Cek Fakta: Pejabat Iran Peringatkan Indonesia soal Perang?
15 April 2026
Sebuah konten di TikTok menyebarkan narasi bahwa seorang wali kota di Iran bernama Madyamohammed Abduur memperingatkan Indonesia terdampak perang antara Iran dan Israel. Unggahan ini menyebut kalau Indonesia berisiko terkena paparan radiasi dan serpihan misil dari roket yang dikirimkan kapal induk Australia ke Iran.
Hingga kini, konten yang diunggah 4 Maret 2026 itu telah ditonton lebih dari 9,4 juta kali serta mendapat lebih dari 113 ribu likes. Dari 10 ribu komentar yang ada, banyak yang percaya klaim dari konten tersebut.
Tim Cek Fakta DW Indonesia menelusuri kebenaran klaim dari konten ini.
Klaim: Wali kota di Iran memperingatkan Indonesia karena rentan terdampak perang karena risiko radiasi dan serpihan roket yang diluncurkan dari kapal induk Australia.
Hasil Cek Fakta DW: Salah.
Identitas palsu wali kota
Kami menelusuri foto yang terdapat dalam unggahan melalui pencarian Google Reverse Image. Hasilnya menunjukkan kalau foto tersebut adalah Hossein Salami, mantan Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi. Ia tewas dalam serangan yang dilancarkan Israel pada 13 Juni 2025.
Kemudian, kami juga menelusuri nama wali kota di Iran yang disebut dalam konten, yaitu Madyamohammed Abduur. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa tidak ada nama wali kota di Iran dengan nama tersebut di portal berita resmi mana pun.
Kami juga menghubungi Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia untuk mengonfirmasi nama tersebut.
"Tidak ada nama wali kota seperti di atas," kata Ali Pahlevani Rad, Asisten Duta Besar Iran untuk Indonesia saat dihubungi via pesan singkat.
Artikel yang keliru
Konten itu juga terlihat mengutip sebuah portal berita, Liranews.com. Kami melakukan penelusuran dan menemukan artikel tanggal 1 Maret 2026 yang identik dengan konten yang viral tersebut. Kami juga menemukan informasi yang identik antara artikel dengan konten diunggah pada 4 Maret 2026.
Kami juga menghubungi redaksi LiraNews untuk mengonfirmasi hal ini. Melalui pesan singkat, redaksi Liranews mengakui adanya kekeliruan pada artikel tersebut. Mereka menyebut terdapat kekeliruan dalam identitas tokoh dan foto. Pihaknya juga telah mengoreksi artikel tersebut dan menambahkan catatan agar pembaca memahami konteksnya.
Kami menyadari adanya kekeliruan dalam artikel berjudul “Wali Kota Iran Peringatkan Dampak Perang ke Asia Tenggara, Indonesia Harus Waspada” (...) Artikel belum mencantumkan sumber kutipan yang jelas, dan saat ini kami sedang melakukan koreksi serta menambahkan catatan agar pembaca memahami konteksnya," sebut redaksi LiraNews dalam keterangan tertulisnya kepada DW Indonesia.
Klaim salah tentang kapal induk Australia
Terkait klaim bahwa kapal induk Australia kerap mengirimkan roket ke arah Iran, kami menelusuri laman angkatan laut Australia. Laman tersebut menyebutkan kalau Angkatan Laut Kerajaan Australia (RAN) pernah memiliki tiga kapal induk dalam sejarahnya, yakni HMAS Sydney, HMAS Melbourne, dan HMAS Vengeance yang diperolah dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Dalam laman tersebut disebutkan bahwa pada tahun 1982, HMAS Melbourne dinonaktifkan dan menandai berakhirnya operasi kapal induk milik Australia.
Selain itu, menurut dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Dina Sulaeman, menyebut kalau Australia tidak mungkin menyerang langsung ke Iran.
"Secara geografis itu sepertinya tidak mungkin juga karena terlalu jauh, dan kemudian jalurnya juga tidak perlu melewati Indonesia. Ada jalur yang lebih pendek, kalau pun betul ada rudal dari Australia yang dikirim ke Iran bisa langsung melintasi Samudra Hindia," terangnya.
Dina juga menyebut kemampuan rudal Australia yang tidak memungkinkan hal tersebut.
"Saat ini, rudal-rudal Australia yang diketahui publik itu adalah rudal yang jaraknya pendek sekitar 400 kilometer. Padahal kan jarak antara Australia dan Iran itu 10 ribu kilometer kira-kira."
Terlebih lagi, menurut Dina, tidak ada media kredibel yang memberitakan kejadian ini.
Meski konten ini viral dan telah dibagikan lebih 18 ribu kali, tidak ada jaminan mengenai kebenarannya. Mengetahui fakta sebuah informasi tetap perlu dilakukan sebelum membagikannya.
Editor: Tezar Aditya