Cina Batalkan KTT UE-Cina
27 November 2008
Sengketa dengan Cina misalnya sudah terjadi tahun lalu, ketika Kanselir Jerman Angela Merkel menerima pemimpin spiritual Tibet itu di kantor kekanseliran di Berlin. Sekarang itu terjadi lagi, karena presiden Perancis Nicolas Sarkozy akan bertemu dengan Dalai Lama di Polandia. Sebagai reaksi, Cina mendadak menangguhkan KTT UE-Cina yang direncanakan hari Senin 1 Desember di kota Lyon, Perancis.
Padahal KTT itu sudah disiapkan sejak berbulan-bulan sebelumnya. Para pejabat kedua pihak menggeluti tumpukan berkas, menyusun makalah, dan saling berhubungan lewat e-mail. Kini Cina secara mendadak membatalkan KTT yang menurut rencana akan dimulai hari Senin, 1 Desember mendatang, di Lyon, Perancis. Penyebabnya, UE akan memperingati penganugerahan Hadiah Nobel Perdamaian 25 tahun lalu kepada Lech Wałesa, pendiri serikat pekerja independen Polandia "Solidarność" - solidaritas, di kota Gdańsk (Danzig).
Dalam upacara itu akan hadir pula Dalai Lama, yang juga merupakan salah seorang penerima Hadiah Nobel Perdamaian. Dengan sendirinya ia juga akan bertemu dengan Nicolas Sarkozy dalam fungsinya sebagai pimpinan UE sekarang ini. Pemerintah Cina menduga, dalam pertemuan itu akan terjadi lagi campur tangan dalam urusan intern RRC. Sebaliknya, pemerintah Cina sendiri menganggap tidak apa-apa, bahwa mereka kini mengacaukan rencana perjalanan dan jadwal para politisi Eropa.
Tetapi para politisi Eropa tentunya benar, kalau mereka tidak bersedia didikte oleh Beijing, tentang siapa yang boleh mereka jumpai, dimana dan kapan waktunya.
Belum lama berselang, Parlemen Eropa menentukan pejuang HAM Cina, Hu Jia sebagai penerima Hadiah Sakharov untuk kebebasan berpendapat. Ketika itu Cina masih memberikan reaksi santai, sebagai kekuatan regional yang sedang meniti jalan untuk menjadi sebuah negara adidaya. Tetapi ketika anggota Parlemen Eropa, Helga Trüpel, minggu ini hendak menjumpai istri Hu Jia yang berada dalam tahanan rumah, dia dirintangi oleh para pejabat Cina. Kondisi hubungan kedua pihak langsung menjadi dingin.
Penangguhan KTT UE-Cina terjadi pada saat yang tidak menguntungkan. Terkait krisis keuangan dan ekonomi secara global, hubungan kemitraan strategis sebenarnya hendak ditingkatkan. Kedua pihak saling membutuhkan satu sama lain. Perekonomian mereka terjalin erat. Hal itu disadari oleh presiden Cina Hu Jintao, yang Selasa (25/11) lalu menandatangani perjanjian besar dengan Yunani. Dengan investasi sebesar empat setengah milyar Euro, Cina dapat mengelola pelabuhan peti kemas Piraeus.
Investasi itu hanya berguna, bila diyakini akan terus meningkatnya pertukaran barang. Itu merupakan contoh nyata dari kebijakan politik Cina yang mengacu pada fakta. Tetapi bila menyangkut soal Tibet, nampaknya sikap irasional langsung menentukan tindakan yang diambil. Dan sekarang, setelah pimpinan kantor urusan Tibet yang bersikap moderat, diganti, tipis harapan bahwa di masa depan akan terjadi perbaikan. (dgl)