1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Cek Fakta: Apakah "Telur Palsu" Benar Ada di Indonesia?

11 Mei 2026

Video “pembuatan telur palsu” viral di TikTok dan memicu kekhawatiran warganet soal telur palsu di Indonesia. Benarkah telur seperti dalam video itu memang ada? Cek fakta dan penjelasan ilmiahnya di sini.

Cek Fakta Sains DW soal video viral TikTok tentang “Telur Palsu”, klaim tersebut: Salah
Tak ada telur palsu di Indonesia, menurut pakar dari BRINFoto: DW Factcheck / Video: TikTok/@aeonbreeze

Video tentang "pembuatan telur palsu” kembali ramai beredar di TikTok. Dalam video tersebut, terlihat cairan bening dan kuning dimasukkan ke dalam cetakan menyerupai telur, lalu dinarasikan sebagai proses produksi telur palsu yang disebut-sebut berbahaya jika dikonsumsi.

Unggahan itu memicu kekhawatiran warganet. Sebagian mempertanyakan bagaimana cara membedakan telur asli dan palsu. Ada pula yang mengaitkan warna kuning telur yang pekat dengan dugaan telur palsu yang sudah beredar di Indonesia.

Cek Fakta DW Indonesia melakukan verifikasi terkait klaim ini.

Klaim: Video viral menunjukkan proses pembuatan telur palsu untuk dikonsumsi manusia.

Cek Fakta DW: Salah.

Hasil penelusuran menggunakan Google Reverse Image menunjukkan video tersebut merupakan gabungan dari beberapa video berbeda di internet. Salah satu sumber aslinya ternyata merupakan video pembuatan mainan berbentuk telur, bukan produksi telur konsumsi.

Narasi soal "telur palsu” sendiri sebenarnya bukan hal baru. Klaim serupa sudah berulang kali muncul di berbagai negara selama bertahun-tahun. Di Taiwan misalnya, rumor tentang telur palsu sempat ramai saat terjadi kelangkaan pasokan telur dan harga telur naik.

Begitupun di India. Sempat beredar video dan pesan berantai yang mengeklaim ada "plastic eggs” atau telur plastik berbahaya yang dijual di pasaran.

Food Safety and Standards Authority of India atau FSSAI, lembaga setara BPOM di India, bahkan sampai mengeluarkan panduan khusus untuk membantah rumor tersebut.

FSSAI menjelaskan, perbedaan tekstur, warna, hingga lapisan membran telur sebenarnya bisa terjadi secara alami akibat usia telur, suhu penyimpanan, kualitas pakan ayam, hingga jenis ayam yang menghasilkan telur tersebut. Putih telur yang lebih encer atau kuning telur yang tampak lebih menyatu juga disebut sebagai proses alami ketika telur semakin tua atau disimpan dalam suhu yang tidak stabil.

Lembaga itu juga menegaskan, klaim telur plastik yang beredar luas di media sosial tidak didukung bukti ilmiah. Menurut FSSAI, belum ada bukti bahwa telur utuh sintetis seperti yang digambarkan dalam video viral diproduksi dan dijual massal untuk konsumsi publik.

Di Indonesia, klaim serupa juga berkali-kali muncul dan telah dibantah pemerintah maupun media pemeriksa fakta.

"Teknologi telur utuh seperti di video itu belum ada”

Kepala Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Satriyo Krido Wahono, menjelaskan bahwa dalam dunia pangan memang ada istilah seperti artificial egg atau cultivated egg. Namun, istilah tersebut tidak sama dengan gambaran "telur palsu” dalam video viral yang memperlihatkan cairan kimia lalu berubah menjadi telur utuh siap konsumsi.

Menurut Satriyo, riset terkait pengganti telur memang berkembang di dunia pangan modern. Tujuannya biasanya untuk menggantikan fungsi tertentu dari telur, misalnya sebagai pengental, emulsifier, atau pengembang adonan dalam produk makanan.

"Kalau kita bicara artificial egg, itu lebih ke arah menggantikan fungsi-fungsi telur. Misalnya fungsi putih telur sebagai pengental atau emulsifier,” kata Satriyo kepada DW Indonesia.

Ia menjelaskan, teknologi tersebut saat ini masih bersifat parsial. Artinya, ilmuwan baru mampu menciptakan komponen tertentu yang meniru fungsi nutrisi atau karakter putih telur, misalnya kandungan albumin melalui proses bioteknologi atau fermentasi mikroba.

