1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
EkonomiGlobal

Cek Fakta: Benarkah Bank Indonesia Sengaja Lemahkan Rupiah?

22 Mei 2026

Sebuah konten dengan klaim bahwa rupiah sengaja dilemahkan Bank Indonesia viral di media sosial. Cek Fakta DW menelusuri konteks video dan meminta penjelasan pakar untuk menguji kebenarannya.

Tangkapan layar konten viral di TikTok tentang Bank Indonesia yang disebut sengaja melemahkan rupiah
Pemerintah melalui Menko Perekonomian RI dan Bank Indonesia membantah Indonesia melakukan kebijakan pelemahan rupiahFoto: TikTok

Beredar sebuah konten di TikTok yang menampilkan potongan video dengan klaim bahwa pelemahan rupiah merupakan kebijakan yang sengaja dilakukan oleh Bank Indonesia (BI). Video vertikal itu viral dan telah ditonton jutaan kali, memancing ribuan komentar warganet dengan beragam respons, mulai dari yang mempercayai klaim tersebut hingga yang mempertanyakan konteks sebenarnya.

Saat artikel ini ditulis, video tersebut telah ditonton lebih dari 7,8 juta kali dan mendapat lebih dari 300 ribu likes. Di bagian awal video, tercantum narasi: “Viral!! Ternyata ini lah alasan kenapa Bank Indonesia sengaja untuk melemahkan rupiah.”

Dalam tiga hari, konten tersebut ditonton jutaan kali di TikTokFoto: TikTok

Narasi itu kemudian diikuti potongan wawancara yang seolah menguatkan klaim tersebut.

DW menelusuri kebenaran isi video viral itu.

Klaim: "Rupiah sengaja dilemahkan oleh Bank Indonesia.”

Cek Fakta DW: Menyesatkan

Tahapan verifikasi dan penulusuran

Hasil penelusuran tim cek fakta DW menunjukkan, konten viral tersebut merupakan gabungan dari dua potongan video yang tidak saling berkaitan.

Melalui penelusuran menggunakan Google Reverse Image, diketahui bahwa bagian pertama video berasal dari kegiatan Presiden Prabowo Subianto dalam agenda yang tidak berkaitan dengan isu nilai tukar rupiah.

Penelusuran mengarah pada sebuah video yang identik dengan yang ditayangkan oleh kanal Youtube Kejaksaan RI berjudul "Satgas PKH Kuasai Kembali Kawasan Hutan Tahap VI, Serahkan Uang Rp11,4 Triliun".

Namun, dalam versi yang viral di TikTok, kreator menambahkan narasi tambahan.

Sementara bagian selanjutnya, video diambil dari kanal YouTube Astronacci, sebuah akun yang kerap membahas soal trading dan investasi.

Namun, dalam versi pendek yang beredar di media sosial, terdapat bagian pertanyaan yang dipotong. Pemotongan ini berpotensi membentuk narasi berbeda dari konteks aslinya.

Tim Cek Fakta DW Indonesia juga tidak menemukan adanya pernyataan yang menyebut pelemahan rupiah merupakan kebijakan yang sedang dijalankan saat ini.

Dalam video asli yang berdurasi hampir 23 menit, memang ada pembahasan mengenai teori pelemahan mata uang secara sengaja. Namun, pembahasan itu tidak merujuk pada kondisi rupiah saat ini dan bukan pernyataan resmi mengenai kebijakan Bank Indonesia.

Verifikasi silang kemudian dilakukan dengan membandingkan klaim video viral tersebut dengan pernyataan resmi otoritas terkait.

Penelusuran DW menemukan bahwa isu ini memang sempat ramai diperbincangkan. Namun, seperti diberitakan sejumlah media nasional, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menepis isu tersebut dan menegaskan bahwa BI fokus menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai strategi intervensi.

Ekonom: BI Fokus pada stabilitas, bukan pelemahan Rupiah

Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Teuku Muhammad Riefky Hasan, menegaskan Bank Indonesia memiliki mekanisme intervensi terhadap nilai tukar. Namun, tujuan utamanya adalah menjaga stabilitas, bukan melemahkan rupiah.

"Mekanisme untuk Bank Indonesia mengintervensi nilai tukar itu ada, dengan tujuan stabilisasi, bukan melemahkan. Kalau rupiah terlalu kuat itu bisa dibuat lebih stabil. Artinya bukan dibuat lemah," ungkapnya dalam wawancara bersama DW Indonesia.

Riefky juga menanggapi anggapan bahwa pelemahan rupiah sengaja dilakukan untuk mendorong ekspor. Menurutnya, asumsi tersebut tidak relevan dengan kondisi ekonomi Indonesia saat ini.

Cek Fakta: Cara Mengenali Presenter Berita Buatan AI

01:59

This browser does not support the video element.

"Argumen bahwa melemahkan nilai tukar rupiah untuk mendorong ekspor itu relatif tidak reasonable. Karena kalau rupiah melemah, impor kita juga akan semakin mahal. Kalau impor mahal, biaya produksi dalam negeri akan semakin mahal. Ekspor pun praktis akan turun atau kalah saing.”

Ia menjelaskan, strategi pelemahan mata uang memang pernah diterapkan sejumlah negara dalam kondisi tertentu. Namun efektivitasnya sangat bergantung pada struktur ekonomi masing-masing negara.

Menurutnya, Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor. Dalam kondisi seperti ini, melemahkan nilai rupiah justru berisiko meningkatkan biaya produksi dan menekan daya saing industri dalam negeri.

"Cina pernah sengaja membuat mata uangnya lemah agar ekspornya kompetitif.”

Meskipun begitu, menurut Riefky, sengaja melemahkan nilai tukar untuk mendorong daya saing, tapi kondisi ekonominya berbeda dengan Indonesia.

Mengapa disinformasi soal rupiah mudah dipercaya?

Kepada DW Indonesia, Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital, Firman Kurniawan, menjelaskan bahwa kondisi ketidakpastian membuat masyarakat cenderung mencari informasi yang memberi kepastian, meskipun belum tentu benar.

"Ketika masyarakat memerlukan kepastian, yang dicari adalah informasi. Akibatnya, informasi apapun, bahkan yang spekulatif atau tidak masuk akal sekalipun, kalau dikemas meyakinkan, akan tetap dikonsumsi oleh masyarakat,” ujarnya.

Cek Fakta: Mengungkap Video Palsu di Tengah Perang

02:16

This browser does not support the video element.

Menurut Firman, dalam kondisi tertentu penyebaran informasi yang tidak utuh atau menyesatkan tidak hanya berpotensi menimbulkan kepanikan, tetapi juga dapat memengaruhi kepercayaan publik terhadap sebuah kebijakan pemerintah.

Ia menambahkan, dalam situasi seperti ini, peran pemerintah menjadi sangat penting untuk memberikan penjelasan yang dapat dipercaya oleh publik.

"Pemerintah dan otoritas keuangan perlu memberikan penjelasan yang masuk akal. Ketika publik tidak percaya, perlu ada juru bicara yang dapat diterima untuk menjelaskan apa yang terjadi, termasuk langkah mitigasi yang diambil,” tutup Firman.

Fika Ramadhani dan Muhammad Athif Aiman turut berkontribusi dalam pembuatan artikel ini

Editor: Tezar Aditya

Iryanda Mardanuz Junior Correspondent, Deutsche Welle Asia Pacific Bureau / Reporter, Deutsche Welle Indonesia
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait