1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Cina Boikot Produk Prancis

22 April 2008

Protes keras terhadap Cina saat obor Olimpiade berada di Paris timbulkan kemarahan di negara tirai bambu. Toko-toko Carrefour didemo, sebuah toko ditutup. Kini pemimpin kedua negara berusaha memperbaiki hubungan.

Kampanye lewat internet Cina serukan boikot produk Perancis.Foto: AP

Presiden Prancis Nicolas Sarkozy sudah melayangkan permohonan maaf kepada olahragawati Cina Jin Jing, yang kursi rodanya sempat dihadang saat membawa obor Olimpiade di Paris. Meski begitu, Jin Jing tetap kecewa karena Sarkozy tidak menyampaikan permohonan maaf secara formal terhadap Cina. Demikian dikatakan pemain anggar itu hari Selasa (22/04) kepada media Cina.

Tampaknya, baik ketegangan antara kedua negara, Prancis dan Cina, maupun kemarahan rakyat Cina tak akan menguap begitu saja. Apalagi sebelumnya Sarkozy mengatakan tak akan hadir pada pembukaan Olimpiade di Beijing, apabila Cina tidak membuka dialog dengan Tibet. Selain itu, kota Paris bermaksud memberikan penghargaan kepada Dalai Lama.

Sementara di Cina, sepuluh hari lalu, seruan untuk melancarkan aksi protes terhadap Prancis mulai terbaca di intern dan rantai pertokoan Carrefour di Cina didemo. Seorang demonstran mengatakan: "Moga-moga sekarang toko-toko Carrefour kehilangan semua pelanggannya. Dulu kami punya hubungan baik dengan Prancis, tapi apa yang dilakukan Prancis itu sudah kelewatan. Maka kamipun bereaksi. Bila banyak orang yang menolak berbelanja di Carrefour, boikot ini bisa mempertahankan harga diri bangsa Cina."

Para nasionalis Cina menganggap kritik Barat terhadap politik Cina di Tibet merupakan upaya untuk menghambat kemajuan ekonomi Cina. Boikot produk merupakan instrumen yang sudah berulang kali digunakan.

Sejak menyebarnya seruan boikot di internet, suara-suara moderat yang menganjurkan dialog dengan Tibet dianggap sebagai pengkhianatan. Sementara sosiolog dari Universitas Fudan di Shanghai, Profesor Yu Hai, mengatakan, motor protes ini adalah para mahasiswa. Berbeda dengan orang tua mereka, para mahasiswa yang disebut olehnya sebagai pro-Barat ini belum pernah mengalami kesulitan ekonomi maupun ketegangan kampanye politik.

Menurut Profesor Yu Hai: "Reaksi paling besar datang dari mahasiswa yang justru merasa dekat dengan Barat. Bagi mereka, kritik terhadap Olimpiade justru menunjukan sejauh apa buruknya tindakan negara Barat itu. Apa yang berlangsung kini, memiliki pengaruh besar terhadap anak muda Cina dan menggambarkan akhir sebuah mimpi. Mungkin sekarang mereka akan terdorong untuk mempertanyakan konsep-konsep Barat."

Di Cina, demonstrasi sebenarnya dilarang, kecuali bila mendukung posisi pemerintahan. Bila ribuan orang bisa tanpa hambatan berdemonstrasi di rantai pertokoan Carrefour, artinya paling tidak aksi itu diamini oleh pemerintahnya. Kini pemerintah Cina secara resmi mengecam aksi radikal individu demonstran yang sempat tersiar di media. Hal itu diutarakan juru bicara Kementrian Luar Negeri Cina, Jiang Yu. Namun ia juga menegaskan, rakyat Cina bisa mengekspresikan perasaannya secara rasional dan legal.

Sampai kini, para penyensor internet di Cina masih membiarkan seruan-seruan untuk melakukan protes. Akhir pekan lalu, Surat Kabar Rakyat Cina, yang menyuarakan kebijakan Partai Komunis juga mengimbau agar para patriot negara itu menahan diri saat berprotes. (ek)