Cina dikenal sebagai salah satu negara yang paling keras dalam menindak pelaku korupsi. Mereka yang terbukti merugikan negara lebih dari 100.000 yuan atau setara 215 juta rupiah akan dihukum mati. Salah satunya Liu Zhijun, mantan Menteri Perkeretaapian China ini terbukti korupsi dan dihukum mati. Vonis ini marak diberlakukan semenjak Xi Jinping menjabat sebagai presiden negeri tirai bambu tersebut
Foto: Reuters/M. Schiefelbein
Hukum Gantung di Malaysia
Sejak tahun 1961, Malaysia sudah mempunyai undang-undang anti korupsi bernama Prevention of Corruption Act. Kemudian pada tahun 1982 Badan Pencegah Rasuah (BPR) dibentuk untuk menjalankan fungsi tersebut. Pada 1997 Malaysia akhirnya memberlakukan undang-undang Anti Corruption Act yang akan menjatuhi hukuman gantung bagi pelaku korupsi.
Foto: Imago/imagebroker
Bunuh Diri di Jepang
Jepang tidak mempunyai undang-undang khusus mengenai korupsi. Di sini pelaku korupsi akan diganjar hukuman maksimal 7 tahun penjara. Namun karena budaya malu di negeri matahari terbit ini masih sangat kuat, korupsi bak aib besar bagi seorang pejabat negara. Tahun 2007 silam Menteri Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Toshikatsu Matsuoka melenyapkan nyawa sendiri di tengah skandal korupsi.
Foto: AP
Jerman Minta Balik Dana Korupsi
Korupsi juga terjadi di negara-negara maju di Eropa, salah satunya Jerman. Negeri di jantung Eropa ini sebetulnya sudah memiliki sistem transparansi keuangan yang baik. Namun, jika seseorang terbukti korupsi ia wajib mengembalikan seluruh uang yang dikorupsi dan mendekam rata-rata lima tahun di penjara.
Foto: Getty Images/M. MacMatzen
Dikucilkan di Korea Selatan
Di negeri ginseng ini para pelaku korupsi akan mendapatkan sanksi sosial yang luar biasa. Mereka akan dikucilkan oleh masyarakat bahkan oleh keluarganya sendiri. Salah satu contohnya mantan presiden Korea Selatan, Roh Moo Hyun. Karena dikucilkan oleh keluarganya dan tak kuat menahan rasa malu atas kasus korupsi yang menjeratnya, ia memilih bunuh diri dengan lompat dari tebing.
Foto: picture alliance/AP Photo/L.Jin-man
Denda Raksasa di Amerika
Amerika tidak menerapkan hukuman mati bagi para pelaku koruptor di negaranya karena alasan hak asasi manusia. Biasanya para pelaku koruptor akan divonis 5 tahun penjara plus membayar denda sebesar 2 juta dollar. Adapun mereka yang masuk kedalam kategori kasus korupsi berat, terancam hukuman kurung maksimal 20 tahun penjara.
Foto: Getty Images/AFP/O. Kose
Hukuman Ringan Ditambah Remisi di indonesia
Indonesia diketahui terus berbenah dalam memerangi tindak pidana korupsi. Salah satunya dengan membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada tahun 2002. Di Indonesia pelaku korupsi divonis maksimal 20 tahun penjara, namun terkadang itu juga tidak diterapkan sampai akhir. Nantinya mereka akan mendapatkan remisi. Tak sedikit juga yang divonis dengan hanya tiga atau empat tahun penjara. (rap/rzn)
Foto: Adek Berry/AFP/Getty Images
7 foto1 | 7
Apa akibatnya dari percaloan dalam hal pelayanan publik seperti itu?
Warga yang tidak tahu aturan menggunakan kendaraan dan berlalu-lintas pun bisa mendapatkan SIM. Hasil dari ketidakberesan itu bisa kita lihat sampai hari ini: ribuan—mungkin juga jutaan—pengendara kendaraan bermotor yang sikapnya di jalan ugal-ugalan dan sangat membahayakan orang lain. Situasi itu, menurut saya, adalah hasil nyata dari perbuatan korupsi yang sistematis selama berpuluh tahun.
Lalu, entah karena tuntutan publik atau karena polisi merasa jengah sendiri, pembuatan SIM tidak lagi boleh menggunakan jasa calo individual atau biro jasa. Siapa pun yang ingin mendapatkan SIM harus mengikuti prosedur: mendaftar sendiri, mengikuti ujian, dan belum tentu lulus. Itu terdengar seperti kabar bagus, tapi ternyata tidak.
Dari pengamatan saya terhadap salah satu fasilitas layanan SIM di sebuah kota besar, ternyata tetap ada percaloan dengan aroma mafia di sana. Warga yang mengikuti prosedur pembuatan SIM, hampir dipastikan tidak akan lulus. Ujiannya sangat sulit, terutama dalam ujian praktik menggunakan kendaraan. Alat praktiknya pun bukan kendaraan yang cukup "sehat” untuk digunakan. Semua itu membuat siapa pun yang pernah mengikuti ujian mendapatkan SIM pasti curiga ada skenario yang sengaja dibuat untuk membuat semua pendaftar tidak lulus ujian.
Koruptor Paling Tamak Dalam Sejarah
Hampir tidak ada diktatur di dunia yang tidak menilap uang negara. Tapi ketika sebagian puas dengan vila atau jet pribadi, yang lain rakus tanpa henti. Berikut daftar koruptor yang paling getol mengumpulkan uang haram
Foto: AP
#1. Soeharto, Indonesia
Selama 32 tahun berkuasa di Indonesia, Suharto dan keluarganya diyakini menilap uang negara antara 15 hingga 35 miliar US Dollar atau sekitar 463 trilyun Rupiah. Jendral bintang lima ini lihai menyembunyikan kekayaannya lewat berbagai yayasan atau rekening rahasia di luar negeri. Hingga kini kekayaan Suharto masih tersimpan rapih oleh keluarga Cendana
Foto: picture alliance/CPA Media
#2. Ferdinand Marcos, Filipina
Ferdinand Marcos banyak menilap uang negara selama 21 tahun kekuasaanya di Filipina. Menurut Transparency International, ia mengantongi setidaknya 10 milyar US Dollar. Terutama isterinya, Imelda, banyak menikmati uang haram tersebut dengan mengoleksi lebih dari 3000 pasang sepatu. Imelda kini kembali aktif berpolitik dan ditaksir memiliki kekayaan sebesar 22 juta USD
Foto: picture-alliance/Everett Collection
#3. Mobutu Sese Seko, Zaire
Serupa Suharto, Mobutu Sese Seko berkuasa di Zaire selama 32 tahun. Sang raja lihai memainkan isu invasi negara komunis Angola untuk mengamankan dukungan barat. Ketika lengser, Mobutu Sese Seko menilap hampir separuh dana bantuan IMF sebesar 12 milyar US Dollar untuk Zaire dan meninggalkan negaranya dalam jerat utang.
Foto: AP
#4. Sani Abacha, Nigeria
Cuma butuh waktu lima tahun buat Sani Abacha untuk mengosongkan kas Nigeria. Antara 1993 hingga kematiannya tahun 1998, sang presiden meraup duit haram sebesar 5 milyar US Dollar atau sekitar 66 trilyun Rupiah. Sesaat setelah meninggal, isterinya lari ke luar negeri dengan membawa 38 koper berisi uang. Polisi kemudian menemukan perhiasan senilai jutaan dollar ketika menggeledah kediaman pribadinya
Foto: I. Sanogo/AFP/Getty Images
#5. Slobodan Milosevic, Serbia
Slobodan Milosevic yang berkuasa di Serbia antara 1989-1997 dan kemudian Yugoslavia hingga 2000 tidak cuma dikenal berkat serangkaian pelanggaran HAM berat yang didakwakan kepadanya, melainkan juga kasus korupsi. Selama berkuasa Milosevic diyakini menilap uang negara sebesar 1 milyar US Dollar atau sekitar 13 trilyun Rupiah.
Foto: picture-alliance/dpa/dpaweb
#6. Jean-Claude Duvalier, Haiti
Selama 15 tahun kekuasaannya di Haiti, Jean-Claude Duvalier tidak cuma bertindak brutal terhadap oposisi, tetapi juga rajin mengalihkan uang negara ke rekening pribadinya di Swiss. Saat kembali dari pengasingan 2011 silam, Duvalier didakwa korupsi senilai 800 juta US Dollar.
Foto: picture-alliance/AP/Dieu Nalio Chery
#7. Alberto Fujimori, Peru
Alberto Fujimori berkuasa selama 10 tahun di Peru. Buat pendukungya, dia menyelamatkan Peru dari terorisme kelompok kiri dan kehancuran ekonomi. Tapi Fujimori punya sederet catatan gelap, antara lain menerima uang suap dan berbagai tindak korupsi lain. Menurut Transparency International ia mengantongi uang haram sebesar 600 juta US Dollar atau sekitar 8 trilyun Rupiah.
Foto: picture-alliance/dpa
7 foto1 | 7
Lalu bagaimana agar bisa lulus ujian SIM dengan mudah? Yang harus dilakukan oleh warga adalah mengobrol dengan sesama peserta ujian. Informasi akan mudah didapatkan tentang kepada siapa kita harus berhubungan atau ke lembaga kursus mengemudi mana kita harus datang. Situasinya benar-benar mirip dengan masa Orde Baru, yaitu ada sebuah "rahasia umum”, sebuah rahasia yang diketahui banyak orang, disebarkan dari mulut ke mulut, dan ada rasa takut yang disisipkan agar semua yang sudah mengetahui rahasia itu tidak membicarakannya secara terbuka kepada publik.
Begitu juga dalam pelayanan publik yang lain, misalnya untuk mendapatkan izin usaha, izin mendirikan bangunan, dan lain-lain. Dulu para calo individual bisa mendapatkan penghasilan dalam ikut mengurus izin yang diminta konsumennya. Sekarang banyak pemerintah daerah sudah memberlakukan sistem izin satu pintu. Tapi itu pun tidak berarti percaloan dalam pelayanan publik hilang sama sekali.
Seperti juga dalam pengurusan SIM, ada hal-hal yang sengaja dibuat sulit oleh oknum aparatnya, agar pintu percaloan terbuka kembali. Kita tahu, percaloan dalam pelayanan publik dimunculkan bukan demi keuntungan para calo partikelir. Percaloan dalam pelayanan publik dimunculkan justru demi keuntungan para aparatnya yang bermental calo: berstatus pelayan publik tapi ingin mendapatkan keuntungan dengan memeras publik.
Peringkat Korupsi Negara Anggota ASEAN
Indonesia bukan yang terkorup di Asia Tenggara. Tapi pemerintah di Jakarta tertinggal jauh dibandingkan negeri jiran dalam urusan memberantas praktik korupsi di tingkat pejabat tinggi.
Foto: Reuters
Singapura - Peringkat 7 dari 175 Negara
Negeri singa laut ini sejak lama dikenal minim korupsi. Dari tahun ke tahun Singapura nyaris tak pernah absen dari daftar 10 besar negara terbersih di dunia. Namun begitu beberapa sektor tetap dianggap rawan korupsi, antara lain media, industri dan partai politik.
Foto: AFP/Getty Images
Malaysia - 50 dari 175
Praktik korupsi di Malaysia didorong oleh sistem pemerintahan. Sumbangan buat partai politik misalnya, baik dari perusahaan maupun individu, tidak dibatasi dan partai tidak diwajibkan melaporkan neraca keuangannya secara terbuka. Kendati bergitu sejak 2013 Malaysia naik tiga peringkat dalam Indeks Persepsi Korupsi milik Transparency International.
Foto: Reuters/O. Harris
Thailand - 85 dari 175
Pertalian erat antara politik dan bisnis dinilai menjadi sumber terbesar praktik korupsi di Thailand. Tidak jarang posisi puncak di kementrian diambilalih oleh pengusaha yang bergerak di bidang yang sama. Thailand juga termasuk negara yang paling sedikit menjebloskan koruptor ke penjara.
