Cek Fakta: Trump Kena Strok karena Kalah Perang sama Iran?
Levie Mulia Wardana
14 Mei 2026
Video Donald Trump yang dipapah oleh US Secret Service viral dengan klaim ia mengalami strok akibat pecahnya pembuluh darah di otak karena kalah strategi perang dengan Iran. Yuk, cek faktanya.
Video Presiden AS Donald Trump yang dipapah oleh US Secret Service viral di Facebook dengan klaim Trump mengalami strok akibat pecah pembuluh darah di otak karena kalah strategi perang dengan IranFoto: Facebook
Iklan
Video berdurasi 13 detik yang beredar di platform media sosial Facebook menampilkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan narasi yang memicu perdebatan di kolom komentar. Sebagian warganet percaya, sementara yang lain meragukan keasliannya.
Cek Fakta DW Indonesia melakukan verifikasi terkait klaim ini.
Klaim: "Akibat pecahnya pembuluh darah di otak, Trump mengalami strok, ini diakibatkan karena kalah strategi perang dengan Iran"
Cek Fakta DW: Salah.
Saat diperiksa melalui Hive Moderation, hasilnya video tersebut bukan buatan AI. Kemudian, berdasarkan hasil penelusuran menggunakan Google Reverse Image, video tersebut tidak berasal dari peristiwa terbaru, melainkan merupakan rekaman lama saat terjadi insiden penembakan dalam kampanye Donald Trump di Pennsylvania, Amerika Serikat, pada tahun 2024. Dalam situasi itu, Trump memang terlihat dipapah oleh US Secret Service, tetapi konteksnya adalah prosedur pengamanan setelah insiden, bukan karena kondisi medis seperti strok.
Insiden Penembakan Trump
Penembakan pada kampanye Donald Trump di Pennsylvania menggemparkan seluruh AS, bahkan dunia. Berikut foto-foto kejadian itu.
Foto: Brendan McDermid/REUTERS
Saat tembakan terjadi
Suara tembakan terdengar beberapa kali saat berlangsungnya kampanye kepresidenan Donald Trump di Butler, Pennsylvania. Pasukan keamanan dengan cepat berlari ke podium, melindungi Trump dan menuntunnya turun dari podium.
Foto: Gene J. Puskar/AP Photos/picture alliance
Pasukan keamanan bergegas mengamankan lokasi
Saat serangkaian suara tembakan terdengar, Donald Trump terlihat menyentuh telinga kanannya yang terluka. Para pasukan keamanan presiden kemudian bergegas menuju ke atas panggung untuk melindungi mantan presiden AS tersebut. Pasukan keamanan itu mengerumuni Trump, sementara pasukan lainnya mengamankan lokasi kejadian.
Foto: Evan Vucci/AP Photos/picture alliance
Telinga kanan Donald Trump terluka
Setelah mengerumuni Trump, pasukan keamanan membantunya untuk berdiri. Bercak darah terlihat pada wajah sebelah kanannya. Trump mengepalkan tangannya ke arah pendukungnya, seraya meneriakkan, "lawan, lawan, lawan." Banyak dari kerumunan meneriakkan, "Amerika, Amerika."
Foto: REUTERS
Foto untuk kampanye
Setelah pasukan keamanan membantu Trump untuk berdiri, mantan presiden AS itu mengangkat kepalan tangannya ke udara. Foto itu dengan cepat beredar di media sosial. Momen itu diambil oleh fotografer AP, Evan Vucci.
Foto: Evan Vucci/AP Photo/picture alliance
TKP: Lokasi kampanye di Pennsylvania
Trump baru saja memulai pidato kampanyenya, saat suara tembakan terdengar. Dia sedang berbicara tentang migran. Seorang saksi mata mengatakan kepada Reuters bahwa, pada awalnya, suara tembakan itu terdengar seperti kembang api, tapi orang-orang kemudian mulai berteriak. "Semua orang mulai panik. Sungguh kacau," katanya
Foto: Evan Vucci/AP Photo/picture alliance
Massa terkejut dan ketakutan
Satu orang di antara kerumunan tewas dan dua orang lainnya terluka parah, kata petugas keamanan. Seorang dokter di tengah massa bergegas membantu salah satu korban luka. Setelahnya, dokter itu menyatakan bahwa orang itu tertembak di kepala dan mengonfirmasi kematian korban.
Foto: Brendan McDermid/REUTERS
Seluruh dunia terkejut
"Upaya pembunuhan" menurut FBI ini menjadi berita utama di seluruh dunia. Presiden AS Joe Biden mengatakan dia merasa lega karena Trump selamat. Biden juga mengutuk serangan itu dengan mengatakan, "Tidak ada tempat di Amerika untuk kekerasan semacam ini." Wakil Presiden AS Kamala Harris, yang juga berkampanye di Pennsylvania, mengecam insiden ini.
