1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Kesehatan

Cina Karantina 41 Juta Penduduk di 13 Kota

24 Januari 2020

Warga di 13 kota di Cina kini ditempatkan ke dalam karantina massal menyusul ancaman wabah virus corona. Virus mematikan itu menyebar cepat, setidaknya empat negara sudah melaporkan kasus penularan, termasuk Singapura.

Ausbrüche der Coronavirus-Pneumonie in China
Foto: Getty Images/A. Kwan

Riuh jalan raya dan aktivitas niaga yang biasanya memenuhi pusat kota Wuhan kini berubah sunyi dan mencekam. Toko-toko dan pusat perbelanjaan tutup. Masker wajah diwajibkan bagi semua orang. Bandar udara dan stasiun kereta berhenti beroperasi. Tidak seorangpun ingin beraktivitas di ruang publik kecuali petugas kesehatan dan aparat keamanan. 

Pada hari ke-24 sejak otoritas Cina memberikan peringatan bahaya wabah virus korona di Wuhan 31 Desember silam, kini sudah 13 kota dan 41 juta penduduk ditempatkan di bawah karantina massal. Sedikitnya 26 orang meninggal dunia, dan lebih dari 800 pasien masih dirawat di rumah sakit.

Di pinggir kota Wuhan, otoritas kesehatan membangun rumah sakit darurat berkapasitas 1.000 tempat tidur. Alat-alat berat, termasuk 35 ekskavator dan 10 buldoser, dilaporkan tiba di lokasi pada Kamis (23/2) malam. Selambatnya pada Senin pekan depan rumah sakit tersebut sudah harus siap beroperasi, lapor Reuters.
 
Saat ini seisi negeri disiagakan menghadapi wabah corona. Pemerintah membatalkan semua perayaan Imlek. Kota Terlarang dan taman hiburan Disneyland memutuskan tutup untuk meminimalisir potensi wabah.  

Di Wuhan, sebuah rumah sakit yang disambangi oleh kantor berita AFP dibanjiri pasien yang disambut oleh petugas berbaju pelindung lengkap. Setiap pasien wajib menjalani pemeriksaan suhu tubuh. "Saya mengalami demam dan batuk," kata seorang pria berusia 35 tahun. "Saya takut saya terinfeksi," imbuhnya.

Konstruksi kilat sebuah rumah sakit darurat di pinggir kota Wuhan, Cina.Foto: imago images/Xinhua

Wabah corona merambat jelang Imlek yang biasanya ditandai dengan tradisi pulang kampung, Peristiwa tahunan yang sering dijuluki sebagai migrasi manusia terbesar di dunia itu mempersulit upaya otoritas Cina memasung penyebaran virus. Tercatat sekitar tiga miliar manusia berpindah tempat selama musim Chunyun yang berlangsung 40 hari, sebelum dan sesudah tahun baru.

"Tahun ini kami mengalami Imlek yang sangat menakutkan. Orang-orang tidak pergi ke luar karena bahaya virus," kata seorang supir taksi di Wuhan tanpa menyebutkan nama. 

Tanpa ada vaksin atau obat yang ampuh mengusir virus corona, tradisi pulang kampung jelang Imlek di Cina diyakini akan menjadi mimpi buruk bagi pemerintah. Menurut Pusat Pengendalian Wabah Penyakit di Beijing, virus corona ditularkan melalui udara, ketika pengidap mengalami bersin atau batuk.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) sendiri belum akan mendeklarasikan status Darurat Kesehatan Global (PHIEC) yang membuka keran pendanaan untuk meredam penyebaran wabah. Alasan yang diberikan Komite Darurat IHR adalah lantaran wabah baru ditemukan di Cina, belum menyebar ke negara lain.

Namun saat ini sejumlah negara sudah melaporkan kasus infeksi virus corona pada warganya atau wisatawan asing yang tiba dari Cina. 

