1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Cina Khawatir Aksi Protes Meluas

28 Februari 2011

Berbagai aksi protes di Afrika Utara menentang sistem yang otoriter terus berlangsung. Sekarang, pimpinan Cina juga mulai khawatir muncul aksi protes serupa.

China Proteste Polizei
Polisi menggiring seorang yang diduga akan melakukan protes di Shanghai (27/02)Foto: dapd

Harian Austria der Standard menyoroti reaksi rejim komunis di Cina terhadap kemungkinan aksi protes luas seperti di Afrika Utara:

Saat ini, segala sesuatu kelihatannya mungkin terjadi di negara-negara Arab, di Iran dan bahkan di Cina. Para penguasa mulai memperhitungkan kemungkinan itu. Raja Arab Saudi baru-baru ini menyediakan puluhan miliar Dollar untuk menenangkan rakyatnya. Rejim di Beijing akhir minggu ini tiba-tiba melakukan otokritik, suatu hal yang sangat jarang dilakukannya. Setelah bertahun-tahun mengalami pertumbuhan pesat, Perdana Menteri Wen Jiabao mendadak ingin meredam kenaikan harga dan membersihkan partai serta birokrasi dari korupsi. Langkah ini mungkin bisa jadi pil penenang menghadapi virus aksi perlawanan. Namun cukup mengejutkan, bahwa pimpinan komunis Cina memandang perlu untuk menggunakan pil penenang itu.

Harian Jerman Westdeutsche Zeitung mengritik upaya Cina membungkam aksi protes, antara lain dengan menahan para jurnalis asing:

Rejim di Cina mulai gugup. Para penguasa sekarang khawatir, gelombang kerusuhan yang terjadi di kawasan Arab bisa menjalar ke Cina dan menggusur mereka dari kursi kekuasaan. Agar penindasan kelompok oposisi tidak diketahui dunia luar, para jurnalis asing ditahan. Dunia barat harus menunjukkan reaksi tegas atas tindakan ini. Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa harus memperlihatkan, bahwa mereka telah belajar dari revolusi yang sedang berlangsung di Tunisia, Mesir dan Libya. Di sana, mereka terlalu lama membiarkan penindasan yang dilakukan para tiran. Hal ini tidak boleh terulang dengan Cina.

Tema lain yang jadi sorotan pers di Eropa adalah kekalahan partai pemerintah dalam pemilu di Irlandia. Harian Belanda de Volkskrant menulis:

Pemilihan umum ini menunjukkan ketidak puasan warga Irlandia terhadap elit politiknya. Pemerintah Irlandia menutup mata terhadap ancaman pertumbuhan ekonomi yang terlalu boros selama tahun 90-an. Tahun 2008, balon pertumbuhan ekonomi pecah. Sektor pembangunan runtuh, sektor perbankan juga terancam ambruk. Untuk menghindari kelumpuhan perbankan, pemerintah mengeluarkan jaminan untuk semua deposit di bank. Ini mengakibatkan defisit besar dalam anggaran negara. Irlandia hanya dapat diselamatkan dari kebangkrutan dengan kredit internasional senilai 85 miliar Euro. Syarat untuk mendapatkan kredit ini: Irlandia harus melakukan langkah penghematan besar-besaran.

Harian Spanyol El Periodico de Catalunya berkomentar:

Partai pemerintah Fianna Fail harus membayar krisis ekonomi Irlandia dengan kekalahan besar dalam pemilu. Hasil pemilu menunjukkan, bahwa para pemilih Irlandia sudah kecewa dengan partai ini, yang dulu menebar janji-janji muluk tentang kemajuan ekonomi. Partai ini sekarang dituduh menjerumuskan Irlandia ke dalam kehancuran. Warga Irlandia kini mengganti pimpinan politiknya. Apakah politik Irlandia secara keseluruhan akan berubah? Kemungkinannya kecil. Sebab partai pemenang pemilu, Fine Gael, termasuk dalam kubu kanan, seperti partai pemerintah sebelumnya. Selain itu, paket penyelamatan Uni Eropa untuk Irlandia tidak memberi banyak ruang gerak bagi pemerintah yang baru.

Hendra Pasuhuk/dpa/afp
Editor: Purwaningsih