Cek Fakta: RI Keluarkan Rp16,7 T buat Pulihkan Hutan Brasil?
24 Desember 2025
Beredar konten viral melalui Facebook yang menampilkan foto pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva. Di unggahan tersebut, tertulis bahwa Indonesia mengeluarkan uang sebesar Rp16,7 triliun untuk memulihkan hutan rusak daerah tropis di Brasil.
Pada bagian bawah gambar, terdapat teks yang mengkritisi pemerintah Indonesia karena membantu pemulihan hutan di Brasil, sementara hutan dalam negeri juga rusak dan dinilai tak terurus.
Unggahan yang di-like sebanyak 12 ribu kali, mendapat lebih dari 8 ribu komentar, dan dibagikan lebih dari 2 ribu kali ini mengundang sentimen homogen netizen: Indonesia terlalu mementingkan kepentingan internasional, sementara kerusakan hutan domestik tak diperbaiki.
Tim Cek Fakta DW Indonesia menelusuri kebenaran klaim tersebut.
Klaim: “BREAKING NEWS RI GELONTORKAN RP16,7 T UNTUK PUL!HKAN HUT4N RUS4K DAERAH TROPIS DI BRASIL” dan “Hutan kita yg Rusak yg di pulihkan malah yg di Brazil”.
Cek Fakta DW: Menyesatkan.
Indonesia janji investasi untuk konservasi hutan global
Setelah ditelusuri lewat Google Reverse Image, foto dalam unggahan viral tersebut merupakan foto pertemuan Presiden Prabowo dan Presiden Lula tanggal 23 Oktober 2025. Faktanya, Rp16,7 triliun merupakan kominten dana investasi Indonesia untuk konservasi hutan tropis di seluruh dunia. Deklarasi komitmen tersebut dilakukan oleh pemerintah RI pada Tropical Forest Forever Facility (TFFF), dalam konferensi iklim COP30 yang berlokasi di Brasil.
“Sederhananya, kita bisa bilang bahwa ini investasi Indonesia di lembaga yang mengelola pendanaan untuk perlindungan hutan tropis,” terang Syahrul Fitra, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia.
TFFF sendiri merupakan dana internasional berbasis investasi yang dirancang untuk mendorong konservasi dan restorasi hutan tropis di seluruh dunia. Berbeda dengan donasi pada umumnya, TFFF menggunakan pendekatan pendanaan campuran yang menggabungkan dana dari pemerintah dan investor swasta.
Dalam konteks ini, negara-negara yang berpartisipasi di TFFF akan meletakkan uangnya untuk dikelola dengan metode investasi. Diketahui sejumlah negara yang turut berinvestasi antara lain adalah Norwegia (USD3 miliar), Jerman (USD1,15 miliar), Brasil (USD1 miliar), Indonesia (USD1 miliar), Prancis (USD577 juta), dan Portugal (USD1 juta).
"Apakah uang (investasi) yang diletakkan ke TFFF itu langsung diberikan untuk perlindungan hutan? (Jawabannya) tidak. Karena uang itu akan dikelola terlebih dahulu oleh Tropical Forest Investment Fund (TFIF)," jelas Syahrul.
"Mereka akan letakkan di obligasi, pasar modal, dsb, di semua negara yang potensial, termasuk juga investasi di negara-negara yang high-risk seperti Indonesia," lanjutnya.
Imbal hasil investasi yang telah dikelola tersebut nantinya akan diberikan kepada negara-negara investor dengan perhitungan yang disepakati.
Selain itu, negara-negara yang memenuhi syarat penerima manfaat TFFF atau "beneficier" juga akan menerima dana untuk konservasi hutan. Syaratnya, antara lain memiliki hutan tropis dengan tata kelola hutan yang baik.
Brasil sejauh ini merupakan salah satu negara yang memenuhi syarat sebagai penerima manfaat TFFF. Dengan begitu, tidak heran jika ada netizen yang ‘tersesat’ dalam berpikir bahwa Indonesia menyumbang uang hanya untuk Brasil.
Alih-alih menerima manfaat, Indonesia justru berinvestasi
Meski memiliki hutan tropis, sayangnya hingga kini Indonesia belum memenuhi syarat sebagai penerima manfaat TFFF, karena pengelolaan hutannya belum optimal. Sebaliknya, Indonesia justru melakukan investasi yang besar.
“Seharusnya, Indonesia menuntut negara-negara maju (untuk berinvestasi). Indonesia duitnya dari mana? Sementara, anggaran kita untuk menjaga hutan hujan tropis saja itu sangat minim,” kata Viky Arthiando, peneliti Center of Economic and Law Studies (CELIOS).
Saffanah Azzahra dari Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) juga menilai bahwa Indonesia seharusnya memperkuat posisinya sebagai negara penerima manfaat, bukan malah berinvestasi. Sebab, Indonesia memiliki potensi sebagai negara penerima manfaat dengan hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia, setelah Brasil dan Kongo.
"Indonesia ini dapat lebih memfokuskan diri, memfokuskan sumber daya dan juga kebijakannya pada upaya-upaya perlindungan dan penyelamatan kawasan hutan, yang lebih luas serta strategis. Supaya dampak konservasi yang dihasilkan dapat lebih optimal," kata Saffanah.
“Jika Indonesia tidak mau gagal, Indonesia juga harus tunjukkan kebijakan publiknya untuk perlindungan hutan. Jangan hanya berani menaruh uang di lembaga investasi,” tegas Syahrul.
Editor: Melisa Ester Lolindu