1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Cina Dan Medali Olympiade

6 Agustus 2007

Para pakar meramalkan, tahun depan akan terjadi persaingan ketat antara 'naga Cina' dan 'elang Amerika'.

Maskot olimpiade 2008
Maskot olimpiade 2008Foto: AP

Puluhan tahun Cina tidak ikut dalam Olympiade karena Komite Olympiade Internasional tahun 1956 mengijinkan keikut-sertaan Taiwan. Baru pada akhir tahun 70-an hubungan dengan IOC pulih kembali, dan tahun 1984 Cina berpartisipasi dalam Olympiade di Los Angeles. Ketika itu Cina langsung masuk peringkat empat. Tahun 2000 di peringkat tiga dan dalam Olympiade di Athena tahun 2004 Cina sudah menduduki peringkat dua. Apakah tahun depan Cina akan jadi nomor satu?

Menurut para pakar, dalam Olympiade tahun depan di Beijing akan terjadi perebutan sengit medali antara 'Naga Cina' dan 'Elang Amerika'. Di Athena, AS meraih 36 medali emas dan Cina 32. Itu merupakan hasil terbaik Cina selama ini.

Di Cina olahraga ditangani mirip militer. Di pucuknya lembaga pembinaan olahraga di Beijing dan di semua provinsi terdapat pusat olahraga yang menampung sejumlah besar bakat muda. Yang dianggap baik untuk masuk dalam tim nasional, hidup dengan tim itu dan olahraga mendominasi kehidupannya. Wakil ketua perhimpunan atletik Jerman, Helmut Digel mengenal sistem di Cina itu:

"Saya pikir, pengorganisasian olahraga prestasi sudah menjangkau seluruh negeri, sehingga walaupun ada kesalahan besar, pada akhirnya mereka tetap sukses. Lihat saja sumber daya manusianya. Misalnya di pusat latihan di Shanghai, tempat anak-anak berusia 8 tahun mulai berlatih. Dulu saya tidak bisa bayangkan, bahwa sedemikian banyak anak dapat latihan hal yang sama selama berjam-jam."

Sejak bertahun-tahun Helmut Digel mengamati pelari rintangan Liu Xiang, yang diharapkan dapat mengulangi kecemerlangannya di Athena. Di Cina Liu merupakan idola. Kalau di Beijing dia dapat memang dia mungkin akan memperoleh sekitar 550 milyar Rupiah termasuk pendapatan dari iklan. Liu Xiang yang berusia 24 tahun mengatakan:

"Saya akan memberikan yang terbaik. Yang terpenting adalah bekerja keras dan tetap bersahaja. Sebenarnya tekanan terhadap saya sangat besar. Saya tidak dapat berbohong. Saya jadi pusat perhatian dan semua berharap saya memperoleh medali emas. Saya juga mau, tapi yang terpenting adalah mengambil posisi yang tepat."

Atletik yang merupakan cabang olahraga utama Olympiade, sebenarnya bukan kekuatan utama Cina. Keunggulan Cina terletak pada loncat air, bulutangkis, menembak dan tenis meja. Disini, lima dari 10 petenis meja putri yang terbaik, berasal dari Cina. Bahkan prianya enam orang. Senam juga merupakan olahraga tradisi yang dikuasai Cina. Pelatih Lu Shanzhen mengatakan:

"Semakin banyak medali emas yang diperoleh di Beijing, tentu semakin baik. Tetapi tidak ada ketentuan berapa yang harus diraih."

Yang justru sudah menghitungnya adalah Inggris. Setengah tahun lalu sudah ada ramalan bahwa Cina akan meraih 48 medali emas dan AS hanya 37. Ketua perhimpunan olympiade Inggris, Simon Clegg mengatakan, dalam soal sport seolah semua berperang dengan Cina.


Wakil menteri olehraga Cina, Cui Dalin tentunya tidak menganggap Cina akan menjadi yang paling unggul, dan menurutnya itu pun tidak terlalu penting. Martin Zhou, reporter olympiade dari harian South China Morning Post yang terbit di Hongkong melihat banyak alasannya:

"Pihak resmi tentu tidak ingin memancing sengketa dengan perhimpunan olahraga. Sikap sederhana itu mungkin juga berdasarkan perhitungan mengenai hasil yang mungkin dicapai. Persiapan para atlit diharasiakan. Bahkan ada diskusi bagaimana menangkal mata-mata olahraga. Kalau menanyakannya pada para atlit, tentu saja bagi mereka Cina akan keluar sebagai nomor satu. Ini menunjukkan betapa ambisiusnya para atlit dan pelatih, kalau menyangkut perolehan medali emas dalam Olympiade di kandang sendiri."