Foto: Brian Snyder/REUTERS
Joe Biden: ‘Ini memuakkan’
Usai dari Delaware, Presiden AS Joe Biden kembali ke Washington dan berbincang dengan Donald Trump, setelah Trump keluar dari rumah sakit. Biden berterima kasih kepada pasukan keamanan yang telah membawa Trump ke tempat yang aman. Biden juga mengunggah di X dengan menuliskan, "Ini memuakkan. Ini memuakkan. Ini adalah salah satu alasan mengapa kita harus menyatukan negara ini."
Foto: Tom Brenner/REUTERS
Pengawalan ketat
Petugas polisi dari Pantai Rehoboth di Delaware bergegas mengamankan dan menjaga balai kota tempat Presiden AS Joe Biden berpidato setelah serangan yang terjadi pada Donald Trump, saingannya dalam Pilpres AS 2024.
Foto: Tom Brenner/REUTERS
FBI: Tidak ada 'ancaman lain di luar sana'
Beberapa jam setelah insiden penembakan, tim FBI mengambil alih penyelidikan. FBI mengonfirmasi adanya upaya "percobaan pembunuhan" terhadap Trump dan pihaknya telah berhasil mengidentifikasi penembaknya. Agen Khusus FBI Kevin Rojek mengatakan bahwa para pejabat "bekerja dengan tanggap" untuk kasus ini. FBI juga meyakini "tidak ada alasan" adanya ancaman lebih lanjut.
Foto: Brendan McDermid/REUTERS
Keamanan ekstra
Polisi Kota New York juga ikut berjaga-jaga di depan Trump Tower di Midtown Manhattan. Setelah meninggalkan rumah sakit, Donald Trump diperkirakan akan bermalam di kediamannya di New Jersey, menurut laporan The New York Times.
Foto: David Dee Delgado/REUTERS
Upaya pembunuhan paling serius sejak 1981
Anggota pasukan keamanan berpatroli di lokasi insiden penembakan Donald Trump di Pennsylvania. Serangan kali ini adalah upaya pembunuhan paling serius terhadap seorang presiden atau calon presiden sejak 1981, saat insiden penembakan Ronald Reagan. (kp/hp)
Foto: Brendan McDermid/REUTERS
12 foto1 | 12
Lalu, penelusuran menggunakan kata kunci "Shooting at Trump Rally Pennsylvania" menampilkan rekaman lain dari sudut pandang berbeda yang menguatkan kronologi tersebut.
Hingga kini, tidak ada laporan resmi dari Gedung Putih, tim medis kepresidenan AS, maupun media kredibel yang menyebut Trump mengalami strok, apalagi mengaitkannya dengan konflik atau strategi perang dengan Iran.
Cek Fakta: Tidak Benar Presiden AS Donald Trump Panik karena Suara Takbir!
01:56
This browser does not support the video element.
Seperti apa pola "daur ulang" video hoaks?
Fenomena ini menunjukkan pola yang kerap muncul dalam penyebaran disinformasi, yaitu penggunaan ulang video lama dengan hoaks baru. Fact-check Analyst Mafindo, Aribowo Sasmito, menjelaskan bahwa hoaks biasanya "menumpang” isu yang sedang ramai diperbincangkan publik agar lebih mudah menarik perhatian dan menyebar luas.
Iklan
"Karena buat apa bikin hoaks kalau orang enggak lagi memerhatikan, artinya debatnya enggak sebanyak kalau (ada) sesuatu yang lagi diperhatikan masyarakat,” kata Aribowo saat diwawancarai DW Indonesia.
Ia juga menambahkan, dalam situasi tersebut, emosi sering kali lebih dominan dibanding verifikasi, sehingga pengguna media sosial cenderung akan langsung membagikan informasi termasuk video viral, tanpa mengecek kebenarannya.
"Walaupun mungkin orang tahu bahwa sumbernya tidak jelas, kita mana tahu kalau Trump benar strok atau tidak. Jadi memang ujung-ujungnya kembali ke aspek dasar bahwa manusia itu sering 'tergocek' emosinya," lanjut Aribowo.
DW Goes to Campus 2025: Cek Fakta AI bareng Universitas Brawijaya Malang
DW Indonesia berkolaborasi dengan Universitas Brawijaya Malang menggelar workshop Cek Fakta, membekali generasi muda dengan keterampilan memverifikasi informasi dan melawan hoaks. Seperti apa keseruannya?
Foto: DW Indonesia
Diskusi dan pelatihan cek fakta
DW Indonesia menyelenggarakan #DWGoesToCampus 2025 di Universitas Brawijaya, Malang. Pelatihan dan diskusi ini mengusung tema “Fact Checking: How to Tackle AI Disinformation?”, sebuah bagian dari inisiatif global untuk mempromosikan pentingnya cek fakta untuk menangkal disinformasi di era kecanggihan AI.