Singapura

Setidaknya tiga orang terkonfirmasi mengidap virus corona di Singapura. Kementerian Kesehatan sebelumnya memastikan pihaknya menemukan 44 kasus dugaan penularan, 13 di antaranya telah terbukti negatif, tiga lainnya dinyatakan telah tertular. 

Sebagai langkah preventif pemerintah juga menghubungi keluarga dan teman ketiga pasien untuk mencegah penyebaran virus pada lingkungan terdekat. 

Singapura yang terhubung erat dengan Cina lewat jalur udara mencatat angka penumpang yang tinggi antara kedua negara. Sejak awal pemerintah sudah mengambil langkah pencegahan, antara lain dengan menebar pos pemeriksaan di bandar udara Changi. 

Ketiga pasien yang tertular virus corona tiba di Singapura dari Cina, lapor The Straits Times.

Vietnam

Kantor berita pemerintah melaporkan dua warga negara Cina mengidap virus corona usai berpergian ke Wuhan. Sang ayah yang baru tiba dari Cina menularkan virus mematikan tersebut kepada putranya yang tinggal di ibu kota Ho Chi MInh, 

Kini kedua pasien dikarantina oleh otoritas kesehatan Vietnam. "Kementerian Kesehatan akan terus mengawasi penumpang di bandar udara Nha Trang dan Danang yang menampung sebagian besar pernerbangan dari Cina," kata Wakil Menteri Kesehatan Nguyen Truong Son dalam sebuah surat pernyataan.

Pada Kamis malam (23/01) Otoritas Penerbangan Sipil Vietnam (CAAV) menghentikan semua penerbangan antara Wuhan dan Vietnam, serta memerintahkan semua bandar udara domestik untuk menyiapkan pos pemeriksaan guna mendeteksi penumpang yang tertular sejak dini. 

Adapun hampir semua operator wisata Vietnam mengabarkan telah membatalkan semua rencana perjalanan dari dan ke Wuhan.

Thailand

Sejauh ini pemerintah mengungkapkan empat kasus penularan. Yang terakhir menimpa seorang wisatawan asal Cina yang tiba di Bangkok. Enambelas penumpang lain yang duduk berdekatan dengan pasien ikut diperiksa. Saat ini kondisi pasien diklaim stabil dan akan dipulangkan dari rumah sakit dalam beberapa hari ke depan.

Serupa negara lain, pemerintah Thailand memperketat pengawasan di empat bandar udara utama, yakni Suvarnabhumi, Don Meuang, Phuket dan Chiang Mai sejak 3 Januari silam. Dari 19,480 penumpang dan awak pesawat yang tiba dari Wuhan, sebanyak 12 individu sempat diinapkan di dalam karantina. Delapan di antaranya saat ini sudah dibebaskan. 

Kementerian Kesehatan di Bangkok memastikan pihaknya memiliki kapasitas untuk mencegah terjadinya wabah virus corona di Thailand.

Selain ketiga negara, virus corona juga sudah dipastikan tiba di Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan.

Indonesia

Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan Menteri Kesehatan untuk mengantisipasi penyebaran wabah virus corona sekaligus meningkatkan kesiagaan. Hal itu menanggapi kasus penyebaran virus tersebut yang telah dikonfirmasi di sejumlah negara Asia Tenggara.

"Yang paling penting, kita waspada, hati-hati. Saya sudah perintahkan ke Menteri Kesehatan untuk diawasi secara detail," ujarnya di Istana Negara, pada Jumat (24/01).

Sebagai langkah preventif, pemerintah telah memperketat pengawasan di bandara untuk mendeteksi dan memantau suhu tubuh penumpang dalam rangka pemeriksaan awal.

"Kita juga sudah siap mengecek dengan scanner setiap kedatangan dari luar, siapapun, yang kita perkirakan kemungkinan besar terjangkit (virus) ini," kata Presiden.

rzn/vlz (rtr, ap, afp, dpa)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya