1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikCina

Cina Jadikan Perang Iran untuk Bahan Propaganda

De Zheng
1 April 2026

Media pemerintah Cina membingkai AS sebagai kekuatan yang agresif dan tidak stabil di Timur Tengah. Sebuah video AI viral menampilkan pertarungan kucing Persia dan elang sebagai simbol konflik Iran.

Tiongkok 2026 | Tangkapan layar media sosial | Pesawat militer AS di atas pangkalan di Timur Tengah
Tangkapan layar dari media sosial Cina yang menunjukkan posisi pesawat militer AS di Timur TengahFoto: @中国军号/Douyin

Sebuah video buatan kecerdasan buatan (AI) yang diproduksi media pemerintah Cina yang menggambarkan perang AS-Israel dengan Iran melalui simbol kucing Persia dan elang botak, viral pekan lalu. Kolom komentar ramai dan mendapat hampir satu juta likes hanya dalam hitungan jam.

Video tersebut menjadi gambaran bagaimana Cinamembingkai konflik Iran untuk membentuk opini publik rakyatnya. Pesan utamanya sejalan dengan narasi yang kerap digunakan: Digambarkan Amerika Serikat sebagai kekuatan agresif yang tengah menurun, sementara Cina tampil sebagai kekuatan yang stabil dan damai.

Dalam video yang diproduksi CCTV, kucing Persia digambarkan sebagai pihak yang terluka dan ingin membalas dendam terhadap "elang putih” yang arogan dan menguasai wilayah gurun bernama "lembah aliran emas.” Elang itu memaksa wilayah tersebut berdagang sumber daya langka menggunakan mata uangnya sendiri.

Setelah sang elang membunuh kucing Persia, konflik berubah menjadi perang berkepanjangan yang tidak seimbang. Elang menggunakan senjata mahal untuk menjatuhkan serangan murah dari pihak lawan.

Sebuah adegan dari video "The Feuds of Liujin Valley" yang menunjukkan seekor elang membunuh kucing PersiaFoto: CCTV China

Simbolisme ini mencerminkan pesan politik yang terus disuarakan Cina sejak perang dimulai, dan diperkuat melalui berbagai kanal media di Cina.

"Sejak awal, pejabat Cina sangat jelas menyebut perang ini ilegal dan sebagai ancaman terhadap stabilitas global,” kata W.A. Figueroa, akademisi hubungan internasional di Universitas Groningen, Belanda.

"Citra yang ditampilkan adalah citra Tiongkok yang tenang, terlibat, dan diplomatis, kontras dengan Amerika Serikatyang agresif dan tidak dapat diprediksi," tambahnya.

“Jarum emas” menjatuhkan “burung kayu” sebagai kiasan terselubung terhadap penggunaan persenjataan mahal oleh AS dan Israel untuk menghadapi drone Iran yang murahFoto: CCTV China

Strategi media Cina

Dalam berbagai komentar tajam, kantor berita resmi Xinhua menilai tujuan utama AS adalah menciptakan "Iran tanpa kedaulatan.” Konflik ini, menurut mereka, lebih didorong ambisi dominasi ketimbang alasan keamanan.

Di media sosial dalam negeri, isu geopolitik tersebut dikemas menjadi konten singkat yang mudah dicerna dan bernuansa nasionalisme.

Seorang influencer populer di aplikasi Douyin, Jing Si You Wo, misalnya, menyebut AS "mundur” menghadapi keteguhan Iran, dan menggambarkan kekuatan utama Iran sebagai tekad untuk "saling menghancurkan.”

Akun resmi militer Cina di platform yang sama juga mengunggah video analisis pergerakan militer AS di Teluk menggunakan citra satelit resolusi tinggi. Konten ini meraih lebih dari enam juta likes. Di unggahan itu, terlihat juga tingginya minat publik Cina terhadap strategi dan taktik militer AS.

Analis Cina dari European Council on Foreign Relations, Alicja Bachulska menilai video AI tersebut menunjukkan evolusi propaganda negara Cina dengan mengadopsi gaya genre seni bela diri fantasi bernama "Wuxia”.

Menurutnya, penggunaan AI membuat narasi resmi menjadi lebih menarik dan mudah diterima dibandingkan liputan televisi yang cenderung kaku.

Dengan memanfaatkan nostalgia film kung fu Hong Kong era 1980-an, pesan geopolitik disisipkan secara halus ke dalam budaya populer. 

“Elang putih” dalam produksi CCTVFoto: CCTV China

Narasi Cina posisikan diri berhadapan dengan AS

Figueroa mengatakan, cara Cina membingkai konflik Timur Tengah merupakan bagian dari strategi jangka panjang.

Pemerintah Cina, menurutnya, perlu terus menanggapi tuduhan dari AS bahwa Cina mengganggu stabilitas global.

"Ini memungkinkan Cina menunjukkan kepada dunia dan rakyatnya bahwa mereka berada di jalur yang benar dan berperan sebagai penstabil,” ujarnya.

Bachulska menambahkan, elite politik Cina melihat dinamika global sebagai bagian dari rivalitas eksistensial.

"Perkembangan global dipandang melalui lensa bagaimana Cina bisa memanfaatkannya untuk memperkuat narasi bahwa AS adalah kekuatan neo-imperialis,” katanya.

Pada akhirnya, Cina juga menawarkan versi solusinya sendiri atas kekacauan global yang turut disorotnya.

Animasi "kucing dan elang” itu ditutup dengan pesan khas filosofi bela diri Cina: "Esensi tertinggi seni bela diri bukan terletak pada penggunaan senjata, melainkan pada menghentikan kekerasan.”

Di saat para pedagang dalam cerita berhasil menghindari blokade perdagangan sang elang, video tersebut juga menyisipkan promosi strategis terselubung terhadap Inisiatif Jalur Sutera atau  Belt and Road Initiativemilik Cina sebagai jalan keluar dari hegemoni ekonomi AS.

Diadaptasi oleh Felicia Salvina

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Editor: Ayu Purwaningsih