Foto: DW Indonesia
Apa manfaat cek fakta?
Fact-checking bukan sekadar memeriksa informasi, tetapi membantu publik memilah kebenaran di tengah banjir konten digital. Dari melawan misinformasi, mengklarifikasi mitos, hingga mengungkap manipulasi visual, cek fakta memperkuat literasi media dan daya kritis. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami bagaimana verifikasi informasi menjaga ruang digital tetap sehat di era AI.
Foto: DW
Mendukung kelompok dengan keterbatasan sensorik
Ni Komang Yuni Lestari, mahasiswi Sosiologi Universitas Brawijaya yang memiliki keterbatasan penglihatan, berbagi pandangannya tentang pentingnya akses informasi yang adil bagi semua. ”Saya sering terpapar konten deepfake di media sosial,” ujarnya. DWGC 2025 memastikan jalannya workshop tetap inklusif dengan memberikan pendampingan ekstra bagi peserta dengan kebutuhan sensorik.
Foto: DW
Kolaborasi jurnalis DW dan akademisi
Jurnalis DW bersama dosen Universitas Brawijaya berkolaborasi dalam sesi workshop Cek Fakta, memadukan pengalaman praktis dari dunia jurnalistik dengan wawasan akademik. Kolaborasi ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan memverifikasi informasi secara kritis di tengah maraknya hoaks dan tantangan teknologi AI.
Foto: DW Indonesia
Cek fakta dan tantangan AI
Pemimpin Redaksi DW Indonesia, Vidi Legowo Zipperer, memaparkan alasan pemilihan tema DWGC 2025: “Fact-checking: How to Tackle AI Disinformation.” Menurutnya, generasi muda kini dihadapkan pada banjir informasi yang membingungkan, diperkuat oleh konten imitasi. DW Indonesia ingin memastikan jurnalisme tetap relevan, kredibel, dan adaptif di era AI.
Foto: DW Indonesia
Gotong royong digital
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Brawijaya, Ahmad Imorn Rozuli, menyoroti pentingnya kerja sama lintas bidang dalam memerangi disinformasi. "Gotong royong digital itu menjadi satu skema untuk bisa bersama-sama antara dosen, pers, mahasiswa, dan masyarakat untuk mengisi hal-hal yang benar dalam dunia digital," ujarnya.
Foto: DW Indonesia
Campus Dialogue: Diskusi lintas perspektif
Sebagai bagian dari rangkaian DWGC 2025, Campus Dialogue menjadi wadah pertemuan bagi mahasiswa, akademisi, dan jurnalis untuk mengupas lanskap kecanggihan AI. Melalui diskusi terbuka, peserta saling bertukar pandangan tentang tantangan, peluang, serta pentingnya literasi digital dalam menghadapi era teknologi yang terus berkembang. (ha)
Foto: DW Indonesia/DW
7 foto1 | 7
Teknologi jadi tantangan di era maraknya konten disinfomasi?
Dalam konteks yang lebih luas, Analyst Drone Emprit, Rizal Nova Mujahid, menilai perkembangan teknologi justru menambah tantangan dalam membedakan konten asli dan manipulasi AI.
"Sebenarnya itu memang tantangan untuk teknologi, bahkan sampai saat ini. Karena image atau video yang diproduksi oleh AI semakin baik dan semakin secure, kalau dilihat sekilas menjadi semakin susah untuk dikenali,” kata Nova kepada DW Indonesia.
Nova menambahkan, kondisi ini membuat publik semakin bergantung pada transparansi dari pembuat konten dan platform digital. Menurut dia, pelabelan konten menjadi sangat penting agar masyarakat bisa segera mengenali apakah sebuah konten berpotensi menyesatkan atau tidak. Ia juga menekankan perlunya peran aktif pemerintah dan platform dalam melakukan verifikasi terhadap konten yang beredar.
"Kita bergantung pada kemauan kreator konten untuk melabeli ini sebagai hasil AI atau tidak AI, sehingga kita bisa langsung mengenali hoaks atau enggak. Lalu juga strategi berikutnya adalah meminta pemerintah untuk mendorong agar hal-hal seperti ini diverifikasi oleh platform-nya,” kata Nova.
Video viral Trump ini menjadi contoh bagaimana konteks dapat dihilangkan untuk membangun narasi keliru. Tidak hanya itu, video terkait konflik Iran sampai video pertemuan Presiden Prabowo dan Presiden Putinjuga berulang kali menjadi bahan untuk menyebar hoaks karena besarnya atensi publik terhadap isu global.
Di tengah derasnya arus informasi, publik diingatkan untuk tidak cepat bereaksi, tetapi kritis memeriksa sumber dan konteks sebelum percaya serta menyebarkannya.
Fika Ramadhani turut berkontribusi dalam pembuatan artikel ini