Foto: Nicolas Asfouri/AFP/Getty Images
Filipina - 85 dari 175
Pemerintah negeri kepulauan di tepi laut Cina Selatan ini telah berbuat banyak buat mencegah praktik korupsi. Hasilnya posisi Filipina melejit dari peringkat 94 tahun 2013 lalu ke posisi 85 di tahun 2014. Pencapaian tersebut tergolong apik, mengingat tahun 2011 Filipina masih bercokol di peringkat 129 dari 175 negara.
Foto: picture-alliance/dpa
Indonesia - 107 dari 175
Indonesia berada di peringkat 114 tahun 2013 silam. Dibandingkan negeri jiran yang lain seperti Filipina, pemerintah di Jakarta masih tergolong lambat memberantas praktik korupsi di tingkat pejabat tinggi negara. Sejak awal berdirinya 2004 silam, Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) tercatat cuma mampu menangani sekitar 660 kasus dugaan korupsi, yang membuahkan 322 tuntutan di pengadilan.
Foto: R. Isabell Duerr
Vietnam - 119 dari 175
Negara komunis Vietnam adalah satu dari sedikit negara ASEAN yang tertinggal di bidang penanganan korupsi. Uniknya sebagian besar kasus dugaan korupsi di Vietnam terjadi di sektor swasta. Baru-baru ini empat pejabat perusahaan kereta api negara dipecat lantaran terlibat dalam kasus suap senilai 758.000 US Dollar. Maraknya korupsi menjadi alasan rendahnya keterlibatan investor asing di Vietnam.
Foto: DW/R. Ebbighausen
Laos - 145 dari 175
Laos tidak cuma tertinggal, malah merosot dari peringkat 140 di tahun 2013 ke posisi 145 tahun lalu. Pemerintah Laos berupaya menghadang gelombang korupsi dengan mendirikan lembaga anti rasuah 2011 silam. Namun hingga kini belum tercatat adanya kasus korupsi besar yang masuk ke pengadilan.
Foto: Global Witness
Kamboja - 156 dari 175
Sejak 2010 pemerintah Kamboja memiliki Undang-undang Anti Korupsi. Tapi perangkat hukum tersebut dinilai tidak melindungi individu yang melaporkan kasus korupsi. Pelapor bisa dihukum penjara jika tudingannya tidak terbukti. Selain itu Kamboja juga mencatat jenis korupsi paling barbarik, yakni menyuap aparat negara untuk melakukan penculikan dalam bisnis perdagangan manusia.
Foto: Reuters
Myanmar - 156 dari 175
Negara yang dikenal dengan nama Burma ini memperbaiki posisi satu peringkat dari 157 ke 156 dalam Indeks Persepsi Korupsi 2014. Berada di bawah kekuasaan militer yang korup selama berpuluh tahun, Myanmar yang kini berada di bawah pemerintahan sipil masih kesulitan menanggulangi maraknya korupsi. Sebanyak 60% perusahaan, baik lokal maupun internasional, mengaku harus menyuap buat mendapatkan izin.
Foto: Reuters
9 foto1 | 9
Misalnya, di sebuah kabupaten, seseorang yang akan mengurus izin membuka restoran datang ke dinas terkait. Petugas loket, tanpa memeriksa satu pun dokumennya, langsung mengatakan, "Pulang lagi saja, Anda tidak akan diberi izin.” Sikap petugas loket itu jelas tidak sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Dia tidak berwenang memutuskan, apakah sebuah izin akan diberikan atau tidak. Sikap itu pada dasarnya adalah sebuah tanda rahasia dari pernyataan, "Kalau mau mendapat izin, jangan diurus di sini.”
Dan memang benar, orang yang ditolak oleh petugas loket itu secara intuitif akan mencari informasi, kepada siapa dia harus mengurus izin. Ketika akhirnya dia bisa menghubungi aparat yang katanya bisa mengurus izin usahanya, muncul biaya pengurusan sebesar hampir Rp1 miliar. Biayanya setinggi itu dengan alasan lokasi yang akan dijadikan restoran itu katanya daerah terlarang.
Di kalimat terakhir itu kita bisa melihat, dalam percaloan di pelayanan publik, bukan saja pelayanan publik biasa yang jadi jualan para calo di birokrasi, tapi juga hal luar biasa seperti mendapatkan izin usaha di tempat terlarang. Juga sangat mungkin terjadi, lokasi usahanya bukan tempat terlarang, tapi disebutkan sebagai tempat terlarang, agar biaya pengurusan yang tinggi jadi masuk akal.