Namun, teknologi untuk membuat telur utuh lengkap dengan cangkang, putih telur, kuning telur, hingga karakteristik seperti telur ayam asli disebut belum ada.

"Sampai saat ini saya belum pernah tahu bagaimana caranya orang bikin telur secara utuh seperti telur ayam di luar proses alami,” ujarnya.

Satriyo membandingkan perkembangan teknologi telur alternatif dengan cultured meat atau daging hasil kultur sel yang saat ini sudah mulai dikembangkan di beberapa negara. Menurutnya, teknologi telur belum sampai pada tahap tersebut.

"Kalau cultured meat kan sudah ada secara teknologi di dunia, tapi kalau untuk telur bentuknya seperti itu belum ada,” katanya.

Karena itu, ia menilai benda yang terlihat dalam video viral lebih tepat disebut sebagai telur tiruan untuk kebutuhan estetika, eksperimen visual, atau properti, bukan produk pangan yang realistis untuk dikonsumsi.

"Kalau yang di konten itu, gampangnya kayak bikin telur-teluran atau telur plastik,” kata Satriyo.

Cara paling mudah mengenali telur

Menurut Satriyo, masyarakat sebenarnya tidak usah merasa khawatir akan adanya telur palsu. Kalaupun ada, telur palsu atau telur tiruan sepertinya tidak akan menyamai karakteristik telur. Satriyo menjelaskan, telur memiliki bau khas yang sulit ditiru oleh bahan sintetis atau tiruan. Karena itu, aroma menjadi salah satu indikator paling mudah dikenali oleh masyarakat.

"Begitu dibuka, aroma telur asli itu pasti langsung dikenali,” kata Satriyo.

Selain aroma, perubahan tekstur saat telur dimasak juga disebut menjadi pembeda penting. Orang yang kerap memasak telur biasanya dapat melihat perbedaan ketika telur digoreng atau dipanaskan.

"Kalau digoreng, kecepatan berubah bentuk atau berubah fase jadi putih itu pasti berbeda dibandingkan kalau bukan telur asli,” ujarnya.

Satriyo menambahkan, warna kuning telur yang lebih oranye atau tekstur putih telur yang lebih encer tidak otomatis berarti bahwa telur tersebut telur palsu. Faktor seperti usia telur, suhu penyimpanan, kualitas pakan ayam, hingga jenis ayam dapat memengaruhi tampilan telur secara alami.

Ia juga menilai narasi soal "telur palsu” yang diproduksi massal dan dijual luas di Indonesia sulit masuk akal secara ekonomi. Menurutnya, produksi telur ayam nasional saat ini relatif mencukupi dan harga telur juga tergolong murah.

Karena itu, jika ada pihak yang mencoba membuat telur tiruan utuh, biaya produksi dan usaha yang dibutuhkan justru akan jauh lebih besar dibanding menjual telur asli.

"Kalau ada orang yang mencoba menggantikan itu dengan yang lain pasti secara ekonomi akan lebih rugi. Karena harganya pasti lebih mahal,” kata Satriyo.

Menurutnya, kasus yang pernah ditemukan di Indonesia justru bukan telur sintetis seperti yang ramai dibicarakan di media sosial. Pemalsuan yang pernah terjadi lebih berupa perbedaan klaim jenis telur, misalnya telur ayam yang diwarnai agar menyerupai telur bebek dan dijual dengan harga lebih mahal.

Meski begitu, ia menegaskan produk tersebut tetap merupakan telur asli dan masih memiliki kandungan gizi seperti telur pada umumnya.

Karena itu, Satriyo mengimbau masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan terhadap isu "telur palsu” yang viral di media sosial. 

"Kalau untuk telur (tapi sebenarnya) bukan telur, diklaim sebagai telur, saya rasa di Indonesia kasus itu hampir tidak ada. Kecil sekali kemungkinannya,” ujarnya.

Ia pun meminta masyarakat tetap tidak takut mengonsumsi telur karena telur masih menjadi salah satu sumber protein hewani yang murah dan mudah diakses.

"Telur itu salah satu sumber protein hewani yang lengkap dan murah. Jadi jangan takut untuk konsumsi telur,” kata Satriyo.

Felicia Salvina turut berkontribusi dalam pembuatan artikel ini

Editor: Melisa Lolindu/Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait