190308 China Arbeitslosigkeit
19 Maret 2008
Iklan
Xu Kun, pemuda 23 tahun yang baru lulus sebagai insinyur mesin pemula dari Universitas Tongji di Shanghai. Di salah satu bursa pencari kerja bagi para lulusan baru, Xu menguji seberapa besar nilainya di pasar kerja. Xu tak bermimpi yang muluk-muluk, bagaimanapun ia adalah satu dari 20 juta kaum muda Cina yang tahun ini memasuki pasaran kerja. "Dua tahun terakhir ini situasi makin sulit. Dan di masa datang bisa jadi lebih sulit. Semua orang menginginkan posisi yang bagus. Di kota-kota besar, jumlah pencari kerja semakin bertambah setiap tahunnya. Nggak banyak lagi pekerjaan yang tersisa.“ Pemimpin Cina menyatakan kuota pengangguran saat ini 4%. Namun apa yang diungakpkan angka ini terbatas, seperti dikatakan Peng Xi-zhe, sosiolog dari Universitas Fudan, Shanghay. "Rasio ini hanya mengindikasikan berapa banyak orang terdaftar sebagai penduduk kota, mencatatkan diri tidak punya pekerjaan dan menerima tunjangan pengangguran dari negara.“ Padahal, lebih dari 60% rakyat Cina tinggal di pedesaan. Mereka mengadu nasib di kota sebagai pekerja bangunan. Mereka lah tenaga kerja di balik keajaiban ekonomi Cina. Status mereka pekerja atau buruh pendatang dari pedalaman. Sosiolog Peng Xi-zhe mengatakan: "Perbedaan besar antara kami dan negara-negara industri adalah pembedaan tegas antara kota dan desa. Di negara berkembang, petani adalah sebuah pekerjaan. Di Cina, petani adalah identitas. Masyarakat Cina terdiri dari dua identitas yang berbeda. Dan saat pemerintah menyebutkan angka pengangguran resmi, maka mereka hanya menunjuk pada masyarakat di kota. Menurut pandangan ini, petani selalu punya sebidang tanah yang mereka garap. Jadi mereka tidak muncul di statistik.“ Para pekerja pendatang dari daerah melakukan pekerjaan yang tak mau dikerjakan warga Shanghai di pagi buta. Untuk mendapat sedikit upah, mereka siap bekerja keras. Yang tidak mereka miliki adalah pendidikan. Di Cina, tenaga kerja tak terdidik berlimpah ruah. Tapi yang terdidik sangat sedikit, juga di kalangan penduduk kota. Keseluruhan sistem pendidikan Cina diarahkan utnuk membentuk seseorang menjadi karyawan kantoran. Padahal yang paling dibutuhkan adalah tenaga kerja terlatih. Tahun 2008, 5,5 juta pelajar Cina menamatkan studinya. Angka sebesar itu belum pernah dialami Cina. Dan para lulusan baru ini memimpikan bekerja di kota-kota besar di timur Cina. Begitu pula Xu Kun yang berasal dari Provinsi Hunan, Cina Tengah. Baginya lebih baik menghadapi persaingan ketat di Shanghai, daripada kembali ke daerah asalnya. “Peluang untuk mendapat pekerjaan di Cina Tengah atau Barat memang besar. Tapi wilayah ini sangat tertinggal dan bagi kebanyakan orang tidak menarik untuk ditinggali."
Iklan