Kenapa percaloan dalam pelayanan publik masih terjadi? Tentu saja persoalan pertamanya adalah uang. Ketika percaloan dihapuskan, banyak orang kehilangan penghasilan—baik para calo partikelir maupun aparat yang terlibat dalam jaringan percaloan. Untuk mendapatkan kembali uang dari percaloan itu, harus dibangun sistem baru yang rahasia, tidak melibatkan banyak orang, tidak terkesan memeras, dan jika dihitung, biaya yang dibayarkan melalui percaloan akan lebih murah dibandingkan biaya pengurusan resmi yang dilakukan berkali-kali dan belum tentu selesai.
Percaloan di pelayanan publik akan selalu muncul ketika pelayanan publik tidak mudah, tidak efektif, tidak transparan, dan tidak efisien. Dengan situasi seperti itu, siapa pun yang ingin mendapatkan pelayanan publik harus membayar mahal, bukan dari nilai uangnya saja, tapi dari banyak hal lain, seperti waktu produktif yang tersita cukup lama dan energi untuk menahan emosi ketika melihat proses pelayanan publik yang tidak efektif dan efisien. Pelayanan publik yang buruk pasti akan mengarahkan semua orang untuk berpikir lebih baik menggunakan jasa calo, walau membayar lebih mahal.
Di Negara-negara Ini Jurang Antara Kaya - Miskin Amat Dalam
Indonesia di posisi keempat negara dengan tingkat kesenjangan tertinggi di dunia. Inilah laporan Global Wealth Report 2016 lembaga riset Credit Suisse yang meneliti jurang kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin.
Foto: picture alliance/blickwinkel/McPHOTO
1. Rusia
Rusia tempati posisi pertama negara dengan ketimpangan ekonomi terbesar sejagad. Dalam penelitian Credit Suisse ditemukan 74,5% kekayaan negara dikuasai 1% orang-orang termakmur di negeri itu. Di negara ini terdapat sekitar 96 milyarder - total yang hanya dilampaui oleh Cina dengan 244 orang dan Amerika Serikat dengan 582 orang.
Foto: picture-alliance/dpa/RIA Novosti/A. Kudenko
2. India
India berada di posisi ke-2 negara yang kesenjangan ekonominya terbesar. 58,4% kekayaan dimiliki 1% orang terkaya. Kekayaan pribadi didominasi oleh properti & aset riil lainnya. Meski kekayaan perorangan telah meningkat di India, tidak semua orang mendapat bagian dari pertumbuhan ekonominya. 2260 orang diketahui memiliki kekayaan lebih dari US$ 50 juta dan 1.040 orang lebih dari US$ 100 juta.
Foto: DW/J. Akhtar
3. Thailand
Dalam laporan Global Wealth Report 2016 lembaga riset Credit Suisse, negara di Asia Tenggara ini berada di urutan ketiga negara ketimpangan ekonomi terbesar sedunia, dimana hanya satu persen orang terkaya yang menguasai 58 persen aset kekayaan di negara gajah putih ini.
Foto: picture-alliance/dpa/R. Yongrit
4. Indonesia
Kekayaan per orang meningkat 6 kali lipat selama periode 2000- 2016. Namun menurut standar internasional, kekayaan rata-rata orang di Indonesia masih rendah. Setengah aset kekayaan di Indonesia dikuasai hanya 1% orang terkaya. Kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin di Indonesia mencapai 49%, yang menempatkan Indonesia di posisi keempat negara dengan tingkat kesenjangan tertinggi di dunia.
Foto: Getty Images/AFP/R. Gacad
5. Brazil
Untuk melindungi diri dari inflasi, banyak warga Brasil mempertahankan aset riil, khususnya dalam bentuk tanah. Kesenjangan pendapatan di negara ini berhubungan dengan ketidakmerataan akses pendidikan serta pembagian tajam antara sektor ekonomi formal dan informal. 47,9 persen kekayaan di negara ini hanya dimiliki satu persen kelompok orang paling tajir di negara ini.
