1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Iran Unruhen

22 Juli 2009

Parlemen Iran menuntut Presiden Ahmadinejad mengubah keputusan memilih Mashai sebagai wakilnya. Ahmadinejad sekarang tidak hanya mendapat perlawanan dari kubu reformis, namun juga dari kubu konserfatif.

esfandiar rahim moshaie
Esfandiar Rahim Mashai, calon wapres Iran pilihan Presiden AhmadinejadFoto: www.dourbin.net

Sengketa mengenai calon Wakil Presiden Iran Esfandiar Rahim Mashai pilihan Presiden Mahmud Ahmadinejad semakin menajam. Akhir pekan lalu mayoritas kelompok konservatif menuntut Ahmadinejad untuk mengubah keputusannya memilih Mashai menjadi wakilnya. Sekarang tuntutan yang sama datang dari Parlemen Iran. Badan Legislatif di Teheran ini memaksa Presiden Ahmadinejad untuk membatalkankan pengangkatan Mashai sebagai wapres Iran. Juru bicara Parlemen Iran, Mohammad Hassan Aboutorabi-Fard, mengatakan, ini merupakan tuntutan serius dari pimpinan religius Iran Ayatollah Ali Khamenei dan juga dari mayoritas parlemen. Dengan ini Ahmadinejad tidak hanya mendapatkan perlawanan dari kubu reformis, namun juga dari kubu konservatif.

Walaupun begitu Selasa malam (21/07), Mashai kembali menegaskan, ia tetap memegang jabatan ini. Alasannya, pengangkatan dirinya sebagai wakil presiden merupakan lambang haluan politik baru yang dianut oleh Presiden Ahmadinejad, yang kembali terpilih secara resmi.

Calon wapres ini dimusuhi banyak pihak karena setahun lalu ia berkata, Iran adalah sahabat Israel. Waktu itu Mashai menjabat sebagai salah satu wakil presiden Iran urusan budaya dan pariwisata. Ini menimbulkan kontroversi karena Iran tidak mengakui Israel dan Ahmadinejad juga berkali-kali meramalkan kehancuran Israel. Dengan keputusannya memilih Mashai, Ayatollah Ahmad Khatami, anggota Parlemen Iran dan pendukung Ahmadinejad, menyebut Ahmadinejad bermuka dua kepada petinggi agama dan kelompok elit.

Hari Minggu (19/07) lalu stasiun televisi pemerintah “Press TV“ melaporkan pengunduran diri Mashai. Namun hal ini dibantah Mashai. Ia mengatakan, ini merupakan desas-desus dan kebohongan yang disebarkan oleh “musuh pemerintah”. Selasa malam (21/07) Ahmadinejad kembali menegaskan, ia tidak akan mengubah keputusannya mengenai wapres pilihannya. "Mashai adalah salah satu pendukung setia revolusi rakyat. Ia dipilih menjadi wakil presiden dan akan tetap tinggal di jabatan ini“, demikian dikatakan Presiden Ahmadinejad.

Mashai adalah besan Ahmadinejad. Pengamat mengatakan, keputusan Ahmadinejad memilih Mashai menjadi capres menunjukkan, bahwa presiden Iran ini hanya memepercayai sekelompok kecil orang.

Selasa sore (21/07), kembali timbul kerusuhan antara polisi dan demonstran di Teheran. Ratusan orang melakukan aksi unjuk rasa di lapangan Haft-e-Tir memprotes hasil pemilu kontroversial. Mereka meneriakkan slogan-slogan seperti “Kematian sang diktator“ dan “Mundurlah Ahmadinejad“. Menurut laporan saksi mata, sekitar 24 demonstran ditahan polisi. Menurut laporan resmi, semenjak pemilu 12 Juni lalu 21 orang tewas dalam berbagai aksi protes yang ditindak keras oleh polisi dan pasukan milisi.

Pemimpin pihak oposisi Mir Hossein Moussavi mengecam kekerasan yang digunakan oleh aparat keamanan melawan para demonstran. Ia memperingatkan aparat keamanan untuk tidak menggunakan metode yang sama seperti rezim Iran sebelum revolusi Islam di tahun 1979. Mousavi juga kembali menuntut dibebaskannya semua tahanan politik dan mengecam pemerintah karena menyebut para tahanan ini agen mata-mata asing.

Ulrich Pick / Reuters / Anggatira
Editor: Dyan Kostermanns