Foto: DW/J.P. Bastien
6. Cina
Di Cina terdapat 1,6 juta jutawan. Negara ini paling banyak punya penduduk dengan kekayaan di atas US$ 50 juta dibanding negara manapun, kecuali Amerika Serikat. Namun ketimpangan ekonomi di negara tirai bambu ini tinggi yakni 43,8% kekayaannya dikuasai 1 persen orang terkaya. Ketimpangan ekonomi semakin tinggi sejak tahun 2000.
Foto: picture-alliance/dpa/M. Reynolds
7. Amerika Serikat
Perekonomian dan pasar keuangan AS terus membaik di tahun 2015 – 2016. Dibandingkan dengan banyak negara OECD lainnya, AS memiliki lebih banyak aktivitas ekonomi di sektor swasta dibanding publik. Jumlah individu dengan kekayaan di atas US% 50 juta enam kali lebih banyak dibanding Cina. Satu persen orang terkaya di negara adi daya ini menguasai aset kekayaan sebesar 42,1%.
Foto: picture alliance/U. Baumgarten
8. Afrika Selatan
Sejak tahun 2007 kemajuan ekonomi melambat. Namun pertumbuhan segera pulih dan rata-ratanya meningkat 9,4% per tahun sejak tahun 2010. Di negara ini, 41,9% kekayaaan negara dikendalikan oleh hanya satu persen total orang terkaya, yang menempatkan negara ini di posisi nomor 8 negara dengan tingkat kesenjangan tertinggi di dunia. Ed: ap/rzn(Credit Suisse/independent)
Pertanyaannya, mana yang lebih dulu, apakah pelayanan publik yang buruk baru kemudian muncul percaloan, atau muncul kelompok calo dulu baru kemudian mereka mempersulit pelayanan publik untuk mendapat klien?
Dua-duanya sangat mungkin, dan itu kenapa sampai sekarang Indonesia belum terbebas dari percaloan dan pemerasan aparat pelayan publik. Menurut saya, sebabnya karena Indonesia tidak pernah berani melakukan revolusi dalam pelayanan publik. Aparat-aparat hasil didikan masa lalu, dengan mentalitas pemeras, dan terbiasa mendapatkan "uang yang mudah” masih ada terlalu banyak di dalam birokrasi kita, bahkan banyak yang memegang jabatan-jabatan penting. Prinsip birokrat yang terkenal di masa Orde Baru, "kalau bisa dibuat sulit, kenapa harus dibuat mudah?” juga masih berlaku sampai sekaran. Untuk mendapatkan uang yang mudah, maka pelayanan harus dibuat sulit dan rumit.
Siapa pun yang pernah mengamati pemerintahan, pasti tahu ada persoalan besar di dalam kultur dan tradisi birokrat. Saya ingat, bertahun-tahun lalu, seorang yang saya kenal mengatakan niatnya untuk mencalonkan diri jadi kepala daerah. Saya ingat betul apa yang saya katakan kepada dia, "Hal terberat yang akan Anda hadapi kalau Anda menang adalah birokrat. Di dalam pemerintahan kita, para birokrat sudah membangun sistem rahasia sendiri, dan kemungkinan besar Anda akan terisap ke dalam sistem gelap itu.” Kemudian dia menang jadi kepala daerah. Bahkan sekarang jadi kepala daerah di level pemerintahan yang lebih tinggi. Sementara itu, pelayanan publik di wilayahnya masih begitu-begitu saja.
Begitu pun ketika Presiden Joko Widodo di masa awal pemerintahannya menggulirkan istilah "revolusi mental”. Jargon itu memberikan harapan, setidaknya bagi saya, karena saya pikir jargon itu akan diterjemahkan ke dalam banyak aspek, mulai dari pendidikan sampai pengawasan. Namun yang terjadi, jargon itu muncul di banyak spanduk di kantor-kantor pelayanan publik. Lucunya, spanduk-spanduk itu bukan ditujukan kepada diri sendiri sebagai pengingat, tapi diarahkan ke jalan raya—ke arah pada publik—untuk pamer. Apakah "revolusi mental” di kalangan birokrasi berhasil? Tidak akan berhasil kalau para birokratnya masih lahir dari sistem yang sama.
Penulis:
Zaky Yamani
Jurnalis dan novelis
Lima Alasan Sri Mulyani Jadi Menteri Terbaik di Dunia
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indarwati mendapat penghargaan Menteri Terbaik di Dunia berkat kinerjanya. Prestasi apa saja yang lantas melambungkan nama bekas direktur Bank Dunia itu? Simak daftarnya.
Foto: DW
Piagam dari Syeikh
Tidak tanggung-tanggung, penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Perdana Menteri Uni Emirat Arab, Syeikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum. Ini adalah kali pertama seorang menteri dari Asia mendapat penghargaan Menteri Terbaik di Dunia. Tidak heran jika nama Sri Mulyani kembali melambung sebagai seorang teknokrat ulung. Inilah lima prestasi Sri yang patut diapresiasi.
Foto: Reuters/C. Pike
1. Menuntaskan Kemiskinan
Sejak menjabat menteri keuangan di era Presiden Joko Widodo, Sri Mulyani dianggap ikut membantu mengurangi angka kemiskinan sebanyak 40%. Saat ini Badan Pusat Statistik mencatat jumlah penduduk miskin sebesar 26,5 juta orang, alias turun 1,7 juta sejak Maret 2017. Kepiawaian Sri menekan angka inflasi sebesar 1,45% pada periode tersebut dinilai turut menyumbang penurunan angka kemiskinan.
Foto: DW/R. Nugraha
2. Kesenjangan Pendapatan
Indonesia tergolong negara di urutan teratas dalam hal <a target="_blank" href="http://p.dw.com/p/2Y8Iu">kesenjangan</a> pendapatan. Laporan terakhir menyebut empat orang terkaya Indonesia memiliki harta sebanyak 100 juta rakyat miskin. Melalui kebijakan pajak yang ketat dan efektif, pemerintah sedikit demi sedikit berhasil mengurangi kesenjangan pendapatan dan membagikan kemakmuran lebih merata.
Foto: AFP/Getty Images/Bay Ismoyo
3. Pertumbuhan Lapangan Kerja
Presiden Joko Widodo menargetkan pertumbuhan 10 juta lapangan kerja hingga 2019. Sejauh ini tim ekonomi di Kabinet Kerja telah berbuat banyak untuk mencapai sasaran tersebut. Tahun lalu sebanyak 2.61 juta kesempatan kerja tercipta di Indonesia. Rezim keuangan yang ketat, belanja infrastruktur dan kemudahan berbisnis menjadi jurus andalan buat merapal pertumbuhan ekonomi.
Foto: Bay Ismoyo/AFP/Getty Images
4. Transparansi dan Korupsi
"Tata kelola keuangan yang baik adalah transparansi dan akuntabilitas," kata Sri Mulyani. Kredo yang sama membayangi masa kerjanya. Ia banyak menuntut transparansi anggaran dan membatasi ruang korupsi di Kementerian Keuangan. Ia juga ikut memantau penggunaan APBD di daerah-daerah, termasuk DKI Jakarta. Tidak heran jika pada masa jabatannya indeks transparansi Indonesia membaik sebanyak 3%.
Foto: Getty Images/AFP/A. Berry
5. Cadangan Devisa
Akhir Desember silam Bank Indonesia mengumumkan cadangan devisa sebesar US$130 miliar atau meningkat sekitar 4,03 miliar Dolar AS. Angka tersebut adalah yang tertinggi dalam sejarah. Sebagai perbandingan, cadangan devisa Indonesi pada 2014 adalah sebesar 111 miliar Dollar AS. Kelihaian Sri Mulyani mengelola utang negara dianggap salah satu alasan membaiknya postur cadangan devisa Indonesia.
Foto: Reuters/D. Whiteside
Banjir Pujian Buat Sri
Di tengah prestasi yang menggunung, Sri Mulyani mendedikasikan kemenangannya untuk pemerintahan Presiden Jokowi dan rakyat Indonesia. Sang Presiden pun tak hemat pujian, "ini pengakuan dunia dan hanya satu orang menteri. Saya kira, kita semua bangga," ujarnya.
Foto: DW
7 foto1 | 7
*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.
*Silakan bagi komentar Anda atas opini di atas pada kolom di bawah ini.